
Presiden Iran sebut MoU perdamaian dengan AS stabilkan kawasan dan dunia

Orang-orang ambil bagian dalam prosesi penghormatan kepada mendiang pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei di Teheran, Iran, pada 6 Juli 2026. (Xinhua/Kantor Berita Mehr)
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Sabtu (29/8) mengatakan nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang ditandatangani antara Iran dan Amerika Serikat (AS) sesuai dengan kepentingan negaranya, kawasan Asia Barat, dan dunia.
Dalam sebuah upacara di Teheran, ibu kota Iran, dia menegaskan dengan adanya pelaksanaan MoU tersebut, AS dan Israel tidak akan mampu menimbulkan kekacauan, agresi, dan ketidakamanan di kawasan, serta negara-negara kawasan akan dapat menempuh jalan menuju stabilitas dan pembangunan, demikian menurut pernyataan yang dimuat di situs jejaring kantornya.
Pezeshkian menyoroti perlunya menggagalkan "rencana jahat musuh" dengan mendorong persatuan dan solidaritas di kalangan negara-negara Muslim.
Dia mengatakan Iran tidak pernah menjadi pihak yang memulai perang, seraya menambahkan, "Kami tidak menginginkan perang, tetapi akan melawan setiap agresor dengan tegas, dan tidak ada kekuatan yang dapat memaksa sebuah bangsa yang teguh berdiri dengan segenap kekuatan dan tekadnya, untuk menyerah."
Sementara itu, pada Sabtu yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi memperingatkan melalui unggahan di media sosial bahwa upaya-upaya "besar" sedang dilakukan untuk memanipulasi pasar energi global demi keuntungan pribadi dan memperpanjang perang AS melawan Iran.
Secara terpisah, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengumumkan pada hari yang sama bahwa pasukan keamanan negara tersebut telah memberikan pukulan "telak" kepada tim "teroris" yang berafiliasi dengan AS dan Israel di provinsi Sistan dan Baluchestan di Iran tenggara, menewaskan satu anggota tim tersebut dan menangkap enam orang lainnya.
Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan kota-kota lain di Iran. Iran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menyasar Israel serta pangkalan dan aset AS di kawasan tersebut, sembari memperketat kendali atas Selat Hormuz.
Pada 18 Juni, AS dan Iran menandatangani MoU untuk mengakhiri perang di semua front di kawasan tersebut.
Berdasarkan MoU itu, kedua pihak dijadwalkan melakukan perundingan dalam kurun waktu 60 hari, yang berakhir pada 17 Agustus, guna mencapai kesepakatan akhir. Namun, nasib perundingan itu masih belum jelas menyusul eskalasi antara kedua negara bulan lalu.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

781 tewas dan 2.502 lainnya masih hilang akibat tanah longsor di Nepal
Indonesia
•
31 Aug 2026

Konferensi Keamanan Munich ditutup di tengah ketegangan hubungan Transatlantik
Indonesia
•
18 Feb 2025

Taiwan luncurkan paspor baru pada 2021
Indonesia
•
01 Dec 2020

Hamas normalisasi hubungan dengan Suriah dalam kunjungan ke Damaskus
Indonesia
•
21 Oct 2022


Berita Terbaru

Fokus Berita – Gelombang protes Eropa ungkap retaknya kepercayaan publik terhadap pemerintah
Indonesia
•
20 Oct 2026

Prancis berlakukan jam malam di sejumlah kota usai kerusuhan, 2.397 orang ditangkap
Indonesia
•
20 Oct 2026

Program Pangan Dunia butuh 8,1 triliun rupiah untuk operasi di Gaza dan Tepi Barat, bantuan mulai dipangkas
Indonesia
•
20 Oct 2026

Analisis – Kekerasan oleh pemukim di Tepi Barat jadi ujian Israel jelang pemilu
Indonesia
•
20 Oct 2026
