
Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik

Foto kombinasi yang diabadikan pada 16 Oktober 2026 ini menunjukkan bahan-bahan untuk membuat hidangan 'peach gum', antara lain kurma merah, goji, 'peach gum', biji teratai, jamur salju, gula batu, dan kundur (kiri), serta proses memasak 'peach gum' (kanan) di Tangerang. (Xinhua/Noviyanti)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Getah pohon yang bening dan kenyal ternyata dapat diolah menjadi hidangan penutup.
Dikenal sebagai peach gum, bahan yang berasal dari batang dan cabang pohon persik ini dapat dipadukan dengan jamur salju, kurma merah, kundur, leci, goji, biji teratai, dan gula batu menjadi sajian manis yang dapat dinikmati hangat maupun dingin.
Sebelum diolah, peach gum perlu direndam sekitar 12 jam hingga mengembang dan melunak. Setelah dibersihkan, getah tersebut dimasak bersama bahan-bahan pelengkap dengan api kecil selama sekitar dua jam. Teksturnya yang kenyal menyerupai jeli memberikan sensasi tersendiri saat disantap.
Tekstur yang kenyal dan perpaduan bahan pelengkap membuat peach gum menawarkan pengalaman kuliner yang berbeda.
"Awalnya, saya mengira rasanya akan seperti jamu karena bahan-bahan yang digunakan terkesan herbal. Ternyata, rasanya enak dan ringan," kata Annisa (35), seorang pekerja kantoran di Jakarta yang baru pertama kali mencoba peach gum.
Sementara itu, rekan Annisa yang bernama Angela (33), mengatakan bahwa peach gum terasa menyegarkan dan memiliki beragam isian. "Saya tidak terlalu mengenal bahan-bahannya, tetapi menurut saya, hidangan ini unik."
Namun, di balik anggapan bahwa peach gum merupakan makanan yang menyehatkan, seberapa besar manfaatnya bagi tubuh? Dan apakah manfaat kesehatannya telah terbukti secara ilmiah?
Xinhua pada Ahad (11/10) berbincang dengan Milda Hasna, S.Gz., ahli gizi lulusan Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang berkecimpung dalam konseling dan edukasi gizi.
Milda menjelaskan bahwa peach gum mengandung polisakarida, yakni karbohidrat kompleks yang tersusun dari banyak unit gula. Meski demikian, sejumlah klaim kesehatan tentang bahan pangan ini masih membutuhkan pembuktian ilmiah lebih lanjut.
Didominasi polisakarida, mengandung senyawa fenolik
Peach gum merupakan getah dari batang dan cabang pohon persik yang umumnya berwarna kekuningan atau kemerahan.
Selain polisakarida, bahan ini mengandung protein, polifenol, mineral, dan asam amino. Protein membantu membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, sementara mineral seperti seng dan fosfor dibutuhkan untuk mendukung berbagai fungsi tubuh.
Penelitian Meng Liu dan rekan-rekannya yang diterbitkan pada 2023 dalam jurnal Scientia Horticulturae dengan judul ‘Comparative study on physicochemical properties of thirteen peach gums from different varieties’, menyebutkan bahwa polisakarida dapat mencakup hingga sekitar 80 persen dari total karbohidrat dalam peach gum.
Penelitian itu juga mengidentifikasi polifenol atau senyawa fenolik, yaitu kelompok senyawa alami yang terdapat pada tumbuhan. Sebagian senyawa ini memiliki aktivitas antioksidan, yakni kemampuan membantu menetralkan molekul reaktif yang dapat merusak sel jika jumlahnya berlebihan.
Namun, keberadaan polisakarida dan senyawa yang berpotensi menjadi antioksidan tidak otomatis membuktikan bahwa peach gum dapat mencegah penyakit atau memberikan manfaat kesehatan tertentu.
Penelitian komposisi menunjukkan kandungan suatu bahan, tetapi tidak serta-merta membuktikan dampaknya setelah dikonsumsi manusia.
