Feature – Mahasiswi Indonesia raup pengalaman berharga selama kuliah di China

Mahasiswa Indonesia bernama Maria menyanyikan lagu pop China dalam sebuah acara. (Sumber: Istimewa)

Yinchuan, China (Xinhua/Indonesia Window) – "Selama menempuh pendidikan di China beberapa tahun ini, saya merasa aman, nyaman, dan mendapatkan banyak pengalaman berharga. Saya berharap bisa tetap tinggal dan bekerja di sini," ujar Maria. Mahasiswi asal Indonesia itu mengenakan batik tradisional bermotif elegan, tampak anggun dan ramah saat berbincang hangat dengan wartawan menggunakan bahasa Mandarin yang fasih.

Menjelang kelulusan, Maria sudah memiliki rencana karier yang jelas. Dia ingin bekerja di salah satu kampus di China sebagai pengajar bahasa Indonesia, atau kembali ke Indonesia untuk terus berkecimpung di bidang pendidikan bahasa Mandarin. "Apa pun pilihannya nanti, hubungan saya dengan China dan bahasa Mandarin pasti akan terus berlanjut."

Perempuan berusia 28 tahun dari Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur, itu merupakan mahasiswa pascasarjana angkatan 2023 jurusan Bahasa dan Sastra Mandarin di Universitas Ningxia. Baginya, China adalah negara yang kaya akan sejarah dan budaya, penuh pesona dan keunikan. Setelah lulus SMA, Maria melanjutkan studi di jurusan Bahasa dan Sastra Mandarin di Surabaya International Institute of Business and Technology (SIIBT) Surabaya. Pada 2018, melalui program kerja sama internasional ‘2+2’, dia berkesempatan melanjutkan studi di Chongqing, China barat daya.

"Belajar bahasa Mandarin bukanlah hal yang mudah," kata Maria. Menurutnya, bahasa Indonesia merupakan bahasa fonetis yang relatif sederhana dalam pelafalan, sedangkan bahasa Mandarin adalah bahasa ideografis yang mengandung makna dalam bentuk karakter serta memiliki perbedaan arti melalui nada. Selain itu, konotasi budaya dan cara penyampaiannya juga sangat berbeda. "Walaupun sulit, justru di situlah letak menariknya bahasa Mandarin. Sangat menantang sekaligus membuat orang penasaran," ujarnya.

Untuk meningkatkan kemampuan bahasa Mandarinnya, dia giat belajar, melatih pelafalan dan menulis Hanzi, membaca buku, mempelajari lagu-lagu Mandarin, hingga menonton drama dan film China untuk melatih kemampuan mendengar dan berbicara. Di waktu senggang, dia juga senang berinteraksi langsung dengan masyarakat China, mulai dari mempelajari cara berkomunikasi hingga memahami pola pikir mereka. Menurutnya, pengalaman seperti itu sangat membantu dalam memahami perbedaan budaya sekaligus meningkatkan kemampuan bahasa Mandarin dengan cepat.

Setelah menyelesaikan program sarjana, Maria sempat mengajar bahasa Mandarin di sekolah tiga bahasa di Bali dan sekolah nasional plus di Surabaya. Dia mengajar siswa dari berbagai suku dan latar belakang, baik keturunan Tionghoa maupun siswa lokal Indonesia. "Di Indonesia, jumlah masyarakat keturunan Tionghoa cukup banyak. Minat belajar bahasa Mandarin juga sangat tinggi. Bahkan sekarang, dari berbagai suku di Indonesia, sudah banyak keluarga yang ingin anak-anak mereka belajar bahasa Mandarin. Jadi, ini juga menjadi peluang besar bagi kami untuk mengajarkan bahasa Mandarin," jelasnya.

Pengalaman mengajar selama tiga tahun membuat Maria semakin memahami perbedaan budaya, bahasa, dan pola pikir antara Indonesia dan China. Dia juga merasa masih perlu memperdalam kemampuan bahasa dan pemahaman budaya China. Karena itulah, dia memutuskan kembali ke China untuk melanjutkan studi.

