Kepala UNICEF sebut aksi kemanusiaan PBB di Gaza tersisihkan

Warga Palestina mengungsi dari area permukiman al-Tuffah di Gaza City timur pada 29 Juni 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Respons kemanusiaan yang dipimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa di Gaza telah tersisihkan sejak gagalnya gencatan senjata pada Maret lalu, meskipun badan dunia tersebut telah melakukan pekerjaannya dengan baik.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Respons kemanusiaan yang dipimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Gaza telah tersisihkan sejak gagalnya gencatan senjata pada Maret lalu, meskipun badan dunia tersebut telah melakukan pekerjaannya dengan baik, demikian disampaikan oleh Direktur Eksekutif Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) Catherine Russell pada Rabu (16/7)."Selama beberapa bulan terakhir, respons kemanusiaan yang dipimpin PBB telah tersisihkan meskipun faktanya bahwa selama gencatan senjata pada Maret, kami memberikan bantuan secara efisien dan aman," ungkapnya dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB mengenai situasi kemanusiaan di Gaza.Vaksin penting dan perawatan neonatal, layanan gizi yang menyelamatkan nyawa, dan akses terhadap air bersih telah terdampak, tutur Russell. Dirinya meminta para anggota Dewan Keamanan untuk memastikan bahwa UNICEF dan mitra-mitra kemanusiaan diizinkan untuk melakukan pekerjaan mereka."Kami telah membuktikan bahwa kebutuhan pokok, seperti obat-obatan, vaksin, air, makanan, dan nutrisi untuk bayi, dapat menjangkau mereka yang membutuhkan, di mana pun mereka berada, ketika kami memiliki akses yang memadai. Kita sangat membutuhkan kembalinya fungsi jalur bantuan yang dipimpin PBB dengan akses kemanusiaan yang aman dan berkelanjutan melalui semua perlintasan (perbatasan) yang tersedia," kata Russell.Selain itu, Russell menegaskan kembali seruan sekretaris jenderal PBB untuk memastikan bahwa semua pengiriman bantuan didemiliterisasi dan didasarkan pada prinsip-prinsip kemanusiaan, imparsialitas, netralitas, dan independensi.Russell merujuk pada metode militerisasi dalam penyaluran bantuan kemanusiaan yang dilakukan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (Gaza Humanitarian Foundation) yang dijalankan oleh Amerika Serikat. Penyaluran bantuan tersebut dilakukan di empat lokasi di seluruh Gaza di zona militer Israel yang terlarang, dan di sana warga sipil yang kelaparan masuk melalui jalur berpagar di bawah pengawasan kontraktor keamanan bersenjata.Dari 27 Mei hingga 7 Juli, Kantor PBB untuk Hak Asasi Manusia melaporkan bahwa sebanyak 798 warga sipil Palestina, termasuk anak-anak, menjadi korban tewas saat mereka dengan putus asa berusaha mendapatkan makanan di atau dekat lokasi distribusi bantuan dan konvoi kemanusiaan, ungkap Russell.Lebih dari 17.000 anak dilaporkan terbunuh dan 33.000 lainnya terluka di Gaza sejak pecahnya perang pada Oktober 2023, atau rata-rata 28 anak tewas setiap hari, kata Russell. "Coba bayangkan sejenak. Satu kelas penuh anak-anak tewas, setiap hari selama hampir dua tahun."Di Gaza, dampak kekerasan yang dilakukan terhadap anak-anak sungguh sangat besar. Hukum internasional jelas mengatakan semua pihak yang berkonflik harus melindungi warga sipil dan memastikan pengiriman bantuan kemanusiaan yang aman dan tanpa hambatan, tutur Russell, sembari juga menyerukan akses kemanusiaan tanpa hambatan dan gencatan senjata, serta upaya untuk mengakhiri perang.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Fokus Berita - UIN Bandung bahas dinamika medsos dan politik di Asia Tenggara
Indonesia
•
15 Feb 2025

WHO: Krisis tumpang-tindih dorong kesenjangan dalam hal kesehatan
Indonesia
•
02 Aug 2022

COVID-19 – Vaksin Bill Gates dihargai 44 ribu rupiah per dosis
Indonesia
•
26 Aug 2020

Maskapai AS laporkan 1.400 lebih kasus penumpang berperilaku buruk sejak Januari 2024
Indonesia
•
31 Aug 2024
Berita Terbaru

Perlintasan Rafah kembali dibuka, PBB harapkan lebih banyak negara terima pasien dari Gaza
Indonesia
•
03 Feb 2026

Mesir mulai terima pasien dan korban luka dari Gaza via perlintasan Rafah
Indonesia
•
03 Feb 2026

Feature – Menyusuri jejak masa lalu di Pecinan Glodok, dari klenteng, gereja, hingga tradisi teh China
Indonesia
•
02 Feb 2026

Berita buatan AI makin mendominasi, ‘think tank’ Inggris desak pemerintah susun aturan
Indonesia
•
02 Feb 2026
