Sejarah haji yang ternoda

Jamaah haji 1443 Hijriah/2022 menunaikan sholat di Masjidil Haram Makkah pada Rabu (6/7/2022). (SPA)

Barangsiapa yang melakukan ibadah haji dengan ketulusan hati dan mengikuti petunjuk Nabi ﷺ, maka Allah ﷻ akan hapuskan dosa-dosanya dan tidaklah ada balasan bagi haji mabrur selain surga.

 

Bulan Dzulhijjah erat kaitannya dengan manasik haji. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa ada sepenggal sejarah yang menyebabkan ibadah haji ternoda?

Singkat cerita dalam sejarah ibadah haji yang ternoda, setelah Allah ﷻ memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam membangun Ka’bah di Makkah dan menyeru manusia untuk beribadah haji. Beliau selalu menunaikan ibadah haji setiap tahun. Selanjutnya, kegiatan ibadah itu dilanjutkan oleh anak-anak dan keturunannya. 

“Dan (ingatlah), ketika KAMI tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), ‘Janganlah engkau mempersekutukan AKU dengan apa pun dan sucikanlah rumah-KU bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud’.” (Terjemahan QS. Al-Hajj: 26)

sejarah haji ternoda
Jamaah haji berduyun-duyun menuju Mina untuk melewatkan Hari Tarwiyah atau hari pelepas dahaga yang menandai dimulainya prosesi ibadah haji pada Kamis (7/7/2022). (SPA)

Seiring berjalannya waktu, kejahilan mulai mendominasi kehidupan manusia dengan menyalahi fitrahnya, sehingga menggantungkan hidupnya kepada berhala-berhala. Hingga akhirnya berhala-berhala itu dimasukkan ke tanah haram. 

Ka’bah pun mulai kehilangan kesuciannya. Berhala-berhala sesembahan itu dipancangkan di sekeliling bangunan suci ini hingga ke bagian dalamnya. Dinding Ka’bah dipenuhi dengan tulisan-tulisan syair dan gambar-gambar. Kondisinya amat jauh dari kesan terhormat sebagai tempat peribadatan. 

Orang-orang yang jahil beribadah kepada berhala dan menyembelih di dekatnya sebagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada berhala tersebut. 

Ucapan talbiah mereka, “Wahai Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu, melainkan sekutu yang Engkau punya, Engkau memiliki apa yang dia punya.”

Ibadah mereka dengan cara bersiul dan bertepuk tangan. Laki-laki dan perempuan thawaf di Ka’bah dengan bertelanjang. Mereka tanggalkan pakaian karena pakaian itu membawa banyak dosa. 

Para wanita tersebut hanya menutupi kemaluannya dengan sehelai kain seraya berkata, “Pada hari ini tampaklah sebagian atau seluruhnya (tubuh); namun apa saja yang terlihat, maka aku tidak membolehkan (dijamah).”

Kondisi yang kelam tersebut amat jauh dari ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dan ini terjadi selama rentang waktu yang sangat panjang, menjadikan sejarah ibadah haji yang sangat ternoda kala itu.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pernah berdoa, “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al-Quran) dan Al-Hikmah (Assunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Terjehamahan QS. Al-Baqarah: 129) 

Sebagai jawaban atas doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, Allah ﷻ mengutus Nabi Muhammad ﷺ, sang pembaharu agama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. 

Nabi ﷺ mengatakan, “Aku adalah perwujudan doa bapak moyangku”. Selama 23 tahun, beliau ﷺ mengajak manusia kembali kepada kemurnian tauhid sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Praktik ibadah haji pun dievaluasi sesuai dengan ketetapan Allah ﷻ.  

“…maka janganlah dia berkata keji (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji…. ” (Terjemahan QS. Al-Baqarah: 197)

Kompetisi syair yang mengelu-elukan nenek moyang mereka akhirnya dihapus. Allah ﷻ berfirman, “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berdzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu, bahkan berdzikirlah lebih dari itu. Maka di antara manusia ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia’, dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa-apa.” (Terjemahan QS. Al-Baqarah: 200)

Jahiliah

Pada zaman jahiliah, darah-darah dan daging hewan sembelihan dilumuri ke dinding Ka’bah. Pada zaman Nabi Muhammad ﷺ, ritual tersebut dihapus. 

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-NYA adalah ketakwaan kamu.” (Terjemahan QS. Al-Baqarah: 37) 

Nabi ﷺ juga menghentikan praktik thawaf dengan bertelanjang. 

“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?” (Terjemahan QS. Al-A’raf: 32) 

Selain itu, pada zaman jahiliah dulu, orang-orang berhaji tetapi dengan tidak memiliki bekal apa-apa, karena salah mengartikan tawakkal. Sehingga selama perjalanan haji, mereka meminta-minta makanan.

Allah ﷻ menegaskan kepada siapa yang hendak melakukan ibadah haji, “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Terjemahan QS. Al-Baqarah: 197)

Allah ﷻ telah menyempurnakan agama Islam di masa Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi dan rasul terakhir, sehingga tidak ada lagi perubahan tata cara ibadah setelah beliau tiada. 

Beberapa syariat haji yang ada di zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam telah Allah ﷻ hapus, semata-mata karena ada hikmah di dalamnya.

Perjalanan haji memang butuh kesiapan mental, jiwa, serta materi, karena tawakkal tidak meniadakan ikhtiar (usaha dan kerja). 

Namun, barangsiapa yang melakukan ibadah haji dengan ketulusan hati dan mengikuti petunjuk Nabi ﷺ, maka Allah ﷻ akan hapuskan dosa-dosanya dan tidaklah ada balasan bagi haji mabrur selain surga.

“Barangsiapa berhaji karena Allah, lantas dia tidak berbuat keji dan melakukan kefasikan, maka dia pulang bagaikan hari di mana dia dilahirkan ibunya.” (HR. Al-Bukhâri no. 1424)

Disarikan dari berbagai kitab tafsir

Penulis: Nayz

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan