
Prigen Conservation Breeding Ark pulihkan burung berkicau endemik Indonesia terancam punah

Komisaris PT Taman Safari Indonesia (TSI), Tony Sumampau, dalam acara 'Media Trip' FOKSI (Forum Konservasi Satwaliar Indonesia) ke Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA) Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada Kamis (18/12/2025). (Indonesia Window)
Populasi burung berkicau endemik Indonesia, terutama di Pulau Jawa, merosot tajam akibat perburuan dan perdagangan.
Pasuruan, Jawa Timur (Indonesia Window) — Praktik perlombaan burung berkicau yang sempat marak di berbagai daerah Indonesia telah meninggalkan masalah serius terhadap kelestarian satwa. Populasi burung berkicau endemik Indonesia, terutama di Pulau Jawa, merosot tajam akibat perburuan dan perdagangan.Namun, upaya pemulihan satwa terancam punah tersebut dinilai masih sangat mungkin dilakukan.Hal itu disampaikan Komisaris PT Taman Safari Indonesia (TSI), Tony Sumampau, dalam acara Media Trip FOKSI (Forum Konservasi Satwaliar Indonesia) ke Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA) Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada Kamis (18/12).“Perlombaan burung dulu sangat marak, sekarang mulai berkurang perlahan. Tapi dampaknya sudah terasa, populasi burung turun drastis,” ujar Tony, seraya menekankan pentingnya edukasi agar kaum muda tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang dilakukan generasi sebelumnya.Menurut Tony, krisis burung berkicau di Asia Tenggara menjadi perhatian internasional, bahkan dibahas hingga di Singapura dalam Konferensi Tingkat Tinggi the Southeast Asian Songbird Crisis pada 2015 dan 2017.Dalam acara tersebut, lanjutnya, Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang mengalami penurunan populasi burung berkicau paling besar di dunia, dipicu oleh perilaku perburuan yang masif.Di tengah krisis tersebut, PCBA mengambil peran aktif melalui penangkaran dan pelepasliaran.“Di PCBA Prigen saat ini terdapat 255 kandang burung untuk konservasi, ditambah lebih dari 50 kandang di Taman Safari Bogor. Ini menunjukkan Indonesia tidak kalah dalam upaya menangkar, meningkatkan populasi, lalu melepasliarkan kembali burung ke alam,” urai Tony.
Foto kolase ini menunjukkan burung beo Simeulue (kiri) dan burung jalak putih Jawa (kanan) di kandang penangkaran Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA) Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada Jumat (19/12/2025). (Indonesia Window)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Taipan kertas asal Indonesia peroleh gelar Warga Kehormatan Shanghai
Indonesia
•
27 Dec 2022

Laporan ungkap lonjakan jumlah perempuan Australia yang tewas di tangan pasangan
Indonesia
•
05 May 2024

Sekjen PBB lihat ujian yang belum pernah terjadi terhadap multilateralisme
Indonesia
•
13 Sep 2022

COVID-19 – China imbau rumah sakit tingkatkan Pengobatan Tradisional China
Indonesia
•
01 Feb 2023


Berita Terbaru

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026
