Raysha, gadis autis luncurkan karya seni untuk keluarga prasejahtera

Raysha, gadis autis luncurkan karya seni untuk keluarga prasejahtera
Salah satu lukisan Raysha, gadis dengan 'severe autism', yang telah dikomersialkan dalam berbagai produk. (LSPR Jakarta)

Jakarta (Indonesia Window) – Setiap manusia unik dan istimewa. Demikian juga dengan Raysha yang sejak usia 2,5 tahun didiagnosa severe autism dengan keterlambatan bicara dan berkembang.

Severe autism merupakan gangguan spektrum autisme level 3, yang berarti membutuhkan banyak dukungan.

Meski tumbuh dengan kondisi demikian, Raysha yang kini berusia 17 tahun mampu menghasilkan karya lukisan yang bernilai komersial.

Dengan bimbingan ayahanda, Kemal Effendi Gani yang merupakan Pemimpin Redaksi Majalah SWA Magazine dan ibunda, Prita Kemal Gani, pendiri dan CEO London School of Public Relations (LSPR) Jakarta, Raysha Dinar Kemal Gani telah meluncurkan lukisan-lukisannya pada 14 Februari.

Menyusul peluncuran itu, Raysha juga memasarkan karyanya yang dikemas dalam berbagai bentuk merchandise secara offline dan online melalui beberapa platform e-commerce terkemuka.

Hasil penjualan produknya, lalu dia salurkan kepada anak-anak autis dari keluarga prasejahtera, serta yayasan yang telah bekerja sama dengan Raysha, yakni Rumah Autis dan Sahabat Anak.

Karya

Individu autistik mempunyai banyak kendala seperti mengalami kecemasan, serta terganggunya kemampuan sensorik, motorik dan konsentrasi.

“Mereka juga mudah terganggu dengan sinar atau cahaya lampu atau suara-suara,” kata Prita.

Prita menuturkan, melukis merupakan salah satu terapi yang sering kali dilakukan Raysha agar tetap membuatnya aktif secara motorik dan membuat perasaannya tenang dan senang. “Ini merupakan sebuah pencapaian,” ujarnya.

Menyadari pentingnya berbagai terapi bagi individu autistik, terutama mereka yang berasal dari keluarga prasejahtera, tercetuslah ide untuk membuat merchandise dengan butik yang bergengsi di salah satu mall mewah di Jakarta.

“Hasil penjualannya akan disalurkan untuk membantu individu autistik dari keluarga prasejahtera. Semua ini berkat dukungan Raysha Management Team yang dipimpin Kak Ghina,” jelas Prita.

Dia menjelaskan bahwa sebelum karya Raysha dikomersialkan, lukisan-lukisannya yang penuh warna tersebut ‘hanya’ dipamerkan. Ternyata, keluarga, kawan-kawan, serta undangan yang hadir secara virtual dalam pameran tersebut menanggapi karya Raysha dengan antusias dan memberikan komentar yang positif.

Menyadari bahwa Raysha memiliki kemampuan yang istimewa dan memahami kondisi severe autism, keluarga Raysha ingin berbagi dengan anak-anak autis, terutama mereka yang berasal dari keluarga pra-sejahtera.

Ketulusan mereka disambut baik oleh butik Alleira, yang dengan senang hati berupaya mewujudkan keinginan Raysha untuk membantu kawan-kawannya dari keluarga pra-sejahtera.

Secara ekslusif Alleira memproduksi beberapa merchandise dari dua lukisan apik Raysha yang berjudul Beijing Garden (Taman Beijing) dan Blossoming Spring (Musim Semi Yang Merekah).

Kedua lukisan tersebut hanya dapat ditemukan pada merchandise Raysha x Alleira di Alleira Grand Indonesia.

“Tak menyangka lukisan Raysha secantik ini. Tentu Alleira ingin mendukung Raysha dalam membantu individu autistik lainnya dari keluarga pra-sejahtera,” kata Zaka, COO (Chief Operating Officer) Alleira Batik.

Merchandise yang lahir dari lukisan Raysha kini sudah tersedia di beberapa e-commerce seperti Tokopedia, Shopee, dan LSPR Plaza dengan nama toko Autism World Raysha, dan tersedia secara online di galeri Alleira Grand Indonesia.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here