Ramadan 1447 – Memindai momentum Ramadan yang mendorong konsumsi warga Indonesia

Foto yang diabadikan pada 28 Februari 2026 ini menunjukkan bolu kukus buatan Dewi, seorang ibu rumah tangga di Bogor, Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Konsumsi rumah tangga saat Ramadan melonjak rata-rata 10 hingga 15 persen dibandingkan bulan biasa.
Bogor, Jawa Barat (Xinhua/Indonesia Window) – Bagi umat Muslim di Indonesia, Ramadan adalah bulan ibadah, refleksi, dan penguatan solidaritas sosial. Namun di balik suasana religius itu, Ramadan juga menjadi salah satu fase paling dinamis dalam siklus ekonomi tahunan nasional.
Aktivitas konsumsi meningkat signifikan, pasar-pasar rakyat ramai sejak siang hari, dan jutaan pelaku usaha kecil memanfaatkan momentum ini sebagai peluang untuk meningkatkan pendapatan serta memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Lonjakan konsumsi
Secara makro, Ramadan berkontribusi besar terhadap penguatan konsumsi domestik. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia (RI), konsumsi rumah tangga, yang menyumbang lebih dari 50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), cenderung mengalami akselerasi pada kuartal pertama (Q1) dan kedua (Q2), bertepatan dengan periode Ramadan dan Idul Fitri.
Konsumsi rumah tangga saat Ramadan melonjak rata-rata 10 hingga 15 persen dibandingkan bulan biasa. Hal ini dipicu oleh budaya belanja baju baru, bahan pangan, hingga persiapan mudik. Pada momen ini, konsumsi rumah tangga menjadi faktor dominan yang menggerakkan pertumbuhan. Kenaikan konsumsi ini bersifat musiman, tetapi dampaknya nyata terhadap perputaran uang di tingkat akar rumput.
Di sebuah perumahan di Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, misalnya, Dewi (47), yang sehari-hari menjual nasi dan lauk pauk, setiap Ramadan memfokuskan bisnisnya untuk menjual kue. Menurut ibu rumah tangga ini, pendapatannya dari berjualan di bulan Ramadan melebihi ekspektasi, jauh meningkat dibandingkan bulan-bulan biasa.
"Alhamdulillah, omzet saya di bulan Ramadan lebih besar daripada biasanya, bahkan di luar ekspektasi saya," ungkapnya kepada Xinhua di Bogor, Sabtu (28/2) lalu.
Hal senada disampaikan Suryaningsih (48), seorang ibu rumah tangga di Bogor, yang selama Ramadan menerima pesanan penganan dan minuman untuk berbuka puasa, atau biasa disebut takjil.
Dia melihat Ramadan sebagai peluang bagus bagi usahanya, karena di bulan ini banyak orang yang memesan takjil dalam jumlah besar untuk dibagi-bagikan.
"Alhamdulillah, pendapatan yang saya terima lebih dari cukup. Peningkatannya lumayan, karena banyak pesanan dalam jumlah besar," ujar Suryaningsih saat ditemui Xinhua di kediamannya yang berada di Bogor pada Ahad (1/3).
Hal ini juga dirasakan oleh Aniwati (45) yang selama Ramadan menjalankan usaha reseller aneka kue kering untuk Lebaran. Ibu rumah tangga yang sehari-sehari berprofesi sebagai fisioterapis ini mengaku Ramadan sebagai momen ‘emas’ karena banyak orang mencari dan membutuhkan sajian kue kering untuk hamper sebagai persiapan Lebaran.
"Pesanan dan penjualan kue kering saya meningkat drastis, bisa naik sampai 100 persen. Pemesanan sudah dibuka sebelum Ramadan, dan di minggu kedua puasa, pemesanan saya tutup agar pengiriman ke konsumen tidak ada kendala," tutur Aniwati kepada Xinhua pada Ahad (1/3) di Bogor.
UMKM dan digitalisasi
Ramadan juga menjadi etalase kekuatan ekonomi mikro Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) RI, sektor UMKM menyerap lebih dari 90 persen tenaga kerja nasional. Pada periode Ramadan, pelaku UMKM di sektor kuliner, fesyen muslim, hingga jasa parsel dan logistik mengalami lonjakan permintaan yang signifikan.
Bazar Ramadan, pasar takjil, dan penjualan daring melalui platform digital memperluas akses pasar bagi pelaku usaha kecil. Digitalisasi mempercepat transaksi, sementara promosi melalui media sosial meningkatkan visibilitas produk lokal. Perputaran ekonomi tidak lagi terbatas pada pasar fisik, tetapi juga merambah ruang digital.
Hal ini diamini Dewi, Suryaningsih, dan Aniwati yang menggunakan media sosial, seperti WhatsApp dan TikTok, untuk mempromosikan dagangan mereka secara berkala maupun menerima pesanan.
"Saya memanfaatkan status WhatsApp dan media sosial untuk mempromosikan dagangan saya. Jika pelanggan puas dengan masakan saya, mereka akan langsung menghubungi saya," kata Suryaningsih.
Ladang ibadah dan rezeki
Secara struktural, Ramadan tergolong sebagai siklus ekonomi musiman yang terintegrasi dalam pola pertumbuhan nasional. Lonjakan konsumsi, peningkatan produksi UMKM, distribusi logistik, serta kebijakan stabilisasi harga membentuk ekosistem ekonomi yang khas dan berulang setiap tahun.
Namun yang membedakan Ramadan dari musim belanja lainnya adalah dimensi spiritualnya. Motif ekonomi dan ibadah berjalan beriringan. Pedagang tidak sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga keberkahan. Konsumen tidak hanya berbelanja, tetapi juga berbagi.
Saat Ramadan, nilai sosial dan religius tetap menjadi fondasi utama. Tradisi berbagi takjil gratis, zakat, infak, dan sedekah menciptakan redistribusi pendapatan secara informal di masyarakat. Aktivitas filantropi Islam meningkat saat Ramadan, memperkuat solidaritas sosial sekaligus membantu kelompok rentan.
Menurut Dewi, berdagang saat Ramadan merupakan bagian dari ibadah dan momen mencari rezeki. "Bagi saya, ibadah tetap nomor satu. Ketika azan berkumandang, saya stop dulu semua kegiatan. Setelah selesai (beribadah), baru saya lanjutkan kembali. Soal rezeki sudah ada yang mengatur," ujarnya.
Sementara itu, Suryaningsih mengaku banyak pelanggannya yang memesan takjil untuk dibagi-bagikan secara gratis saat Ramadan. Hal ini pula yang mendorong omzetnya meningkat signifikan.
Inflasi dan persaingan ketat
Namun demikian, momen Ramadan juga menghadirkan banyak tantangan bagi para pelaku usaha. Salah satunya inflasi. Inflasi selama Ramadan selalu menjadi perhatian khusus pemerintah, karena lonjakan harga bahan pangan, seperti beras, cabai, dan daging sapi, sering kali menjadi tantangan utama bagi daya beli masyarakat di tengah momentum Ramadan.
"Harga bahan-bahan, seperti telur dan daging ayam, sering mengalami kenaikan. Akibatnya, saya harus menaikkan harga atau mengurangi porsi, tetapi hanya sedikit," ungkap Suryaningsih.
Secara historis, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau sering mengalami kenaikan harga akibat lonjakan permintaan. Namun melalui penguatan distribusi dan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pemerintah berupaya menjaga agar inflasi tetap dalam target yang ditetapkan Bank Indonesia.
Selain inflasi, persaingan ketat juga menjadi tantangan lainnya bagi para pelaku usaha saat Ramadan. Ini menjadi tren musiman tahunan di Indonesia yang didorong oleh tingginya permintaan konsumsi masyarakat untuk berbuka puasa, sahur, dan persiapan Lebaran.
Dewi mengakui hal itu, namun dirinya tidak ambil pusing. "Bersaing secara sehat saja, karena rezeki sudah diatur oleh Tuhan dan tidak akan tertukar," ungkapnya.
Begitu pula Suryaningsih dan Aniwati, yang menyebut banyaknya pesaing sebagai tantangan. Namun, mereka yakin pada akhirnya kualitas yang akan menentukan laris atau tidaknya produk masing-masing.
Di tengah tantangan ekonomi global, Ramadan menjadi pengingat bahwa daya tahan ekonomi Indonesia bertumpu pada konsumsi domestik dan kekuatan ekonomi rakyat. Dari lapak kecil penjual takjil hingga kebijakan fiskal nasional, semuanya terhubung dalam satu siklus: mencari rezeki, memperkuat solidaritas, dan menjaga keseimbangan pasar.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Microsoft akan investasikan 3,2 miliar euro untuk infrastruktur AI di Jerman
Indonesia
•
16 Feb 2024

HF Gold jual-beli emas dengan syariat Islam
Indonesia
•
28 Mar 2022

Setahun ekspansi di Indonesia, Geely telah lakukan produksi lokal untuk 3 model NEV
Indonesia
•
20 Jan 2026

Hambatan perdagangan picu penurunan pendapatan ekspor komoditas Australia
Indonesia
•
01 Jul 2025
Berita Terbaru

Netflix menyerah, Paramount Skydance akuisisi Warner Bros. Discovery
Indonesia
•
01 Mar 2026

BOCHK kembali dukung penerbitan Dim Sum Bond pemerintah Indonesia
Indonesia
•
01 Mar 2026

Trade Expo Indonesia ke-41 targetkan transaksi 17,5 miliar dolar AS dengan 3 strategi
Indonesia
•
27 Feb 2026

Venezuela bisa jual lagi minyaknya ke Kuba atas izin AS
Indonesia
•
26 Feb 2026
