
Konflik di Sudan memanas, korban sipil terus bertambah

Seorang anak mencari makanan dari sebuah ember di kamp pengungsi di El Fasher, wilayah Darfur Utara, Sudan, pada 9 Juli 2025. (Xinhua/UNICEF)
Pertempuran sengit terus terjadi di Negara Bagian Darfur Utara, dengan banyak laporan mengenai korban sipil dalam beberapa hari terakhir.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Badan-badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (4/8) menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya konflik, bertambahnya korban sipil, dan memburuknya kondisi kemanusiaan di Sudan.Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) memberikan pembaruan mengenai tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di berbagai penjuru negara itu."Rekan-rekan humanitarian kami menyampaikan bahwa pertempuran sengit terus terjadi di Negara Bagian Darfur Utara, dengan banyak laporan mengenai korban sipil dalam beberapa hari terakhir," kata OCHA. Badan PBB itu menambahkan bahwa di El Fasher, ibu kota Negara Bagian Darfur Utara, bentrokan meletus pada Jumat (1/8) dan Sabtu (2/8), menyusul pertempuran sebelumnya antarkelompok bersenjata, termasuk di sekitar kamp pengungsi Abu Shouk.Kamp tersebut saat ini menampung 25.000 orang.OCHA menyebutkan bahwa setahun setelah bencana kelaparan terkonfirmasi di Zamzam, sebuah kamp pengungsi lain di pinggiran El Fasher, kota tersebut masih terkepung, dan warganya menghadapi kelaparan. Tidak ada pengiriman bantuan makanan melalui jalur darat (jalan) selama lebih dari setahun.Di Negara Bagian Kordofan Utara, Kota Um Sumeima dilaporkan beberapa kali "berpindah tangan" dalam beberapa pekan terakhir, menunjukkan betapa tidak stabilnya garis depan, ungkap OCHA. Warga sipil tetap terjebak dan akses mereka terhadap bantuan sangat terbatas.OCHA juga melaporkan bahwa wabah kolera terus menyebar dengan cepat di Darfur.Di Darfur Utara, khususnya di wilayah Tawila, hampir 1.200 kasus kolera telah dilaporkan sejak akhir Juni, termasuk sekitar 300 kasus pada anak-anak dan setidaknya 20 kematian.Di Darfur Selatan, otoritas kesehatan mencatat lebih dari 1.100 kasus dugaan kolera dan 64 kematian sejak akhir Mei, dengan laporan terbaru menunjukkan tingkat kematian kasus lebih dari 6 persen. Kelangkaan pasokan medis, air bersih, dan layanan sanitasi sangat menghambat respons kemanusiaan, kata OCHA.Di Negara Bagian Khartoum, OCHA melaporkan konfirmasi keberadaan ranjau darat di berbagai lokasi. Ranjau antipersonel dan antikendaraan ditemukan di Mogran, Omdurman, dan Bahri."Ranjau-ranjau ini tidak hanya melukai dan membunuh warga sipil, tetapi juga menghalangi akses menuju layanan kesehatan, pasar, dan bantuan kemanusiaan," lanjut OCHA.OCHA menyebutkan bahwa banjir di Negara Bagian Nil Biru telah menyebabkan lebih dari 100 orang mengungsi di Ed Damazine, ibu kota negara bagian tersebut, serta menghancurkan sedikitnya 200 tenda di kamp Al-Karama pada Jumat. Ini menjadi tantangan terbaru yang dihadapi orang-orang yang mengungsi dari rumah mereka akibat konflik."Di tengah krisis yang bertumpang tindih ini, OCHA sekali lagi menyerukan akses kemanusiaan yang berkelanjutan di seluruh Sudan dan peningkatan dukungan internasional bagi masyarakat rentan di negara tersebut," kata badan kemanusiaan itu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Rencana Jepang buang sampah Nuklir ke Laut China Selatan langgar HAM
Indonesia
•
25 Feb 2023

Fokus pada tumbuh kembang anak, Muslim LifeFair jadi destinasi liburan keluarga akhir tahun
Indonesia
•
12 Dec 2024

Siswa AS makin tertinggal dalam hal kemampuan membaca, matematika, dan sains
Indonesia
•
11 Sep 2025

Lebih dari 1.500 orang tewas akibat gempa Turkiye dan Suriah
Indonesia
•
06 Feb 2023


Berita Terbaru

Minum kopi khop serentak dengan lebih dari 2.000 peserta cetak rekor MURI di HUT ke-438 Kota Meulaboh
Indonesia
•
13 Oct 2026

Feature – 50 juta eksemplar per tahun pada era kejayaan, komik Hong Kong kini mencari jalan bangkit
Indonesia
•
13 Oct 2026

Fokus Berita – Gempa 7,7 guncang Panama, lebih dari 40 gempa susulan picu kepanikan
Indonesia
•
11 Oct 2026

Feature – Lelah dengan hidup serba cepat? ‘Forest therapy’ bantu tenangkan diri, turunkan tekanan darah
Indonesia
•
11 Oct 2026
