
Feature – Pengungsi Lebanon terjebak di antara harapan dan trauma perang di tengah serangan Israel

Anak-anak dari Lebanon terlihat setelah tiba di perlintasan perbatasan Jdeidat Yabous di antara Suriah dan Lebanon pada 15 Oktober 2024. (Xinhua/Ammar Safarjalani)
Serangan Israel yang tak berkesudahan telah membawa dampak buruk bagi warga Lebanon yang tidak bersalah, terutama para wanita dan anak-anak.
Damaskus, Suriah (Xinhua/Indonesia Window) – Haidar Abu Ali dan keenam anaknya memulai perjalanan berbahaya mereka dengan berjalan kaki melalui jalan-jalan di pinggiran selatan Beirut, ketika teriakan minta tolong bergema pascaserangan udara Israel."Pikiran yang paling menakutkan adalah melihat anak-anak saya mati di depan mata saya," kenang Abu Ali, yang masih dihantui rasa takut yang mencengkeramnya saat mereka melarikan diri dari zona bahaya."Tak ada mobil, tak ada transportasi, tak ada apa-apa. Kami berjalan kaki, berdoa demi keselamatan, berharap kami tidak akan terjebak dalam serangan lain," kata Abu Ali, yang merupakan seorang duda berusia 45 tahun, kepada Xinhua di tempat penampungan pengungsi di wilayah pedesaan ibu kota Damaskus.Kekerasan yang meningkat dan serangan tanpa henti membuat Abu Ali tidak punya pilihan selain meninggalkan kehidupan yang dijalaninya."Saya tidak pernah menduga akan meninggalkan rumah saya," kata Abu Ali. "Namun saat pengeboman sampai di depan pintu rumah kami, tidak ada pilihan lain. Kami pergi tanpa membawa pakaian selain yang kami kenakan, hanya mengenakan sandal."Dalam perjalanannya, Abu Ali mengatakan bahwa dia berjuang untuk tetap tenang di depan anak-anaknya, sementara dunianya hancur di sekelilingnya."Kami bisa mendengar jeritan orang-orang di sekitar kami, dan saya berdoa agar kami bisa selamat. Semua ini tidak bisa saya jelaskan, tidak ada manusia yang pantas menyaksikan peristiwa seperti itu," katanya.Bagi Abu Ali, memori yang paling menghantuinya adalah pemandangan anak-anak yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan yang runtuh. "Saya berharap mati saja daripada melihat pemandangan itu," katanya. "Namun, perhatian utama saya adalah menyelamatkan anak-anak saya. Mereka adalah hal yang paling berharga dalam hidup saya. Saya tidak sanggup membayangkan sesuatu terjadi pada mereka."Sejak tiba di Suriah, Abu Ali dan keluarganya hidup dalam kondisi darurat, dan mereka tidak yakin apakah rumah mereka di Beirut masih berdiri. "Kami mencuci pakaian yang kami kenakan saat mengungsi dan menunggu pakaian itu kering sebelum memakainya lagi. Kami tidak punya uang, tidak punya apa-apa," jelasnya. "Kami bahkan tidak tahu apakah rumah kami masih ada di sana atau sudah hancur."Terlepas dari berbagai kesulitan itu, Abu Ali tetap teguh dalam tekadnya untuk kembali ke rumah. "Saya tidak ingin berada di tempat lain. Bahkan jika rumah saya hancur, saya akan tinggal di tenda di sebelahnya, setidaknya saya akan berada di tanah air saya, dengan harga diri saya yang utuh," katanya.
Asap membubung pascaserangan udara Israel di sebuah lokasi di wilayah Lebanon selatan pada 13 Oktober 2024. (Xinhua/Gil Cohen Magen)
Foto yang diabadikan pada 13 Oktober 2024 ini menunjukkan kehancuran akibat serangan udara Israel di Nabatieh, Lebanon. Jumlah korban tewas akibat serangan udara Israel di Lebanon sejak 8 Oktober 2023 telah mencapai 2.306 orang, dengan jumlah korban luka-luka mencapai 10.698 orang, ungkap Kementerian Kesehatan Lebanon pada Ahad (13/10). (Xinhua/Ali Hashisho)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Studi: Memiliki ponsel pintar di usia sebelum dewasa berkaitan dengan penurunan kondisi kesehatan
Indonesia
•
02 Dec 2025

WHO: Penyakit mematikan iringi kekeringan di Somalia
Indonesia
•
09 Jul 2022

Jumlah warga Palestina yang tewas di Gaza bertambah jadi 24.285
Indonesia
•
17 Jan 2024

COVID-19 – Mayoritas kasus kematian di AS adalah warga lansia
Indonesia
•
12 May 2022


Berita Terbaru

Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik
Indonesia
•
11 May 2026

Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia
Indonesia
•
11 May 2026

Delegasi Universitas Negeri Yogyakarta kunjungi universitas di Beijing, bahas pertukaran akademis
Indonesia
•
10 May 2026

Seluruh penumpang kapal terdampak hantavirus menjadi kontak "berisiko tinggi"
Indonesia
•
10 May 2026