Pada September 2023, Maria resmi diterima di Universitas Ningxia untuk menempuh pendidikan pascasarjana di bidang Bahasa dan Sastra Mandarin. Kesempatan kembali belajar di China setelah tiga tahun membuatnya sangat bersemangat. Hampir setiap ada waktu luang, dia menghabiskan waktunya di perpustakaan.

"Di Indonesia, saya juga suka pergi ke perpustakaan untuk belajar. Tidak terlalu banyak orang, tempat duduk cukup, dan suasananya sedikit santai. Namun, setelah sampai di Universitas Ningxia, setiap ingin pergi ke perpustakaan harus datang lebih awal jika ingin mendapatkan tempat duduk. Melihat teman-teman dari China begitu rajin belajar membuat saya ikut termotivasi untuk lebih giat belajar," katanya.

Seperti mahasiswa internasional lainnya, selama kuliah Maria tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa Mandarinnya, tetapi juga aktif mengikuti berbagai kegiatan budaya. Dia mempelajari kaligrafi, seni gunting kertas, tai chi, dan berbagai kegiatan budaya tradisional China lainnya. Dia juga semakin memahami warisan budaya tradisional China yang telah diwariskan selama ribuan tahun. Dalam pertunjukan seni kampus, dia pernah menyanyikan lagu Mandarin seperti ‘Denghuo Li De Zhongguo’ dan ‘Nanniwan’, mengenakan hanfu sambil membacakan puisi klasik China, serta mengagumi keindahan sastra Mandarin dan merasakan semangat cinta tanah air masyarakat China. Dia juga mengikuti kunjungan museum, program kunjungan ke sekolah dasar dan menengah, hingga persiapan mengikuti lomba pengajaran bahasa Mandarin internasional. Dari pengalaman tersebut, dia semakin memahami makna ‘mengajar dan belajar’. Semua pengalaman itu memberinya banyak pelajaran sekaligus melatih kemampuan mengajarnya.

Keamanan, kehangatan, dan keramahan masyarakat China membuat mahasiswa internasional merasa betah. Suasana kampus yang terbuka dan inklusif juga membuat mahasiswa setempat dan internasional hidup rukun, harmonis, serta saling membantu.

"China sangat aman. Keluar malam sendirian pun saya tidak khawatir. Bahkan laptop yang tertinggal di perpustakaan selama beberapa hari juga tidak hilang. Dosen dan teman-teman juga sangat baik, jadi saya merasa nyaman tinggal di sini," ujar Maria. Sebagai mahasiswa asing, hal yang paling dia rasakan adalah lingkungan keamanan sosial di China yang sangat baik. Saat hari libur, dia senang bersepeda di sekitar Pegunungan Helan, berjalan-jalan menikmati suasana kota, atau berkeliling China dengan kereta cepat untuk merasakan keberagaman budaya dan adat istiadat.

Saat ini, sembari mempersiapkan sidang tesis, Maria juga mulai mencari lowongan pekerjaan dan mengirim lamaran ke beberapa sekolah. Seiring hubungan dan pertukaran budaya antara China dan Indonesia semakin erat, dirinya optimistis akan semakin banyak peluang kerja sama di bidang pendidikan dan budaya, serta berharap dapat menerapkan ilmu yang telah dipelajarinya.

"Saya ingin membantu anak muda China yang tertarik belajar bahasa Indonesia, atau membawa pengetahuan bahasa Mandarin yang saya pelajari serta cerita-cerita tentang China kembali ke kampung halaman saya. Itu yang ingin saya lakukan," katanya.

Mengikuti jejaknya, sang adik kini juga menempuh pendidikan pascasarjana di China dengan jurusan Manajemen Pariwisata di Universitas Yangzhou. "Menguasai bahasa Mandarin membuka banyak peluang. Kami berharap bisa ikut berkontribusi dalam mempererat hubungan persahabatan Indonesia dan China."

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait