
Peneliti China buat kemajuan dalam standarisasi pengukuran respirasi tanah

Foto dari udara yang diabadikan pada 13 Juli 2021 ini menunjukkan padang rumput yang telah dipulihkan di tepi Sungai Kuning di wilayah Maqu, Prefektur Otonom Etnis Tibet Gannan di Provinsi Gansu, China barat laut. (Xinhua/Chen Bin)
Pengukuran respirasi tanah yang terstandarisasi dan akurat dilakukan dengan mengevaluasi penyebaran ‘kerah tanah’ (soil collar) jangka pendek dan jangka panjang untuk menilai efek metodologis pada respirasi tanah.
Lanzhou, China (Xinhua) – Para peneliti China membuat kemajuan dalam pengukuran respirasi tanah yang terstandarisasi dan akurat, menurut Universitas Lanzhou.Sebuah studi baru membantu para peneliti mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang siklus karbon terestrial dalam ekosistem, kata He Jinsheng, pemimpin studi itu sekaligus profesor di Universitas Lanzhou.Respirasi tanah menyumbang fluks karbon terbesar kedua antara atmosfer dan ekosistem terestrial. Studi tersebut mengusulkan sejumlah protokol pengukuran baru untuk meningkatkan akurasi perkiraan fluks karbon antara atmosfer dan ekosistem terestrial, serta membantu mengevaluasi kesehatan tanah, tambahnya.Tim peneliti tersebut melakukan eksperimen lapangan dari 2017 hingga 2019 di padang rumput pegunungan di Prefektur Otonom Etnis Tibet Haibei di Provinsi Qinghai, China barat laut.Para peneliti mengevaluasi penyebaran ‘kerah tanah’ (soil collar) jangka pendek dan jangka panjang untuk menilai efek metodologis pada respirasi tanah di padang rumput tersebut."Kerah tanah" merupakan bagian pendek pipa PVC dengan satu ujung miring yang dimasukkan ke dalam tanah yang menciptakan segel kedap udara antara tanah dan ruang pengambilan sampel, menurut He.Para peneliti menemukan bahwa kepadatan massa tanah yang lebih tinggi dikombinasikan dengan akar yang lebih rendah dan biomassa mikroba di dalam collar yang dipasang dalam jangka panjang dapat menjelaskan penurunan respirasi tanah dan sensitivitas suhu.Hasil studi tersebut telah dipublikasikan secara daring di jurnal Methods in Ecology and Evolution.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Perusahaan China luncurkan ‘fracturing solution’ untuk ekstraksi minyak dan gas nonkonvensional
Indonesia
•
23 Sep 2025

Daur ulang ‘tailwater’ di Kota Tangshan China tingkatkan produksi akuakultur
Indonesia
•
31 Jan 2023

Puluhan landak Jawa kembali ke habitat alam
Indonesia
•
13 Nov 2019

Feature – Menengok kota masa depan di Hong Kong yang hadirkan berbagai teknologi mutakhir
Indonesia
•
05 Jul 2023


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
