Penggemar sepak bola diimbau waspadai penipuan tiket jelang Piala Dunia

Sebuah replika raksasa dari bola resmi pertandingan Piala Dunia FIFA 2026 dipampang di dalam sebuah toko di Vancouver, Kanada, pada 26 April 2026. (Xinhua/Liang Sen)

Korban penipuan tiket kehilangan rata-rata 215 poundsterling, meskipun beberapa korban kehilangan jauh lebih banyak. Total uang korban yang hilang meningkat 42 persen dibandingkan periode enam bulan yang sama setahun sebelumnya.

 

London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) – Para penggemar klub-klub Premier League Arsenal, Liverpool, Chelsea, dan Manchester United menjadi target utama para penipu yang menjual tiket palsu yang tidak berharga.

Sebuah laporan baru yang dirilis pada Senin (11/5) oleh Kementerian Dalam Negeri Inggris, yang kerap disebut Home Office, menyebutkan bahwa penipuan tiket meningkat 36 persen dalam enam bulan terakhir dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Laporan tersebut mengatakan korban penipuan tiket kehilangan rata-rata 215 poundsterling, meskipun beberapa korban kehilangan jauh lebih banyak. Total uang korban yang hilang meningkat 42 persen dibandingkan periode enam bulan yang sama setahun sebelumnya.

*1 poundsterling = 23.686 rupiah

"Beberapa penggemar membayar ratusan atau bahkan ribuan poundsterling untuk mendapatkan 'tiket musiman' atau kursi VIP yang tidak pernah ada," tambah laporan itu.

"Para penggemar sepak bola yang antusias diperkirakan membayar jauh lebih banyak untuk tiket Piala Dunia yang mahal, yang berarti potensi kerugian bagi korban bisa sangat besar - terutama bagi mereka yang juga mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi melintasi Atlantik."

Hampir sepertiga, atau 32 persen, dari semua penipuan tiket berkaitan dengan sepak bola. Para penipu diperkirakan akan memanfaatkan penonton mancanegara untuk pertandingan terbesar tahun ini.

Peringatan Home Office kepada para penggemar sepak bola ini disampaikan hanya beberapa pekan sebelum Piala Dunia FIFA dibuka di Amerika Utara.

Home Office memimpin kampanye ‘Hentikan! Waspadai Penipuan’ (Stop! Think Fraud) bersama lembaga-lembaga penegak hukum, bank, perusahaan teknologi, pengecer, dan badan amal. Kampanye tersebut bertujuan untuk membekali individu dan usaha kecil dengan alat dan pengetahuan yang mereka butuhkan untuk melindungi diri dari penipuan.

Home Office juga mengeluarkan daftar periksa untuk membantu penggemar mengidentifikasi apakah mereka sedang ditipu.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait