Perlindungan ekologis dorong pariwisata pedesaan di China barat laut

Foto dari udara yang diabadikan pada 13 Juli 2021 ini menunjukkan sawah terasering di wilayah Pengyang di Guyuan, Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia, China barat laut. (Xinhua/Feng Kaihua)

Ditunjuk sebagai zona percontohan untuk mempromosikan perlindungan ekologis dan pembangunan berkualitas tinggi cekungan Sungai Kuning, Ningxia telah memperbaiki kondisi lanskapnya melalui berbagai upaya pemulihan ekologis.

 

Jakarta (Indonesia Window) – Musim panas ini, Ma Bingfeng sibuk dengan pekerjaannya di sebuah hostel yang berbentuk gua hunian tradisional di area Gunung Liupanshan di Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia, China barat laut. Bekerja sebagai tenaga kebersihan, staf pembantu di dapur, dan pramusaji, perempuan itu merasa senang karena penghasilannya meningkat.

“Saya bekerja di hostel di dekat rumah saya selama puncak liburan musim panas. Saya mendapat penghasilan 2.400 yuan (5,1 juta rupiah) sebulan, lebih besar daripada penghasilan yang saya dapatkan dari panen sawah tiap tahunnya di masa lalu,” tutur Ma.

Pengyang dan wilayah-wilayah sekitarnya mengalami ledakan pariwisata pedesaan sejak area Xihaigu di Ningxia tengah dan selatan terentaskan dari kemiskinan.

“Pariwisata pedesaan merupakan program pembangunan ekonomi utama di Pengyang, yang kaya dengan keindahan alamnya, seperti air terjun dan sawah terasering. Selain itu, wilayah ini memiliki sejumlah situs revolusioner,” kata Chen Zhenneng, seorang pejabat lokal yang dikirim oleh pemerintah Provinsi Fujian di China timur sebagai bagian dari kerja sama perpasangan dengan Ningxia.

Atraksi pariwisata utama di dekat hostel tempat Ma bekerja adalah sebuah taman sawah terasering yang tercantum dalam pamflet pariwisata nasional karena panorama sawah teraseringnya yang unik.

Warga setempat sebelumnya menyebut tempat itu sebagai “kepala seorang biksu” karena keadaannya yang gundul atau gersang, dan “parit tanpa air” karena kondisinya yang begitu kering. Selama bertahun-tahun, erosi tanah dan kelangkaan air menjadi masalah utama di area itu, yang memengaruhi kehidupan sehari-hari warga setempat.

Para petani di area Gunung Liupanshan sebelumnya menghabiskan waktu mereka mencari air untuk mengairi lahan pertanian yang gersang itu dan memasok keluarga dengan sedikit air.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, semua itu telah berubah.

Ditunjuk sebagai zona percontohan untuk mempromosikan perlindungan ekologis dan pembangunan berkualitas tinggi cekungan Sungai Kuning, Ningxia telah memperbaiki kondisi lanskapnya melalui berbagai upaya pemulihan ekologis.

Dari 2016 hingga 2020, area Ningxia yang mengalami erosi tanah menyusut dari 19.600 kilometer persegi menjadi 15.700 kilometer persegi, menurut data statistik resmi.

Dengan berbagai upaya dari generasi ke generasi dan investasi pemerintah, bukit-bukit di Xihaigu menjadi contoh bagi pemulihan ekologis dan pariwisata pedesaan.

Jia Tingmin, seorang mantan buruh migran di Desa Yuwa di wilayah Pengyang, kembali ke rumahnya pada 2015 untuk membangun penginapan berbentuk gua bagi wisatawan setelah pemerintah setempat mulai menggenjot pariwisata.

“Seluruh 20 kamar penginapan saya yang berbentuk gua sering kali penuh dipesan selama puncak musim liburan,” tutur Jia, yang terpilih sebagai kader desa untuk memimpin warga setempat dalam meningkatkan kesejahteraan.

Ledakan pariwisata pedesaan di Pengyang membantu mendorong penjualan hasil pertanian maupun produk kerajinan lokal, dan karenanya meningkatkan pendapatan warga setempat.

Memainkan peran utama dalam pengentasan kemiskinan, renovasi dan perlindungan ekologis tetap menjadi prioritas utama.

Zhang Huimin, seorang pejabat di wilayah Longde, yang bertetangga dengan Pengyang, mengatakan wilayah tersebut telah menutup pabrik-pabrik yang menimbulkan polusi dan mendirikan pusat-pusat pengolahan air limbah guna melindungi sumber daya air di Sungai Yuhe, salah satu anak Sungai Kuning.

“Bebek liar yang sempat menghilang dari Sungai Yuhe kini telah kembali,” ujar Gao Junyuan, seorang pejabat desa setempat, menambahkan bahwa selama bertahun-tahun, warga telah meningkatkan kesadaran mereka akan perlindungan air.

*1 yuan = 2.163 rupiah

Sumber: Xinhua

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan