Resensi buku – Rahasia mendisiplinkan anak tanpa ancaman dan hukuman

Rahasia Mendisiplinkan Anak Tanpa Ancaman dan Hukuman
Gentle Discipline

Judul : Gentle Discipline

“Rahasia Mendisiplinkan Anak Tanpa Ancaman dan Hukuman”

Penulis : Sarah Ockwell-Smith

Penerbit : Bentang

Halaman : XXXI + 319

Tahun Terbit : Cetakan kedua,  Juli 2020

Pertama kali beli karena greget membaca judulnya. Memang bisa ya mendisiplinkan anak dengan cara yang lembut?

Umumnya, disiplin identik dengan kaku dan keras. Dalam kamus Oxford, definisi discipline (saya ambil yang bahasa Inggris karena mengikuti asal bahasa tulisan dalam buku ini) adalah suatu cara untuk melatih seseorang mematuhi peraturan atau perilaku tertentu dengan menggunakan hukuman ketika melakukan pelanggaran.

Akan tetapi Sarah menggunakan definisi lain untuk disiplin yaitu dari kata disciplina, yang diturunkan dari kata Latin discere, artinya belajar.

Jadi secara singkat, gentle discipline adalah pengajaran dengan cara yang lembut.

Lalu apa yang membedakan gentle discipline dengan gaya parenting lainnya?

Dunia parenting  seakan tak ada habisnya dibahas. Terlebih memang yang paling menjadi PR bagi para orangtua yaitu tentang bagaimana cara mendisiplinkan anak tanpa harus ‘omal-omel’ bahkan ‘sental-sentil’, tapi efektif mengubah perilaku anak. Buku ini mungkin bisa menjadi salah satu referensi.

Ditulis oleh Sarah Ockwell-Smith, seorang sarjana psikologi yang kemudian mengambil spesialisasi dalam metode gentle parenting.

Awalnya ragu untuk membaca karena biasanya, buku terjemahan dibacanya terlalu kaku dan ‘agak’ sulit dimengerti. Lain halnya dengan ini. Bahasanya ringan, mudah dimengerti dan penerjemah memberi highlight untuk setiap kalimat yang dirasa penting.

Terdiri atas 15 bab. Bab 1 sampai 5 masih membahas kondisi anak secara umum, sementara di bab 6 sampai 13 dibahas secara spesifik mengenai penanganan kasus-kasus yang sering terjadi pada anak, misalnya menangani kebohongan dan perilaku suka mengumpat.

Pada akhir babnya, Sarah membagi tipsnya untuk mengatasi permasalahan dalam dunia parenting. Lantas apa saja hal-hal yang menarik dalam buku ini?

Diawali dengan pengantar dari penulis. Ada beberapaya gaya parenting yaitu otoriter, permisif, dan otoritatif.

Gentle discipline sesungguhnya mengadopsi gaya parenting otoritatif, yaitu antara mengasuh dan mengendalikan anak. Ketika pantas, anak diberi kendali; ketika tidak,  orangtua yang memegang kendali.

Bab pertama adalah pertanyaan seputar anak, seperti mengapa anak-anak berperilaku buruk. Penting untuk diketahui penyebab seorang anak melakukan hal negatif, karena ini merupakan titik awal untuk memperbaikinya. Dan yang menjadi kunci untuk memperbaiki perilaku anak adalah kerja sama dengan mereka, bukan melawannya.

Sarah menegaskan dalam bukunya, “otak manusia berbeda secara dramatis dari bayi ke remaja ke orang dewasa, yang berarti tidak realistis jika Anda mengharapkan anak-anak berperilaku dengan cara yang sama dengan orang dewasa.

Bab kedua dilanjutkan dengan pertanyaan bagaimana anak-anak belajar. Kebanyakan orangtua menganggap bahwa dengan hukuman (punishment) dan pemberian hadiah (reward), seorang anak dapat belajar menjadi lebih baik. Kenyataannya justru sebaliknya. Operant conditioning yang demikian hanya bisa dijalankan sesekali saja. Jika terus menerus, maka anak akan berlaku baik asal ada hadiah atau menjauhi suatu perilaku karena adanya hukuman. Jadi,  tidak ada motivasi intrinsik dari si anak. Ketika stimulus ekstrinsiknya hilang, maka anak akan kembali berperilaku ‘semaunya’. Intinya adalah, “Jika Anda ingin anak-anak berperilaku lebih baik, Anda harus membuat mereka merasa lebih baik,” jelas Sarah.

