
Protein yang selama ini lawan kanker ternyata bisa bantu sel kanker bertahan

Ilustrasi. (Angiola Harry on Unsplash)
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti di Australia berhasil menemukan alasan mengapa pengobatan kanker payudara tidak lagi efektif pada sebagian pasien, sekaligus mengungkap peran tak terduga dari sebuah protein kunci pelawan kanker.
Studi yang telah dipublikasikan dalam jurnal Nature tersebut menemukan bahwa protein retinoblastoma (Rb), yang telah lama dianggap sebagai penghambat alami pertumbuhan kanker, secara tak terduga mampu mengaktifkan gen-gen yang merespons hormon estrogen.
Beberapa gen tersebut dapat membantu sel kanker menjadi resistan terhadap pengobatan dan mempertahankan kemampuannya untuk tumbuh kembali, ungkap sebuah pernyataan yang dirilis oleh Pusat Kanker Peter MacCallum (Peter MacCallum Cancer Center) Australia pada Kamis (13/8).
Tim peneliti tersebut menemukan bahwa Rb tidak sekadar menonaktifkan gen yang memicu pembelahan sel. Protein tersebut juga mampu "mengaktifkan program-program biologis yang sebagian justru melawan efek perlindungannya sendiri," papar Lektor Kepala Shom Goel dari Peter Mac, yang juga penulis senior dalam studi tersebut.
Temuan itu membantu menjelaskan mengapa obat-obatan yang dikenal sebagai inhibitor CDK4/6 bekerja sangat efektif dengan terapi endokrin dalam menangani kanker payudara yang positif reseptor hormon, subtipe paling umum pada kanker payudara.
"Inhibitor CDK4/6 mengaktifkan protein Rb untuk menghentikan pembelahan sel kanker, sementara terapi endokrin memblokir sinyal berbasis estrogen yang tidak diinginkan yang juga dapat dipicu oleh Rb. Jika dikombinasikan, keduanya memungkinkan efek penekan tumor dari Rb menjadi dominan," papar Goel.
Namun, ketika kanker menjadi resistan terhadap terapi endokrin, program gen yang berkaitan dengan estrogen tetap berjalan meski pengobatan telah diberikan, sehingga menurunkan efektivitas inhibitor CDK4/6, demikian temuan tim peneliti.
"Pemahaman atas peran Rb yang sebelumnya belum terungkap ini memberikan cara baru yang penting dalam menyikapi resistansi obat," papar Goel, seraya menambahkan bahwa penemuan tersebut dapat memandu terapi kombinasi baru untuk memperpanjang efektivitas pengobatan dan meningkatkan hasil pengobatan bagi pasien kanker payudara.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China berupaya komersialkan teknologi 6G sekitar tahun 2030
Indonesia
•
08 Dec 2023

Ilmuwan China kembangkan platform penelitian untuk ‘matahari buatan’
Indonesia
•
15 Jan 2025

Basis inovasi untuk sensor MEMS diresmikan di China utara
Indonesia
•
09 Jan 2024

TEPCO berhasil ekstraksi sampel puing-puing bahan bakar dari PLTN Fukushima
Indonesia
•
11 Nov 2024


Berita Terbaru

Telaah – Tiga gempa dahsyat guncang Amerika Selatan, benarkah kawasan ini makin aktif?
Indonesia
•
15 Aug 2026

Gigitan nyamuk bisa jadi ‘booster’ alami untuk cegah malaria, studi ungkap harapan baru
Indonesia
•
15 Aug 2026

Feature – ‘Smartwatch’ dan gaya hidup berbasis data, mengapa makin diminati di Indonesia?
Indonesia
•
15 Aug 2026

2.056 robot dari 16 negara akan bertanding di World Humanoid Robot Games Beijing
Indonesia
•
14 Aug 2026
