
Presiden Iran desak jaminan perjanjian nuklir dan penutupan penyelidikan IAEA

Presiden Iran Ebrahim Raisi berbicara dalam sebuah konferensi pers di Teheran, Iran, pada 29 Agustus 2022. Raisi pada Senin (29/8) mengatakan bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir namun akan menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan sipil. (Xinhua/Situs Web Kepresidenan Iran)
Perjanjian nuklir Iran 2015 goyah setelah penarikan diri sepihak yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dari kesepakatan tersebut pada 8 Mei 2018. Perundingan tentang pengaktifan kembali JCPOA dimulai pada April 2021 di Wina, tetapi tertunda pada Maret tahun ini karena perbedaan politik antara Teheran dan Washington.
Teheran, Iran (Xinhua) – Iran membutuhkan jaminan yang meyakinkan serta penutupan penyelidikan yang sedang dilakukan oleh Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) terhadap negara republik Islam tersebut sebelum perjanjian nuklir dapat disepakati, kata Presiden Iran Ebrahim Raisi pada Selasa (20/9).Menurut pernyataan yang dipublikasikan di situs jejaring kepresidenan Iran, Raisi menyampaikan hal tersebut dalam pertemuannya dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, AS.Iran siap menyepakati perjanjian nuklir yang "adil dan stabil," tetapi mengingat penarikan diri sepihak yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dari perjanjian nuklir 2015, tuntutan Iran untuk "mendapatkan jaminan yang meyakinkan" sepenuhnya masuk akal dan logis," tutur Raisi.Presiden Iran itu juga mendeskripsikan penyelidikan IAEA sebagai "hambatan serius untuk mencapai perjanjian," dengan mengatakan bahwa "kami yakin tanpa penutupan kasus Iran, perjanjian mustahil tercapai."Sedangkan mengenai hubungan Iran-Eropa, Raisi mengatakan peningkatan hubungan Iran dengan Eropa tergantung pada independensi negara-negara di Benua Biru itu dari kehendak dan opini Amerika Serikat.
Foto yang diabadikan pada 9 Desember 2021 ini menunjukkan pertemuan Komisi Gabungan Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA) di Wina, Austria. Perundingan yang bertujuan untuk mencapai titik temu terkait situasi nuklir Iran diadakan di Wina pada Kamis (9/12). Pertemuan ini menjadi perundingan ketujuh tentang JCPOA yang sedang dinegosiasikan oleh para pejabat Uni Eropa (UE) dan China, Prancis, Jerman, Rusia, Inggris, serta Iran. (Xinhua/Delegasi UE di Wina)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Pentagon rilis laporan tahunan tentang kekerasan seksual di lingkungan militer AS
Indonesia
•
02 Sep 2022

Kanada akan sumbang tambahan 200 kendaraan lapis baja ke Ukraina
Indonesia
•
19 Jan 2023

COVID-19 – 3 miliar dosis vaksin diberikan di China
Indonesia
•
30 Jan 2022

Jepang mulai kirim rudal ke pulau terpencil di Pasifik, ketegangan regional disorot
Indonesia
•
09 Jun 2026


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
