
Utusan China sebut menolak gencatan senjata di Gaza sama halnya beri izin membunuh

Zhang Jun (tengah, depan), perwakilan tetap China untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memberikan suara mendukung rancangan resolusi Dewan Keamanan yang menuntut gencatan senjata kemanusiaan segera di Gaza, di kantor pusat PBB di New York, Amerika Serikat, pada 20 Februari 2024. (Xinhua/Xie E)
Penolakan terhadap gencatan senjata di Gaza sama halnya memberikan lampu hijau pembantaian terus berlanjut.
PBB (Xinhua) – Menyusul veto Amerika Serikat (AS) terhadap draf resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menuntut gencatan senjata kemanusiaan segera di Gaza, seorang utusan China pada Selasa (20/2) mengatakan bahwa penolakan terhadap gencatan senjata di Gaza sama halnya memberikan lampu hijau pembantaian terus berlanjut.Draf resolusi tersebut memperoleh 13 suara setuju dari 15 anggota Dewan Keamanan. Sementara itu, Inggris memilih abstain.China mengungkapkan kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap veto AS, kata Zhang Jun, perwakilan tetap China untuk PBB.Aljazair, yang mewakili negara-negara Arab, mengajukan draf resolusi yang menuntut gencatan senjata segera di Gaza, pembebasan segera semua sandera, jaminan akses terhadap bantuan kemanusiaan, dan penolakan terhadap relokasi paksa. Resolusi tersebut, yang berlandaskan pada aturan dasar kemanusiaan, sangat dibutuhkan oleh situasi di lapangan dan patut mendapatkan dukungan dari semua anggota Dewan Keamanan, ujarnya dalam sebuah keterangan usai pemungutan suara itu.Aljazair, yang menunjukkan alasan, ketulusan, dan sikap terbuka, telah melakukan konsultasi yang mendalam dan ekstensif dengan semua pihak mengenai draf resolusi tersebut dan menerima banyak gagasan konstruktif, yang membuat draf resolusi tersebut menjadi lebih berimbang, tuturnya. "Hasil pemungutan suara hari ini dengan jelas menunjukkan bahwa dalam isu gencatan senjata untuk menghentikan pertempuran di Gaza, bukan karena Dewan Keamanan tidak memiliki konsensus yang kuat, melainkan penggunaan hak veto oleh AS-lah yang melumpuhkan konsensus dewan."
Orang-orang memeriksa kerusakan pascaserangan udara Israel di kamp pengungsi Nuseirat, Jalur Gaza tengah, pada 20 Februari 2024. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature - Pilah sampah dari rumah sehatkan lingkungan
Indonesia
•
20 Oct 2019

PBB: Sekitar 18 juta orang di Sudan terancam kerawanan pangan akibat musim paceklik mendatang
Indonesia
•
07 Feb 2024

Nha jadi wanita Vietnam pertama capai puncak Gunung Everest
Indonesia
•
26 May 2022

Feature – Warga Palestina hidup dalam ketakutan saat Israel kembali gempur Gaza
Indonesia
•
02 Dec 2023


Berita Terbaru

Feature – Mengintip keseruan ajang Muse Super Anime Pop Up 2026 bagi pencinta anime di Jakarta
Indonesia
•
11 Apr 2026

Feature – Universitas di Iran tetap jalankan misi pendidikan di tengah pengeboman
Indonesia
•
08 Apr 2026

Feature – Si miskin Zhang Xue ciptakan sepeda motor balap yang menangkan kejuaraan dunia
Indonesia
•
08 Apr 2026

Feature – Mau anak lebih cerdas, ajari bahasa ibu sejak dini
Indonesia
•
06 Apr 2026