Artikel Liu dan rekan-rekannya juga merangkum studi terdahulu yang menyebut polisakarida peach gum berpotensi mencegah tingginya kadar gula dan lemak darah.
Sementara itu, penelitian di jurnal Molecules pada 2023 menemukan bahwa polisakarida peach gum dapat membantu memulihkan kerusakan kulit akibat paparan sinar ultraviolet B (UVB). Namun, uji tersebut dilakukan pada sel kulit manusia di laboratorium dan pada mencit tak berbulu, bukan pada manusia.
Sumber kolagen?
Peach gum kerap dikaitkan dengan perawatan kulit dan berbagai manfaat kesehatan karena kandungan polisakarida serta polifenolnya. Namun, menurut Milda, bukti ilmiah yang secara khusus mendukung klaim tersebut masih terbatas.
Diperlukan penelitian lebih lanjut, termasuk uji klinis pada manusia, untuk memastikan apakah konsumsi peach gum benar-benar memberikan manfaat kesehatan tertentu. Karena itu, bahan pangan ini sebaiknya dinikmati sebagai variasi hidangan penutup, bukan dianggap sebagai makanan yang dapat mencegah penyakit atau menggantikan pola makan seimbang.
Sementara itu, klaim "kaya kolagen" tidak sejalan dengan komposisi peach gum. Komisi Kesehatan Nasional (National Health Commission/NHC) China menyebut kandungan gizi utamanya adalah serat pangan, polisakarida, air, protein, dan vitamin.
Kolagen merupakan protein, sedangkan kadar protein peach gum sangat kecil. Penelitian Ding dan rekan-rekannya pada 2019, yang dikutip dalam sebuah artikel di jurnal Scientia Horticulturae, mencatat kadar protein peach gum hanya sekitar 0,11 persen.
Sebagai pembanding, Harvard Health Publishing dari Sekolah Kedokteran Harvard menyebut kolagen dari makanan dapat diperoleh antara lain dari kaldu tulang serta kulit ayam dan ikan, itu pun dalam jumlah yang tidak banyak.
Perhatikan pola konsumsi
Dari sisi konsumsi, Milda menilai peach gum dapat dinikmati dengan memperhatikan porsi, cara pengolahan, serta bahan tambahan yang digunakan.
"Dilihat dari kandungannya, peach gum sebetulnya aman dikonsumsi oleh semua usia dengan tetap memperhatikan porsi dan bahan tambahan makanan yang dikonsumsi," ujar Milda.
Meski demikian, teksturnya yang kenyal perlu menjadi perhatian, khususnya ketika disajikan kepada anak-anak dan lansia. Tekstur tersebut berpotensi menyulitkan proses menelan apabila tidak disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu.
Karena itu, pengolahan dan penyajian peach gum sebaiknya mempertimbangkan usia serta kemampuan mengunyah dan menelan konsumen. Bagi orang yang memiliki gangguan menelan, kehati-hatian ekstra diperlukan.
Sementara itu, bagi penderita diabetes, perhatian utama terletak pada kandungan gula dalam olahan peach gum.
Milda menyarankan agar konsumen menghindari penambahan gula pasir atau sirop secara berlebihan karena dapat meningkatkan asupan gula dan berisiko menyebabkan lonjakan kadar gula darah.
Anggapan bahwa makanan yang disebut sehat harus dikonsumsi setiap hari juga tidak sepenuhnya tepat.
Menurut Milda, peach gum tidak perlu menjadi menu harian karena penggunaannya lebih sesuai sebagai salah satu pilihan camilan, bukan pengganti makanan utama.
Prinsip terpenting dalam menjaga kesehatan melalui makanan adalah menerapkan pola makan yang beragam dan seimbang. Tubuh membutuhkan berbagai zat gizi yang berasal dari sumber makanan berbeda, sehingga tidak bergantung pada satu bahan pangan saja.
Peach gum dapat melengkapi variasi menu, tetapi tetap perlu disandingkan dengan makanan lain yang menyediakan protein, vitamin, mineral, lemak sehat, dan serat.
Dengan pendekatan tersebut, konsumen dapat menikmati peach gum tanpa menempatkannya secara berlebihan dalam pola makan sehari-hari.