Hierarki Maslow menjadi acuan basic needs seorang anak untuk mencapai aktualisasi diri.

Jika kebutuhan akan cinta, kasih sayang, dan harga diri terlewati, jangan harap anak bisa mencapai aktualisasi dirinya. Menjadi panutan adalah kunci mengubah perilaku anak.

“Sebelum kita mulai berpikir untuk mengubah anak-anak kita, kita harus lebih dulu berpikir untuk mengubah diri kita sendiri,” tulis Sarah.

Yang juga menarik dari buku ini adalah gaya penulisan Sarah. Ia selalu mengawali dengan pertanyaan ‘mengapa’ pada setiap pembahasan kasus. Ini memang penting, mengingat kita perlu mengetahui penyebab agar permasalahan bisa ditangani dengan tepat. Salah satunya adalah tentang kebohongan pada anak.

Ternyata ada beberapa alasan yang menyebabkan seorang anak berbohong, yaitu karena mereka mencintai kedua orangtuanya (ia tidak mau mengecewakan mereka);  karena mereka takut dihukum; karena mereka tidak mau memercayakan kebenarannya kepada orangtua; dan karena mereka merasa buruk tentang hal yang sesungguhnya.

Sebetulnya banyak sekali hal-hal menarik dan temuan-temuan baru yang ‘aha’ dari buku ini. Dari mulai pemberian pujian yang bisa menyebabkan masalah di kemudian hari, hingga pendisiplinan di sekolah yang kadang keliru dan dapat merusak mental dan harga diri anak.

Akan tetapi, dari seluruh bab, bab 14 adalah yang paling penting dan paling saya suka dari buku ini.

Setelah membaca awal-awal bab, saya coba berkaca. Terlintas dalam benak, “am I failing as a parent?”.

Semua orangtua pernah melakukan kesalahan. Akan tetapi, dari situlah kita bisa mengajari anak-anak bagaimana cara kita menangani kekecewaan, kegagalan,  dan kesalahan.

Sarah menulis, “kita bisa mengajari mereka keanggunan, kejujuran, dan kerendahan hati.”

Sarah juga mengajarkan tentang target 70/30:70 persen dari waktu yang ada, kita usahakan untuk menjadi orangtua terbaik dan tidak terlalu mengkhawatirkan sisa waktu yang 30 persen.

Target tersebut adalah awal dan bukanlah batasan. Namun, kita bisa terus mencoba untuk menjadi lebih baik di sisa waktu tersebut. 70/30 adalah ideal dan tidak muluk-muluk yang dibuat untuk memberikan motivasi pada setiap orangtua dalam menjalankan gentle discipline.

Tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan buku ini. Seperti kebanyakan buku parenting, penanganan pada kasus-kasusnya selalu mengambil jalan pintas dan terkesan sangat mudah untuk dilakukan. Kenyataannya respon setiap anak berbeda-beda bergantung pada jenjang usianya. Antara balita (toddler), anak-anak (kids) dan remaja (adolescent). Begitu pula dengan penanganannya. Inilah yang tidak dijangkau oleh Sarah.

Jika Anda menginginkan anak Anda berubah secara instan, maka buku ini bukanlah jawabannya.

Gentle discipline sangat mengahargai proses, sehingga butuh kesabaran bahkan ketika kita ingin memulainya. Akan tetapi buku ini menjanjikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mulai memperbaiki. Bahkan ketika anak kita telah remaja, kita masih dapat memulainya.

Orangtua memberi pengaruh yang besar pada kehidupan dan perkembangan kepribadian anak. Ini adalah amanah dan tugas yang besar. Akan tetapi ini juga kesempatan yang luar biasa untuk menumbuhkan individu yang bahagia, penuh hormat, mandiri, percaya diri, penuh empati, dan baik hati, tentunya.

Menjadi baik bukan berarti menjadi sempurna. Menjadi orangtua yang sempurna tanpa salah dan cela adalah tujuan yang mustahil. Menjadi ‘cukup bagus’ adalah cukup. Selama kita sudah memulai dan berusaha yang terbaik.  It’s ok not to be ok. No rose without a thorn.

Penulis: Yunita K

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here