
UNICEF: 3,4 juta anak di Sudan berisiko tinggi terkena penyakit epidemi mematikan

Wanita dan anak-anak terlihat di dalam sebuah rumah yang sebagian hancur akibat hujan lebat di Kota Abu Hamad, Negara Bagian Sungai Nil, Sudan utara, pada 10 Agustus 2024. (Xinhua/Dewan Kedaulatan Transisi Sudan)
Penyakit epidemi, seperti kolera, malaria, campak, dan demam berdarah, menyebar di Sudan, hingga menyebabkan ratusan warga meninggal.
Khartoum, Sudan (Xinhua/Indonesia Window) – Menurut perkiraan, sebanyak 3,4 juta anak di bawah usia lima tahun berisiko tinggi terkena penyakit epidemi mematikan di Sudan, demikian disampaikan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) pada Selasa (17/9) dalam sebuah pernyataan.Akibat hujan lebat dan banjir di Sudan, berbagai penyakit, seperti kolera, malaria, demam berdarah, campak, dan rubela, "dapat menyebar lebih cepat dan kian memperburuk prospek anak-anak di negara-negara bagian dan sekitarnya yang terdampak," kata Perwakilan UNICEF untuk Sudan Sheldon Yett sebagaimana dikutip dari pernyataan tersebut.Krisis ini berasal dari penurunan signifikan dalam tingkat vaksinasi dan kerusakan infrastruktur kesehatan, air, sanitasi, dan kebersihan akibat konflik internal yang sedang berlangsung, ujar Sheldon Yett. Dia menambahkan bahwa memburuknya status gizi pada banyak anak di Sudan mengancam mereka dengan risiko yang lebih besar lagi.UNICEF telah mengirimkan 404.000 dosis vaksin kolera oral ke Sudan pada 9 September, ungkap pernyataan itu.Menurut UNICEF, cakupan vaksinasi di Sudan merosot menjadi sekitar 50 persen dari 85 persen sebelum konflik internal.Lebih dari 70 persen rumah sakit di daerah-daerah yang terdampak konflik tidak beroperasi, dan tenaga kesehatan di garis depan belum dibayar selama berbulan-bulan, lanjut pernyataan tersebut.Sejak pecahnya konflik antara Angkatan Bersenjata Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat (Rapid Support Forces/RSF) pada April 2023, penyakit-penyakit epidemi, seperti kolera, malaria, campak, dan demam berdarah, menyebar hingga menyebabkan ratusan warga meninggal. Konflik itu telah mengakibatkan sedikitnya 16.650 orang meninggal dunia dan jutaan orang mengungsi.Menteri Kesehatan Sudan Haitham Mohamed Ibrahim secara resmi mengumumkan wabah kolera di negara tersebut pada 17 Agustus. Kementerian itu mengaitkan penyebaran kolera dengan memburuknya kondisi lingkungan yang disebabkan oleh konflik dan penggunaan air yang tidak bersih.
Foto yang diabadikan pada 26 Juli 2024 ini menunjukkan orang-orang di sebuah daerah yang terendam banjir di Kota Kassala, Sudan bagian timur. (Xinhua/Mohamed Osman Al-Zain)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Warga Suriah korban perang buka puasa bersama di tengah reruntuhan di Damaskus
Indonesia
•
06 Mar 2025

Fokus Berita – Gaza hadapi krisis kemanusiaan yang semakin buruk meski gencatan senjata berlaku
Indonesia
•
02 Dec 2025

Sedikitnya 10 warga Palestina tewas dalam penembakan Israel di Jalur Gaza tengah
Indonesia
•
25 Sep 2024

China rayakan Hari Anak Sedunia
Indonesia
•
22 Nov 2022


Berita Terbaru

Surat dari Timur Tengah: Tanah Air dirampas, Tatreez menjaga ingatan Palestina tetap hidup
Indonesia
•
08 Sep 2026

2.500 lebih personel penyelamat dikerahkan ke pelabuhan Gyirong yang dilanda tanah longsor di Xizang China
Indonesia
•
07 Sep 2026

China perkuat respons bencana Nepal dengan data satelit dan bantuan kemanusiaan
Indonesia
•
06 Sep 2026

Dari pertukaran berita hingga jurnalis, Forum Shenzhen dorong kolaborasi media
Indonesia
•
06 Sep 2026
