
Perselisihan JCPOA tunjukkan AS tak tertarik "tatanan berbasis aturan"

Gedung Putih diselimuti kabut asap di Washington DC, Amerika Serikat, pada 29 Juni 2023. (Xinhua/Aaron Schwartz)
Presiden AS Joe Biden mengecam pemerintahan Trump atas keputusannya untuk keluar dari Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA) 2015 dan menyatakan selama masa kampanye kepresidenannya bahwa dia akan mengembalikannya, namun pemerintahan Biden belum secara resmi mengembalikan AS sebagai bagian dari perjanjian tersebut.
New York City, AS (Xinhua) – Terlepas dari fakta bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengecam pemerintahan Trump atas keputusannya untuk keluar dari Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA) 2015 dan menyatakan selama masa kampanye kepresidenannya bahwa dia akan mengembalikannya, pemerintahan Biden belum secara resmi mengembalikan AS sebagai bagian dari perjanjian tersebut, seperti diungkapkan sebuah artikel yang dirilis oleh Quincy Institute for Responsible Statecraft pada Rabu (12/7).Alih-alih memperbaiki masalah yang dibuatnya sendiri, AS justru menutup-nutupi situasi nuklir yang sulit dan terus berkembang dengan Iran, dengan dalih bahwa Iran melanggar kesepakatan dan isu-isu di luar berkas nuklir, sebut artikel itu.Lebih lanjut, artikel tersebut menyebutkan bahwa kasus JCPOA, termasuk pelanggaran AS terhadap kesepakatan tersebut dan penolakan kerasnya dalam mengambil tanggung jawab, mengungkapkan sebuah dilema yang lebih besar di Barat dan kebijakan luar negeri AS secara khusus, yaitu kemunafikan."Signifikansi kebuntuan ini tidak dapat diabaikan karena berdampak pada urusan politik global," tulis artikel tersebut.Kenyataannya, internasionalisme dan lembaga-lembaga internasional hanya dapat bekerja jika aturan-aturan dalam "tatanan berbasis aturan" itu diterapkan secara konsisten dan adil secara menyeluruh. Jika tidak, mereka akan menjadi alat kekuasaan dan imperialisme, tambah artikel tersebut."Standar ganda dan ketidakkonsistenan turut mendorong negara-negara lain untuk melakukan hal serupa dan melawan kekuatan Barat ketimbang berfokus pada kerja sama global," sebut artikel itu."Ketidakkonsistenan ini mengungkap kebenaran yang memprihatinkan. Bahwa kita tidak tertarik dengan internasionalisme atau tatanan berbasis aturan yang kita promosikan dengan gigih. Sebaliknya, yang kita minati adalah politik kekuasaan dan mempertahankan tatanan dunia dengan dominasi AS lebih diutamakan ketimbang kerja sama internasional," papar artikel tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Rudal Khorramshahr-4 siap luncur di situs bawah tanah Iran jelang pembicaraan dengan AS
Indonesia
•
06 Feb 2026

Iran lancarkan gelombang serangan baru ke Israel sebagai balasan atas serangan udara
Indonesia
•
16 Jun 2025

Dubes AS sebut Trump kesampingkan penggunaan kekuatan untuk kuasai Greenland
Indonesia
•
22 May 2026

PBB: Serangan Israel ke Lebanon capai titik tertinggi sejak kesepakatan gencatan senjata
Indonesia
•
07 Aug 2026


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
