Prospek minyak sawit Malaysia terdongkrak permintaan biodiesel dan kenaikan biaya

Foto bertanggal 29 Oktober 2025 ini menunjukkan pohon-pohon sawit muda di fasilitas pembibitan PT Palma Inti Lestari, Kabupaten Kampar, Riau. (Indonesia Window)

Harga minyak mentah kecil kemungkinan kembali ke level sebelum konflik Timur Tengah, pandangan yang mendukung langkah kebijakan di Indonesia dan Malaysia untuk meningkatkan mandat pencampuran biodiesel.

 

Kuala Lumpur, Malaysia (Xinhua/Indonesia Window) – Sejumlah analis pada Selasa (12/5) berubah sikap menjadi lebih optimistis terhadap harga minyak sawit, dengan mengutip meningkatnya permintaan biodiesel, tekanan biaya yang kian besar, dan pergeseran struktural di pasar minyak mentah, meskipun penumpukan persediaan dalam jangka pendek dan ketidakpastian ekspor masih berlanjut di Malaysia, produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia.

Maybank Investment Bank dalam sebuah catatan menyebutkan bahwa harga minyak mentah kecil kemungkinan kembali ke level sebelum konflik Timur Tengah, pandangan yang mendukung langkah kebijakan di Indonesia dan Malaysia untuk meningkatkan mandat pencampuran biodiesel.

Untuk Mei 2026, MBSB Research memperkirakan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) akan tetap stabil secara umum.

Harga diperkirakan akan mendapat dukungan dari produksi yang secara musiman melemah selama fase penyerbukan serta ekspektasi terkait penerapan biodiesel B15 di Malaysia dan B50 di Indonesia yang ditargetkan berlangsung pada Juni-Juli 2026.

Stok minyak sawit Malaysia naik 23,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada April 2026 menjadi sekitar 2,31 juta ton, didorong oleh melemahnya ekspor pascalibur hari raya, menurut data resmi pada Senin (11/5).

Output-nya turun 3,4 persen (yoy) menjadi 1,63 juta ton, sementara ekspor naik 18 persen menjadi 1,3 juta ton seiring pengisian kembali stok menjelang kenaikan bea ekspor.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait