
KTT G7 dibuka di tengah gelombang unjuk rasa besar-besaran

Para pengunjuk rasa turun ke jalan dalam aksi unjuk rasa besar-besaran menentang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok Tujuh (Group of Seven/G7) di Jenewa, Swiss, pada 14 Juni 2026. (Xinhua/Lian Yi)
Evian, Prancis (Xinhua/Indonesia Window) – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok Tujuh (Group of Seven/G7) resmi dibuka pada Senin (15/6) di Kota Evian, Prancis timur, di tengah aksi unjuk rasa besar-besaran.
Menurut agenda KTT yang akan berlangsung selama tiga hari itu, pembahasan akan berfokus pada berbagai isu, termasuk konflik Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, pertumbuhan ekonomi yang seimbang dan berkelanjutan, serta pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Senin menyatakan melalui unggahan di media sosial bahwa selama KTT berlangsung, Prancis akan bekerja sama dengan para "sekutu dan mitra" guna membantu memfasilitasi tercapainya gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan tiba di Evian pada Senin sore waktu setempat.
Sebelum KTT digelar, aksi unjuk rasa besar-besaran digelar di Jenewa, Swiss, pada Ahad (14/6). Aksi tersebut diselenggarakan oleh koalisi ‘No G7’ yang terdiri dari sejumlah kelompok dan organisasi, sebagai bagian dari upaya yang mereka gambarkan sebagai perlawanan terhadap ‘fasisme dan imperialisme.’
Mengutip sumber kepolisian, harian Prancis Le Monde melaporkan bahwa sekitar 20.000 pengunjuk rasa mengikuti aksi tersebut pada Ahad sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Beberapa bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat kepolisian dilaporkan terjadi di sekitar markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa.
Sejumlah toko di kawasan niaga utama dan area sekitar gedung pemerintahan di kota tua Jenewa telah memasang pelindung papan kayu pada etalase mereka sejak pekan lalu, hanya menyisakan celah sempit sebagai akses masuk. Langkah itu dilakukan guna mengantisipasi potensi penjarahan atau vandalisme selama unjuk rasa berlangsung.
KTT G7 memicu kerusuhan besar di Jenewa pada 2003, saat pertemuan itu pertama kali digelar di Evian.
Dalam beberapa hari terakhir, Swiss meningkatkan langkah-langkah keamanan. Otoritas negara itu mengumumkan pengerahan sekitar 4.000 personel militer serta penutupan sebagian besar dari 35 titik perlintasan perbatasannya dengan Prancis. Di sisi lain, Prancis dilaporkan telah memobilisasi sekitar 16.000 polisi dan personel gendarmerie untuk mengamankan penyelenggaraan KTT.
Surat kabar Swiss, Le Temps, mengkritik penyelenggaraan KTT tersebut dengan menyatakan bahwa G7 tidak lagi mencerminkan lanskap geopolitik global saat ini. Media itu juga menilai penyelenggaraan KTT itu "menghancurkan kehidupan warga setempat."
G7 terdiri atas Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang. Tahun ini, Prancis memegang presidensi bergilir kelompok tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Iran kecam tuduhan anti-Teheran dari politisi AS, peringatkan akan adanya "respons keras"
Indonesia
•
11 Oct 2023

Ratusan demonstran di Tunisia protes kemiskinan dan pemerintahan korup
Indonesia
•
24 Jan 2021

Juri putuskan Trump bersalah atas pelecehan seksual dan pencemaran nama baik
Indonesia
•
10 May 2023

Di New South Wales aborsi bukan tindakan kriminal
Indonesia
•
27 Sep 2019


Berita Terbaru

Dua ledakan guncang Riyadh, Houthi Yaman klaim lancarkan serangan besar ke Arab Saudi
Indonesia
•
21 Sep 2026

Iran belum keluar dari Perjanjian Nonproliferasi Nuklir, tapi sikap AS bisa dorong Teheran mundur
Indonesia
•
21 Sep 2026

Korban tewas akibat tanah longsor di Nepal naik jadi 1.403 jiwa, 6.150 orang masih hilang
Indonesia
•
19 Sep 2026

Houthi bantah targetkan Makkah saat konflik dengan Saudi kian memanas
Indonesia
•
19 Sep 2026
