
Ribuan orang demo di Portugal, tuntut pemerintah atasi krisis perumahan

Jaringan transportasi trem Lisbon sudah ada sejak abad ke-19. Seiring dengan perluasan sistem metro dan bus modern di seluruh Eropa selama abad ke-20, banyak kota membongkar jaringan trem lama mereka. Lisbon mempertahankan sebagian besar sistem tremnya, terutama karena alasan kebutuhan alih-alih sentimen.
Lisbon, Portugal (Xinhua/Indonesia Window) – Ribuan orang berpawai di Lisbon, Porto, dan Coimbra pada Sabtu (24/10) dalam gelombang terbaru unjuk rasa menuntut hak atas perumahan yang kini telah berlangsung hampir tiga pekan. Gerakan masyarakat sipil terus menekan pemerintah agar mengambil langkah-langkah darurat guna mengatasi krisis perumahan.
Di Lisbon, para pengunjuk rasa berkumpul di sepanjang Avenida da Liberdade di belakang sebuah truk bak terbuka yang memutar musik. Polisi menutup lalu lintas seiring bertambahnya jumlah massa.
Sejumlah spanduk bertuliskan ‘Perumahan adalah hak, rumah adalah tempat untuk ditinggali" dan "Berikan jalan bagi mereka yang menginginkan rumah untuk ditinggali’.
Di Porto, ratusan orang berkumpul di Praca da Batalha sebelum berpawai melintasi pusat kota menuju Praca D. Joao I, titik utama gerakan tersebut sejak dimulai dua pekan lalu.
Pihak penyelenggara membagikan selebaran yang menjelaskan alasan unjuk rasa serta "panduan bagi pengunjuk rasa" yang mengimbau mereka agar tetap tenang dan memberikan petunjuk tentang tindakan yang perlu diambil jika terjadi konfrontasi dengan pihak berwenang.
Gerakan tersebut menuntut pemerintah membatalkan undang-undang baru tentang sewa dan mengadopsi serangkaian kebijakan, termasuk larangan pengusiran tanpa tempat tinggal alternatif, larangan bagi dana investasi real estat untuk membeli properti hunian, penambahan jumlah perumahan umum, pembatasan harga sewa, serta pemanfaatan kembali properti kosong untuk keperluan hunian.
Unjuk rasa tersebut diwarnai dua insiden intervensi polisi. Pada 15 Oktober, perkemahan di Porto melaporkan adanya operasi polisi menjelang fajar yang mengakibatkan 39 peserta terluka, dua di antaranya mengalami luka serius, serta satu petugas terluka.
Di Lisbon, pihak berwenang membubarkan perkemahan pengunjuk rasa di lapangan Rossio pada 20 Oktober dan menahan 55 pengunjuk rasa. Mereka dijadwalkan menghadap hakim pada 27 Oktober.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Militer AS berencana bangun pelabuhan sementara di Gaza untuk bantuan kemanusiaan
Indonesia
•
08 Mar 2024

Harga minyak mentah naik lagi saat situasi Selat Hormuz kembali tegang
Indonesia
•
20 Apr 2026

Jumlah korban sipil di Iran dan Lebanon kian bertambah
Indonesia
•
27 Mar 2026

Pengadilan Korsel tolak permintaan pembebasan Presiden Yoon
Indonesia
•
17 Jan 2025


Berita Terbaru

Memaknai visi Xi Jinping tentang tata kelola global melalui metafora
Indonesia
•
25 Oct 2026

Sekitar 410.000 orang ikuti gelombang baru aksi unjuk rasa di Prancis
Indonesia
•
25 Oct 2026

Biaya hidup naik, belanja senjata disorot: Protes meluas di Italia
Indonesia
•
25 Oct 2026

Houthi klaim serang enam kota Arab Saudi dengan rudal dan ‘drone’
Indonesia
•
25 Oct 2026
