
Cedera, infeksi, dan kelaparan jadi penyebab utama kematian penguin khas Selandia Baru

Sejumlah penguin mengikuti parade di Harbin, Provinsi Heilongjiang, China timur laut, pada 26 November 2024. Sepuluh ekor penguin di Harbin Polarpark dibawa keluar untuk berparade di kota itu pada Selasa (26/11). (Xinhua/Zhang Tao)
Penyakit menular dan inflamasi adalah penyebab kematian paling umum di kalangan penguin mata kuning, mencakup lebih dari 43 persen diagnosis untuk penguin mata kuning. Sementara itu, cedera traumatis paling umum terjadi di kalangan penguin kecil dengan persentase hampir 43 persen.
Wellington, Selandia Baru (Xinhua/Indonesia Window) – Cedera, infeksi, dan kelaparan merupakan penyebab utama kematian penguin khas Selandia Baru, menyoroti meningkatnya ancaman terhadap burung laut ikonik tersebut dan tantangan dalam memantau kesehatan mereka. Demikian diungkap sebuah studi.Mengacu pada lebih dari 1.400 entri dalam basis data autopsi satwa liar nasional, para peneliti dari Kebun Binatang Auckland, Universitas Massey, dan Departemen Konservasi Selandia Baru serta Universitas Murdoch di Australia menemukan pola yang mencolok dalam penyebab kematian hewan tersebut.Studi yang diterbitkan pada Kamis (1/5) dalam jurnal PLOS One tersebut terutama berfokus pada penguin mata kuning (yellow-eyed penguin) dan penguin kecil (little blue penguin), yang secara kolektif membentuk bagian besar dari kumpulan data tersebut.Analisis terhadap data autopsi mengungkap bahwa penyakit menular dan inflamasi adalah penyebab kematian paling umum di kalangan penguin mata kuning, mencakup lebih dari 43 persen diagnosis untuk penguin mata kuning. Sementara itu, cedera traumatis paling umum terjadi di kalangan penguin kecil dengan persentase hampir 43 persen.Kasus penguin dengan tubuh kurus ditemukan pada lebih dari sepertiga dari total kasus untuk seluruh spesies, menurut studi itu. Temuan ini disebut mencerminkan kekhawatiran dalam literatur konservasi bahwa populasi penguin sedang menghadapi penurunan ketersediaan makanan, meningkatnya predasi, dan degradasi lingkungan.Namun, studi tersebut juga menyoroti keterbatasan data yang signifikan. Sebagai contoh, meskipun wilayah jelajahnya terpencil, jumlah penguin mata kuning terlampau banyak karena adanya upaya konservasi yang terkonsentrasi, sementara pelaporan untuk spesies lainnya masih tergolong kurang.Dengan enam dari 18 spesies penguin di dunia berkembang biak di Selandia Baru, dan sebagian besar dianggap terancam punah, temuan tersebut menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan sistem pemantauan kesehatan satwa liar.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Tanpa AC raksasa, teknologi kabut air di China mampu turunkan suhu lingkungan
Indonesia
•
09 Jul 2026

Studi sebut vaksin COVID-19 bukan penyebab kematian mendadak di India
Indonesia
•
25 Nov 2023

Misbar Al-Amal wahana antarplanet pertama dari dunia Islam
Indonesia
•
20 Jul 2020

Ukiran batu prasejarah berusia 23.000 tahun ditemukan di Situs Warisan UNESCO di Portugal
Indonesia
•
06 Jul 2026


Berita Terbaru

China bantah AI-nya “meniru” AS: Kami membangunnya dengan kekuatan sendiri
Indonesia
•
10 Sep 2026

XPeng mulai produksi massal robot humanoid, IRON siap dijual ke dunia pada 2027
Indonesia
•
09 Sep 2026

Makam berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir
Indonesia
•
09 Sep 2026

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026
