
Ilmuwan lacak proses peningkatan oksigen di Bumi selama 2 miliar tahun

Gambar yang dirilis oleh Administrasi Luar Angkasa Nasional China (China National Space Administration/CNSA) ini menunjukkan pemandangan Bumi yang diabadikan oleh wahana Tianwen-2 pada 30 Mei 2025 dan diproses oleh tim peneliti ilmiah. (Xinhua/CNSA)
Setelah kenaikan kadar oksigen Neoproterozoikum, lautan Bumi yang sebagian besar minim oksigen mengalami rangsangan oksidasi berkala.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim peneliti internasional baru-baru ini mengungkap proses perubahan atmosfer Bumi dari yang semula minim oksigen menjadi kaya oksigen selama sekitar 2 miliar tahun.Tim tersebut merekonstruksi peningkatan kadar oksigen di atmosfer dan interaksi dinamisnya dengan laut dengan cara menganalisis catatan isotop oksigen beresolusi tinggi yang tersimpan dalam mineral sulfat purba, demikian menurut pernyataan yang dirilis pada Kamis (28/8) oleh University of Western Australia (UWA).Penelitian mereka mengungkap tiga episode utama peningkatan oksigen atmosfer, yaitu selama era Paleoproterozoikum (2.500 hingga 1.600 juta tahun lalu), Neoproterozoikum (1.000 hingga 538,8 juta tahun lalu), dan Paleozoikum (538,8 hingga 252 juta tahun lalu), yang kemudian berpuncak pada tingkat yang stabil dan seperti pada era modern sekitar 410 juta tahun lalu."Peningkatan kadar oksigen di atmosfer Bumi sangat penting bagi munculnya kehidupan kompleks yang menghirup oksigen, kelayakhunian planet, dan penciptaan sumber daya alam yang vital," kata Matthew Dodd dari Fakultas Ilmu Kebumian UWA.Penelitian tersebut, yang dipimpin oleh Universitas Teknologi Chengdu China bekerja sama dengan UWA dan telah diterbitkan di Nature, menunjukkan bahwa setelah kenaikan kadar oksigen Neoproterozoikum, lautan Bumi yang sebagian besar minim oksigen mengalami rangsangan oksidasi berkala.Peristiwa tersebut mengakibatkan pergeseran isotop karbon, sulfur, dan oksigen yang tersinkronisasi selama ratusan juta tahun, yang menunjukkan bahwa peningkatan oksigen atmosfer berulang kali memicu oksidasi laut transien."Temuan ini memberikan kerangka kerja lingkungan untuk memahami asal-usul dan evolusi kehidupan di Bumi, serta pembentukan endapan mineral dan sumber daya minyak bumi," ujar Dodd.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Inovasi dorong produsen sakelar China jadi penyedia solusi energi global
Indonesia
•
28 May 2024

COVID-19 – Ilmuwan teliti hubungan antara sel punca dan virus corona
Indonesia
•
02 Feb 2022

Dua spesies laut baru ditemukan di laut dalam Australia Barat
Indonesia
•
07 Oct 2025

Astronom deteksi pemanasan awal alam semesta sebelum terbentuknya bintang
Indonesia
•
02 Oct 2025


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
