
UE denda platform X 120 juta euro dalam putusan pertama pelanggaran UU Layanan Digital

Foto dokumentasi yang diabadikan pada 19 Februari 2025 ini menunjukkan Elon Musk sedang memegang mainan tiruan Air Force One setibanya di South Lawn Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Hu Yousong)
Platform media sosial X membuat desain tanda centang biru X yang menipu, kurang transparansi dalam repositori iklannya, dan gagal dalam memberikan akses data publik yang memadai bagi para peneliti.
Brussel, Belgia (Xinhua/Indonesia Window) – Komisi Eropa pada Jumat (5/12) menjatuhkan denda senilai total 120 juta euro kepada platform media sosial milik Elon Musk, X, karena melanggar kewajiban transparansi, dalam putusan ketidakpatuhan pertamanya berdasarkan Undang-Undang Layanan Digital (Digital Services Act/DSA).*1 euro = 19.418 rupiahMenurut rilis pers Komisi Eropa, denda tersebut berasal dari tiga pelanggaran yang berbeda terhadap DSA, termasuk desain tanda centang biru X yang menipu, kurangnya transparansi dalam repositori iklannya, dan kegagalan platform itu dalam memberikan akses data publik yang memadai bagi para peneliti.Penggunaan "tanda centang biru", yang dapat diperoleh pengguna mana pun dengan cara membayar, untuk menandakan sebuah akun merupakan "akun terverifikasi" (verified account) membuat para pengguna rentan terhadap penipuan, termasuk peniruan identitas dan bentuk manipulasi lainnya, papar Komisi Eropa.Komisi Eropa juga menambahkan bahwa repositori iklan di X tidak memenuhi persyaratan transparansi maupun aksesibilitas DSA, dan bahwa platform tersebut juga gagal memenuhi kewajibannya untuk memberikan akses data publiknya bagi para peneliti.Kasus ini menandai kali pertama Komisi Eropa mengeluarkan putusan ketidakpatuhan berdasarkan DSA. DSA, yang mulai berlaku setahun lalu, mengatur intermediari dan platform daring untuk mencegah aktivitas ilegal dan berbahaya di dunia maya serta penyebaran informasi palsu.Putusan tersebut ditetapkan setelah prosedur formal dibuka pada Desember 2023 untuk memeriksa apakah X melanggar DSA di area-area yang berkaitan dengan penyebaran konten ilegal dan kebijakan pemberantasan manipulasi informasi, yang penyelidikannya masih berlanjut.X merupakan salah satu perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS) yang diawasi ketat oleh Komisi Eropa. Komisi tersebut pada Kamis (4/12) membuka penyelidikan antimonopoli formal terhadap Meta terkait kebijakan baru yang dapat membatasi akses bagi penyedia kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terhadap WhatsApp. Pada September, Uni Eropa (UE) menjatuhkan denda sebesar 2,95 miliar euro kepada raksasa teknologi Google atas pelanggaran antimonopoli di sektor periklanan daring. Selanjutnya pada November, UE juga mengumumkan penyelidikan baru terhadap Google.AS telah berulang kali mengkritik langkah-langkah regulasi UE karena dianggap menyasar perusahaan-perusahaan Amerika. Google, Amazon, dan perusahaan-perusahaan lain belum lama ini menyatakan akan mengajukan banding atas keputusan regulasi UE terbaru.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pemerintah bebaskan investor migas pilih skema kontrak kerja sama
Indonesia
•
27 Sep 2020

Pakistan akan kembangkan lima koridor ekonomi di bawah China-Pakistan Economic Corridor
Indonesia
•
14 Mar 2024

Shanghai targetkan pertumbuhan PDB di atas 5,5 persen pada 2023
Indonesia
•
11 Jan 2023

Ford bukukan pertumbuhan pendapatan 11 persen di 2023
Indonesia
•
07 Feb 2024


Berita Terbaru

Kasus korupsi di Singapura menurun pada 2025
Indonesia
•
30 Apr 2026

Atasi lonjakan harga bahan bakar, Thai AirAsia kurangi jadwal penerbangan hingga 30 persen
Indonesia
•
30 Apr 2026

Perubahan tarif akan tambah 1,1 triliun dolar AS ke defisit anggaran ASdalam 10 tahun
Indonesia
•
30 Apr 2026

UEA keluar dari OPEC, sejalan dengan visi ekonomi jangka panjang
Indonesia
•
30 Apr 2026
