Telaah – Tiga gempa dahsyat guncang Amerika Selatan, benarkah kawasan ini makin aktif?

Operasi pencarian dan penyelamatan berlangsung di tengah reruntuhan bangunan di Cali, Kolombia, pada 13 Agustus 2026. (Xinhua/Andres Moreno)

Mexico City/Caracas, Meksiko/Venezuela (Xinhua/Indonesia Window) – Serangkaian gempa dahsyat di Venezuela dan Kolombia, serta aktivitas seismik baru-baru ini di Peru dan Chile, memicu kekhawatiran mengenai apakah Amerika Selatan sedang memasuki periode aktivitas seismik dengan intensitas yang tidak biasa.

Namun demikian, para pakar mengatakan bahwa tidak ada bukti peningkatan gempa yang tidak wajar di seluruh kawasan tersebut, dan persepsi bahwa gempa semakin sering terjadi sebagian dapat mencerminkan kian cepatnya akses terhadap informasi seismik dan peningkatan atensi publik menyusul gempa dahsyat baru-baru ini yang menelan banyak korban jiwa.

Tatanan tektonik yang berbeda

Gempa bermagnitudo 7,4 mengguncang Kolombia pada Senin (10/8), dengan titik pusat gempa berjarak sekitar 20 km dari San Jose del Palmar di Departemen Choco, Kolombia barat, pada kedalaman 96 km, papar Badan Geologi Kolombia.

Jumlah korban jiwa di Kolombia bertambah menjadi 281 orang, dengan 3.971 lainnya mengalami luka-luka, 379 dinyatakan hilang, serta lebih dari 100.000 warga terdampak, ungkap Unit Manajemen Risiko Bencana Nasional Kolombia pada Kamis (13/8).

Belum genap dua bulan sebelumnya, negara tetangga Kolombia, yakni Venezuela, diguncang dua gempa dahsyat bermagnitudo 7,2 dan 7,5 pada 24 Juni. Dua gempa dangkal tersebut, yang sama-sama berpusat di kedalaman sekitar 10 km, terjadi dengan jeda waktu kurang dari semenit. Otoritas Venezuela melaporkan bahwa jumlah korban jiwa telah menembus 6.300 orang.

Kendati memiliki kedekatan secara geografis, gempa di Venezuela dan Kolombia terjadi pada tatanan tektonik yang berbeda.

Presiden Perhimpunan Geologi Venezuela (Geological Society of Venezuela) Feliciano De Santis menyampaikan kepada Xinhua bahwa kedua negara berada di atas Lempeng Amerika Selatan, tetapi proses tektonik yang memicu gempa di kedua negara itu berbeda.

Di Venezuela, aktivitas seismik sebagian besar berkaitan dengan perbatasan antara lempeng Karibia dan Amerika Selatan, di mana pergerakan horizontal utamanya memicu pergerakan sesar mendatar (strike-slip faulting). Sebaliknya, Kolombia sangat dipengaruhi oleh proses subduksi Lempeng Nazca ke bawah Lempeng Amerika Selatan.

Perbedaan-perbedaan tersebut membantu menjelaskan karakteristik dari gempa-gempa yang terjadi belakangan ini.

Menurut De Santis, gempa di Venezuela kerap kali berkedalaman dangkal, sehingga memungkinkan energi seismik menghasilkan guncangan yang sangat kuat di dekat episentrum dan zona sesar.

Namun, gempa di Kolombia terjadi pada tingkat yang jauh lebih dalam. Kendati energi seismik melemah saat merambat ke permukaan, gempa yang lebih dalam dapat dirasakan di area yang jauh lebih luas dan menimbulkan beragam tingkat kerusakan di kawasan yang lebih luas.

Andres Folguera, seorang geolog dari Dewan Riset Ilmiah dan Teknis Nasional Argentina, juga menuturkan bahwa kedua gempa tersebut melibatkan proses geologis yang berbeda, dengan aktivitas sesar dangkal di Venezuela dan deformasi lempeng yang lebih dalam di balik gempa di Kolombia.

Tidak ada bukti siklus seismik yang tak wajar

Wang Tun, wakil direktur di Laboratorium Utama Bahaya Gunung dan Keselamatan Teknik yang dinaungi Akademi Ilmu Pengetahuan China dan kepala Institute of Care-Life di Chengdu, menuturkan bahwa kedua episentrum berjarak sekitar 1.200 km dan tidak terdapat hubungan pemicu tekanan langsung di antara kedua gempa tersebut.

"Kedua gempa tersebut harus dianggap sebagai gempa yang tidak saling berkaitan," tuturnya.

Gempa-gempa belakangan ini, imbuh Wang, tidak mengindikasikan bahwa Lempeng Amerika Selatan memasuki periode peningkatan aktivitas.

De Santis juga menarik kesimpulan serupa, dengan mengatakan bahwa data saat ini belum memberikan dasar yang cukup untuk menilai aktivitas seismik di Amerika Selatan sebagai tidak wajar.

Menurut geolog asal Venezuela tersebut, katalog gempa bumi global menunjukkan bahwa gempa bumi kuat bukanlah peristiwa langka dalam skala dunia, dengan sekitar 15 hingga 20 gempa bermagnitudo 7 hingga 8 biasa terjadi dalam setahun.

Evaluasi yang lebih sistematis mengenai apakah tahun 2026 tergolong tahun tidak biasa akan memerlukan perbandingan antara catatan seismik global sepanjang tahun tersebut dengan data dari tahun-tahun sebelumnya, ujar De Santis.

Wang mengatakan bahwa persepsi yang berkembang di kalangan masyarakat mengenai semakin seringnya gempa bumi terjadi sebagian berkaitan dengan peningkatan dalam pemantauan seismik dan layanan informasi.

Masyarakat kini menerima data mengenai magnitudo gempa, lokasi gempa, dan gempa susulan hampir seketika, sementara jatuhnya banyak korban akibat gempa bumi yang baru-baru ini melanda Venezuela dan Kolombia semakin meningkatkan kepekaan publik terhadap peristiwa seismik.

Serangkaian gempa bumi kuat yang terjadi berturut-turut tidak berarti bahwa negara-negara Amerika Selatan lainnya juga menghadapi kemungkinan lebih tinggi terjadinya gempa besar tahun ini, kata Wang.

Aktivitas seismik tersebut juga tidak akan merambat di sepanjang "Cincin Api" Pasifik menuju Asia sebagai reaksi berantai, imbuhnya, seraya menyebut bahwa jarak di mana perubahan tekanan akibat gempa bermagnitudo 7,5 dapat secara signifikan memicu peristiwa lain jauh lebih dekat dibandingkan jarak menyeberangi Samudra Pasifik.

Para ilmuwan juga memperingatkan agar tidak mencoba memprediksi negara mana yang mungkin akan diguncang gempa berikutnya.

"Hal-hal seperti ini tidak dapat diprediksi," ujar De Santis, seraya menekankan bahwa pencegahan bencana jauh lebih penting daripada upaya memperkirakan kapan dan di mana tepatnya gempa berikutnya akan terjadi.

Pencegahan lebih penting daripada prediksi

Apakah gempa bumi dahsyat akan berkembang menjadi bencana besar bergantung pada lebih dari sekadar besaran magnitudonya saja.

Kedalaman gempa bumi, geologi setempat, cara perambatan gelombang seismik, kepadatan penduduk dan, yang paling penting, kualitas bangunan, semuanya dapat menentukan besarnya jumlah korban dan tingkat kerusakan.

Faktor-faktor ini menjelaskan mengapa gempa bumi dengan magnitudo yang serupa dapat menimbulkan dampak yang sangat berbeda antarnegara, antarkota, atau bahkan antarwilayah di kota yang sama, kata De Santis.

Para ahli mengatakan bahwa bagi negara-negara yang terletak di sepanjang batas lempeng tektonik aktif di Amerika Selatan, gempa bumi tidak dapat dicegah.

Namun, skala bencana yang ditimbulkannya dapat dikurangi secara signifikan melalui bangunan yang lebih aman, sistem peringatan yang efektif, dan kesiapsiagaan masyarakat yang lebih baik.

Wang mengatakan bahwa teknologi saat ini masih belum mampu memprediksi secara akurat kapan dan di mana gempa bumi besar berikutnya akan terjadi.

"Pencegahan lebih efektif daripada prediksi," tutur Wang.

Dia mengatakan bahwa memperkuat bangunan, memperluas penerapan teknologi isolasi seismik dan teknologi disipasi energi, menyempurnakan standar konstruksi, dan memastikan penegakan standar tersebut secara ketat dapat secara signifikan mengurangi jumlah korban dan kerugian ekonomi.

Sistem peringatan dini gempa bumi dan kesiapsiagaan masyarakat yang lebih baik juga sangat penting, imbuhnya.

De Santis mencontohkan Chile, salah satu negara yang paling rawan gempa di dunia, sebagai contoh bagaimana standar konstruksi yang ketat dapat mengurangi kerugian akibat gempa bumi dahsyat.

Dia mengatakan bahwa pemerintah di zona-zona rawan gempa harus terus memperbarui standar bangunan, memperkuat pengawasan di seluruh proses perancangan, konstruksi, inspeksi, dan pemeliharaan, serta mengevaluasi dan memperkuat bangunan rentan yang sudah ada.

Edukasi publik juga sama pentingnya, lanjut De Santis. Masyarakat harus mengetahui rute evakuasi di rumah, sekolah, dan tempat kerja mereka, serta memahami cara merespons dengan tenang dan tepat saat guncangan yang kuat mulai terjadi, imbuhnya.

Selesai

Oleh penulis Xinhua: Tan Huiting dan Tian Rui

Bagikan

Komentar

Berita Terkait