
Pesantren akan jadi sekolah paling diminati di era AI

Pesantren akan menjadi lembaga pendidikan masa depan yang paling dicari masyarakat di era arificial intelligence / kecerdasan buatan (AI), kata Menag Nasaruddin Umar saat memberikan sambutan sekaligus membuka Halaqah Nasional V Pimpinan Pondok Pesantren se-Indonesia di Jakarta, Senin (18/5). (Kementerian Agama RI)
Di tengah laju disrupsi teknologi yang luar biasa, sekolah yang berbasis sekuler dinilai berisiko kehilangan peran kemanusiaan karena terlalu bertumpu pada modernisasi digital.
Jakarta (Indopnesia Window) - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar optimistik bahwa pesantren akan menjadi lembaga pendidikan masa depan yang paling dicari masyarakat di era arificial intelligence / kecerdasan buatan (AI).
Menag Nasaruddin menyampaikan optimisme itu saat memberikan sambutan sekaligus membuka Halaqah Nasional V Pimpinan Pondok Pesantren se-Indonesia di Jakarta, Senin (18/5).
Di tengah laju disrupsi teknologi yang luar biasa, Menag menilai sekolah yang berbasis sekuler berisiko kehilangan peran kemanusiaan karena terlalu bertumpu pada modernisasi digital.
Sebaliknya, ekosistem pesantren justru memiliki benteng pertahanan yang tidak akan bisa direplikasi oleh teknologi secanggih apa pun.
"Kita tetap harus optimis, pesantren itu akan menjadi sekolah masa depan yang paling diminati oleh orang, apalagi Artificial Intelligence (AI) sekarang ini semakin canggih," ujar Menag.
Menag menjelaskan bahwa kecerdasan buatan memang sangat unggul dan cepat dalam melakukan transfer pengetahuan (transfer of knowledge). Kendati demikian, AI dinilai tidak memiliki 'jiwa' untuk menyentuh hati manusia, sehingga mustahil bisa melakukan transfer nilai-nilai luhur (transfer of value).
"AI itu bisa melakukan transfer of knowledge, tetapi AI tidak akan pernah bisa melakukan transfer of value. Ruang kosong spiritual, pembentukan akhlak, keteladanan, dan penguatan karakter inilah yang menjadi distingsi (perbedaan) mutlak mutiara pesantren di bawah bimbingan para kiai," jelas Menag.
Menag juga memberikan kritik reflektif terhadap epistemologi sains makro barat yang cenderung memaksa alam membuka rahasianya secara mekanis. Menag mengingatkan agar santri dan pengasuh pesantren tidak minder dengan modal kearifan lokal yang dimiliki.
Menurutnya, tradisi pesantren mengajarkan manusia untuk bersahabat dengan alam, sehingga alam secara sukarela membuka rahasianya kepada mereka yang bersih hatinya.
"Jangan sampai kita terjebak menyamakan institusi kita dengan sekolah umum yang gersang akan spiritualitas. Kekuatan kita ada pada keseimbangan intelektual dan batin," imbuhnya.
Menag berharap Halaqah Nasional V ini mampu melahirkan rekomendasi dan peta jalan strategis untuk memperkokoh posisi tawar pesantren sebagai benteng moral bangsa.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – Indonesia terima bantuan 207.000 dosis AstraZeneca dari Belanda
Indonesia
•
04 Sep 2021

Indonesia fasilitasi negosiasi PBB tentang inklusi keuangan
Indonesia
•
22 Nov 2019

Relawan MER-C: Serangan Israel terjadi tepat di depan tempat kami mengungsi
Indonesia
•
09 Jan 2024

FIFA coret Indonesia sebagai tuan rumah FIFA U-20 World Cup 2023
Indonesia
•
30 Mar 2023


Berita Terbaru

Presiden serahkan pesawat MRCA Rafale dan Sistem Pertahanan Modern untuk perkuat Pertahanan Udara Nasional
Indonesia
•
18 May 2026

Presiden resmikan Museum Marsinah untuk menghormati perjuangan pekerja
Indonesia
•
17 May 2026

Kemnaker buka pendaftaran bantuan TKM pemula 2026
Indonesia
•
15 May 2026

Animo tinggi, Polteknaker perpanjang masa pendaftaran SBP 2026 hingga 27 Mei
Indonesia
•
15 May 2026
