
Setelah bertahun-tahun menyusut, massa es Antarktika mendadak bertambah 695 miliar ton, apa yang sebenarnya terjadi?

Foto yang diabadikan pada 17 Desember 2019 oleh Yoshihiro Nakayama, salah satu peneliti dalam studi ini, memperlihatkan pemandangan Lempeng Es Totten di Antarktika Timur. (Xinhua/Yoshihiro Nakayama)
Qingdao, China (Xinhua/Indonesia Window) – Pembalikan sementara dalam tren penyusutan massa lapisan es Antarktika dari Juli 2021 hingga April 2023 diketahui berkaitan dengan pemanasan selama beberapa tahun (multitahun) di wilayah perairan kolam hangat tropis (tropical warm pool) yang membentang di Samudra Pasifik bagian barat dan Samudra Hindia bagian timur, ungkap sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti dari China, Amerika Serikat, Jepang, Belgia dan Hongaria.
Data dari satelit yang memantau perubahan gravitasi Bumi menunjukkan bahwa Lapisan Es Antarktika mengalami penambahan massa sekitar 695 miliar ton selama periode tersebut.
Perkembangan ini merupakan penambahan massa terbesar sejak pencatatan satelit dimulai pada 2003.
Menurut studi yang telah diterbitkan secara daring di jurnal Nature pada Rabu (19/8) tersebut, fenomena itu sempat menghentikan sementara tren penyusutan jangka panjang yang rata-rata mencapai sekitar 140,5 miliar ton per tahun antara 2003 hingga 2024.
"Hilangnya massa lapisan es Antarktika menjadi penyumbang utama kenaikan permukaan laut global dalam beberapa dekade terakhir, meningkatkan risiko banjir rob dan memperparah kerusakan akibat gelombang badai bagi masyarakat pesisir di seluruh dunia. Namun, para ilmuwan tidak mengetahui alasan lapisan es tersebut memperoleh begitu banyak massa selama kurun waktu dua hingga tiga tahun," ujar Wang Yunhe, penulis utama studi tersebut yang juga peneliti di Institut Oseanologi, Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).
Studi ini menemukan sekitar 68 persen dari peningkatan massa itu terkonsentrasi di wilayah Queen Mary Land-Wilkes Land di Antarktika Timur. Penyebab langsungnya adalah hujan salju lebat terus-menerus di wilayah tersebut. Namun, pemicu iklim yang mendasarinya berasal dari jarak ribuan kilometer jauhnya.
Para peneliti menelusuri asal-usul hujan salju yang tidak biasa itu hingga ke pemanasan terus-menerus di kolam hangat tropis, sebuah wilayah perairan hangat sangat luas, membentang melintasi Samudra Pasifik bagian barat dan Samudra Hindia bagian timur yang mengandung sebagian air laut terhangat di Bumi.
Dari 2021 hingga 2023, pemanasan memicu gelombang berskala besar di atmosfer yang merambat sejauh ribuan kilometer menuju Antarktika.
Di sana, gelombang tersebut mengubah pola angin dan mengarahkan udara lembap dari wilayah lintang menengah Samudra Hindia menuju Queen Mary Land-Wilkes Land. Dampaknya berupa hujan salju lebat terus-menerus, yang menambah massa es secara signifikan pada lapisan es tersebut.
"Namun, perlambatan sementara ini tidak membalikkan tren penyusutan jangka panjang pada massa lapisan es Antarktika, dan Antarktika Barat tetap menjadi wilayah utama yang terus mengalami penyusutan massa," kata Wang.
"Memahami bagaimana massa es Antarktika berubah membantu para ilmuwan memproyeksikan kenaikan permukaan laut secara lebih baik. Proyeksi yang lebih andal dapat membantu masyarakat pesisir mempersiapkan diri dalam menghadapi banjir yang semakin sering terjadi dan dampak kerusakan yang lebih parah akibat gelombang badai pada rumah, jalan, dan infrastruktur lainnya," ujarnya.
"Perencanaan tersebut perlu memperhitungkan kenaikan permukaan laut jangka panjang maupun fluktuasi iklim alami jangka pendek," tambah Wang.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China tanam tape grass untuk burung musim dingin di danau terbesarnya
Indonesia
•
14 Mar 2023

Google Chrome akan blokir situs ‘pop-up’ yang mengganggu
Indonesia
•
10 Jun 2022

Sampel Chang'e-6 buktikan adanya ‘lautan magma’ pada tahap awal pembentukan Bulan
Indonesia
•
01 Mar 2025

Filipina peringatkan soal potensi suhu udara "berbahaya" hingga 51 derajat
Indonesia
•
12 Apr 2024


Berita Terbaru

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026

Dibekali kamera 200MP, Huawei nova 16s Series 5G resmi meluncur di Indonesia
Indonesia
•
22 Oct 2026