Hindari tergiur klaim
Sebelum membeli peach gum, konsumen juga perlu memperhatikan kualitas dan kebersihan produk. Proses perendaman serta pemasakan harus dilakukan dengan baik agar bahan siap dikonsumsi secara aman.
Bahan tambahan dalam produk jadi juga patut diperiksa, terutama jika peach gum telah diolah menjadi dessert dengan tambahan pemanis, sirop, atau bahan lainnya.
Milda menyarankan konsumen untuk memilih produk yang telah memiliki izin edar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sesuai kategori produknya. Informasi pada kemasan perlu diperhatikan, termasuk komposisi, petunjuk pengolahan, dan keterangan lain yang relevan.
Selain itu, konsumen sebaiknya tidak langsung memercayai klaim kesehatan yang menjanjikan manfaat luar biasa tanpa dukungan bukti ilmiah yang memadai.
Memahami perbedaan antara potensi manfaat dan manfaat yang telah terbukti menjadi langkah penting agar konsumen dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih objektif.
Kabar baiknya, peach gum tetap bisa menjadi bagian dari camilan yang lebih bernutrisi jika dipadukan dengan bahan makanan yang tepat.
Selama ini, peach gum banyak diolah menjadi dessert bersama kurma merah, jamur salju, kundur, leci, goji, biji teratai dan chia seed. Hidangan tersebut kerap disajikan dingin dengan tambahan air gula atau sirop.
Untuk menjadikannya pilihan camilan yang lebih seimbang, Milda menyarankan agar penggunaan gula tambahan dibatasi. Rasa manis dapat disesuaikan dengan selera tanpa harus mengandalkan sirop atau air gula dalam jumlah berlebihan.
Saran itu sejalan dengan anjuran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yang merekomendasikan konsumsi gula paling banyak 50 gram atau sekitar empat sendok makan per orang per hari. Gula batu, sirop, kurma merah, dan buah kering dalam satu porsi hidangan peach gum dapat ikut menambah asupan gula harian tersebut.
Peach gum juga bisa dimanfaatkan sebagai pugasan (topping) minuman smoothie. Misalnya, smoothie mangga atau buah lainnya dapat dipadukan dengan Greek yoghurt, susu, atau bubuk protein whey sebagai sumber protein. Chia seed atau biji selasih dapat ditambahkan sebagai pilihan pelengkap, sedangkan kacang-kacangan dapat memberikan lemak tak jenuh dan menambah variasi tekstur.
Kombinasi tersebut membuat camilan lebih beragam dari sisi rasa dan kandungan gizi. Meski begitu, komposisi dan porsinya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang.
Pada akhirnya, peach gum dapat dinikmati sebagai variasi makanan. Memahami kandungan gizinya, menyikapi klaim kesehatan secara kritis, serta memperhatikan porsi dan bahan tambahan merupakan langkah penting untuk mengonsumsinya secara bijak.
Selesai
Penulis: Noviyanti
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Agustus terpanas ketiga secara global tercatat bulan lalu
Indonesia
•
11 Sep 2025

Penelitian: Venus tak pernah punya lautan
Indonesia
•
14 Oct 2021

Fokus Berita – Misi Chang'e-6 tunjukkan tekad China dalam jalankan kerja sama antariksa internasional
Indonesia
•
09 Jun 2024

Sampel Chang'e-6 ungkap adanya lonjakan kembali pada kekuatan medan magnet Bulan
Indonesia
•
24 Dec 2024


Berita Terbaru

Dibekali kamera 200MP, Huawei nova 16s Series 5G resmi meluncur di Indonesia
Indonesia
•
22 Oct 2026

Feature – Karya AI terjual 19,4 miliar rupiah, apakah ini bisa disebut karya seni?
Indonesia
•
21 Oct 2026

Mikroskop nirkabel 1 gram mampu rekam 8.500 ‘neuron’ sekaligus
Indonesia
•
21 Oct 2026

NASA kirim ‘rover’ VIPER ke Kutub Selatan Bulan pada 2027 untuk mencari air
Indonesia
•
21 Oct 2026
