Jumlah korban sipil di Iran dan Lebanon kian bertambah

Seorang pria berjalan di antara puing-puing pascaserangan Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, pada 7 Maret 2026. (Xinhua/Bilal Jawich)

Jumlah korban sipil dan kerusakan kian meningkat di Iran dan Lebanon, sementara keluarga pengungsi di Gaza berjuang mengatasi kerusakan akibat hujan lebat dan hambatan pengiriman bantuan yang terus berlanjut.

 

PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Jumlah korban sipil dan kerusakan kian meningkat di Iran dan Lebanon, sementara keluarga pengungsi di Gaza berjuang mengatasi kerusakan akibat hujan lebat dan hambatan pengiriman bantuan yang terus berlanjut, kata badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (26/3).

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) mengatakan bahwa di Iran, jumlah korban dilaporkan di sedikitnya 20 dari total 31 provinsi, dengan jumlah korban tertinggi tercatat di Teheran dan Hormozgan.

Kementerian Kesehatan Iran melaporkan bahwa hingga Rabu (25/3), terdapat 23.000 korban akibat pertempuran, termasuk 1.801 anak-anak dan 4.150 perempuan. Kementerian juga melaporkan bahwa hingga Rabu, tercatat 23 korban jiwa dan 112 korban luka di kalangan tenaga kesehatan.

Hingga Kamis, Perhimpunan Bulan Sabit Merah Iran (Iranian Red Crescent Society/IRCS) melaporkan satu orang tewas dan 14 luka-luka di antara pekerja bantuan. Menurut OCHA, pertempuran telah memaksa orang-orang untuk pindah ke area yang lebih aman, sehingga meningkatkan kerentanan mereka dan sering kali mengganggu akses mereka terhadap dukungan esensial, layanan dasar, dan mata pencaharian.

Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR) mengatakan lebih dari 33.300 warga Iran dilaporkan melintas dari Turkiye kembali ke Iran dan 36.000 orang kembali ke Afghanistan sejak dimulainya perang pada 28 Februari.

OCHA mengatakan bahwa otoritas Iran, dengan dukungan dari IRCS, terus memimpin upaya tanggap darurat, termasuk pencarian dan penyelamatan, layanan medis darurat, serta penyediaan tempat perlindungan sementara. Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP), Dana Anak-Anak PBB (UNICEF), UNHCR, dan Program Pembangunan PBB (United Nations Development Programme/UNDP), bersama mitra-mitra kemanusiaan mereka, turut mendukung bantuan pangan, kesehatan, air, pendidikan, dan bantuan bagi pengungsi.

OCHA mengatakan bahwa di Lebanon, Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon melaporkan total 1.094 orang tewas dan lebih dari 3.000 lainnya terluka. Lebih dari 1 juta orang telah mengungsi, sementara perintah evakuasi masih terus diberlakukan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan terdapat 77 serangan terhadap tenaga kesehatan di Lebanon, termasuk 53 korban tewas dan 117 korban luka. Sedikitnya 50 pusat layanan kesehatan primer dan lima rumah sakit telah ditutup akibat pertempuran, sementara sembilan rumah sakit dan empat pusat layanan kesehatan primer mengalami kerusakan.

Sementara itu, di seluruh Jalur Gaza, yang menghadapi pembatasan bantuan lebih ketat sejak konflik di Timur Tengah mengalami eskalasi, hujan lebat sejak Rabu telah menimbulkan kerusakan pada tempat penampungan dan barang-barang milik pengungsi.

OCHA mengatakan bahwa sejak Rabu, sedikitnya 120 keluarga mengalami tenda atau jenis tempat perlindungan lainnya terendam banjir, hancur, atau rusak.

Namun, lembaga kemanusiaan PBB tersebut mengatakan operasi bantuan, seperti juga sebagian besar upaya bantuan di Gaza, menghadapi berbagai hambatan, termasuk pembatasan impor barang-barang penting serta gangguan pada rantai pasokan.

Lebih lanjut dikatakan OCHA, laporan mengenai penembakan artileri, baku tembak, dan serangan lainnya terus berlanjut. Pada Rabu, sebuah serangan udara menghancurkan 15 tempat perlindungan dan merusak 30 lainnya di lokasi pengungsi di Deir al-Balah, sehingga meningkatkan kekhawatiran atas perlindungan warga sipil.

"Wilayah permukiman harus dilindungi; ini mencakup menghindari penempatan objek militer di dalam atau di dekat permukiman, serta mematuhi larangan terhadap serangan tanpa pandang bulu," kata OCHA.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait