Prof. Syafi’i Antonio bahas penataan jiwa berbasis Al-Qur’an dan sunnah

Guru besar ekonomi syariah, Prof. Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, Lc. membahas kesehatan psiko-spiritual dan konsep ‘Soul Architecture’ atau arsitektur jiwa berbasis Al-Qur’an dan Sunnah dalam Kajian PROLM di Bogor, Jawa Barat, pada Ahad (9/8/2026). (Indonesia Window/Ronald Rangkayo)

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Guru besar ekonomi syariah, Prof. Dr. Muhammad Syafi’i Antonio, Lc. membahas kesehatan psiko-spiritual dan konsep ‘Soul Architecture’ atau arsitektur jiwa berbasis Al-Qur’an dan Sunnah dalam Kajian PROLM di Bogor, pada Ahad (9/8).

Dalam pertemuan bulanan bertema ‘Reset Our Soul Architecture: Menata Ulang Psiko-Spiritual Berbasis Al-Qur’an dan Sunnah’, Prof. Syafi’i Antonio menekankan pentingnya membangun qolbun salim atau hati yang sehat sebagai salah satu fondasi keberhasilan individu, keluarga, dan masyarakat.

Menurut Rektor Universitas Tazkia itu, berbagai aspek psikologis seperti kesadaran diri, pengelolaan emosi, motivasi intrinsik, ketangguhan, refleksi diri, dan kesejahteraan memiliki keterkaitan dengan kondisi qolbu.

Dia mengingatkan bahwa kecerdasan tinggi tanpa moralitas dan disiplin tidak otomatis menghasilkan keberhasilan.

Langkah pertama dalam penataan jiwa, menurutnya, adalah “tazkiyatun nafs, atau penyucian jiwa.”

“Konsep ini mencakup upaya membersihkan beban psiko-emosional, antara lain stres, kemarahan, kekecewaan, rasa bersalah, kesedihan, iri, dan ketakutan,” ucapnya.

Prof. Syafi’i Antonio juga menyoroti penyakit hati seperti iri dan dengki, kesombongan, dan riya yang dapat menjadi tantangan bagi siapa pun, termasuk orang berilmu dan penceramah agama karena adanya dorongan untuk mendapatkan pujian atau penghormatan.

Dia juga mengingatkan pentingnya memberi jeda antara stimulus dan respons agar seseorang dapat mempertimbangkan apakah tindakan yang akan dilakukan sudah baik dan benar.

Peserta juga diajak melakukan refleksi dengan mengenali emosi dominan, hal-hal yang mengotori hati, serta tiga hal yang perlu dilepaskan dari hati dan pikiran.

Sebelum tidur, peserta dianjurkan bertanya kepada diri sendiri: “Siapa yang akan saya doakan hari ini?” dan “Siapa yang akan saya maafkan hari ini?”

Langkah kedua adalah membangun intrinsic motivation atau motivasi intrinsik melalui value-based living.

Prof. Syafi’i Antonio menekankan pentingnya kemampuan mengendalikan distraksi, termasuk penggunaan media sosial dan berbagai gangguan digital.

Menurutnya, perbedaan hasil hidup tidak hanya ditentukan oleh waktu, karena setiap orang memiliki 24 jam, tetapi juga oleh prioritas dan determinasi.

“Mampu mengatakan ‘tidak’ kepada distraksi adalah bagian dari kemampuan mengendalikan diri. Karena itu, disiplin fokus bukan sekadar teknik produktivitas, tapi juga merupakan latihan spiritual. Kita sedang belajar menentukan apa yang layak mendapatkan perhatian kita,” urainya.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait