
Jepang gelar pemilu saat musim ujian masuk universitas, PM Takaichi kena semprot

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi (kanan, depan) menyampaikan pidato bersama Hirofumi Yoshimura (kiri, depan), ketua Partai Inovasi Jepang, dalam acara kampanye di Tokyo, Jepang, pada 27 Januari 2026. (Xinhua/Jia Haocheng)
Pemilihan anggota DPR Jepang akan digelar pada 8 Februari 2026, bulan yang bertepatan dengan puncak musim ujian masuk universitas di seluruh negara tersebut.
Tokyo, Jepang (Xinhua/Indonesia Window) – Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi menerima semakin banyak kecaman terkait waktu penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) mendatang, seiring para tokoh oposisi dan pendidikan memperingatkan bahwa pemilu tersebut dapat mengganggu ujian masuk universitas dan mengurangi partisipasi kaum muda.
Pemilu yang dijadwalkan pada 8 Februari itu akan menjadi pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Jepang pertama yang diadakan pada Februari sejak 1990, bulan yang bertepatan dengan puncak musim ujian masuk universitas di seluruh Jepang.
Takaichi, yang secara tiba-tiba membubarkan majelis rendah pada Januari, mendesak para siswa untuk memanfaatkan pemungutan suara lebih awal. Namun, Toshiko Takeya, seorang pemimpin dari Partai Komeito, mengatakan bahwa beban yang ditanggung oleh peserta ujian akan sangat berat, seraya menyebut langkah Takaichi "sangat tidak masuk akal", demikian dikutip oleh Kyodo News.
Sementara itu, Yoshihiko Noda, salah satu pemimpin Aliansi Reformasi Sentris yang baru dibentuk, mengatakan bahwa pemilu itu dapat merampas kesempatan kaum muda yang ingin mengikuti pemilu "demi masa depan mereka sendiri" untuk memberikan suara.
Kekhawatiran juga terpusat pada potensi dampak kampanye yang berisik di dekat sekolah dan lokasi ujian. Meskipun undang-undang pemilihan pejabat publik Jepang mendesak para kandidat untuk menghindari aktivitas yang berisik di sekitar lembaga pendidikan, undang-undang itu tidak menyertakan sanksi.
Seraya menyatakan bahwa pengendalian diri secara sukarela oleh sebagian kandidat saja mungkin tidak cukup untuk melindungi para siswa selama ujian yang begitu penting, Kaori Suetomi, seorang profesor administrasi pendidikan di Universitas Nihon, mengatakan bahwa ketumpangtindihan tersebut menggarisbawahi perlunya meninjau kembali aturan hukum tentang waktu pemilu dan praktik kampanye.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China-Rusia kerahkan kapal penjelajah rudal, kapal selam, dan marinir dalam Joint Sea-2026
Indonesia
•
06 Jul 2026

Pelaku penembakan massal di Walmart El Paso yang tewaskan 23 orang tidak akan dihukum mati
Indonesia
•
23 Apr 2025

ATMIS tingkatkan persiapan untuk tarik 2.000 tentara dari Somalia
Indonesia
•
17 May 2023

Tim investigasi gabungan Korsel akan panggil Presiden Yoon atas tuduhan pemberontakan
Indonesia
•
16 Dec 2024


Berita Terbaru

Tiga pilot Iran diklaim ditahan Qatar, Teheran minta tim pencari fakta masuk
Indonesia
•
17 Aug 2026

Serangan Houthi lumpuhkan Pelabuhan Mocha, kerugian Yaman capai 286 miliar rupiah
Indonesia
•
16 Aug 2026

Iran bantah klaim Trump, tegaskan kendali penuh atas Selat Hormuz
Indonesia
•
15 Aug 2026

Pilot Air India positif ganja, tes narkoba kini wajib bagi seluruh pilot
Indonesia
•
15 Aug 2026
