China dorong misi antariksa dengan Eropa di tengah agenda eksplorasi yang ambisius

Foto yang diabadikan dan ditransmisikan kembali ke Bumi secara otonomos oleh wahana penjelajah (rover) mini yang dirilis dari kombinasi pendarat (lander) dan pendaki (ascender) wahana Chang'e-6 ini menunjukkan wujud kombinasi keduanya di permukaan Bulan pada 3 Juni 2024. (Xinhua/CNSA)
Pengembangan detektor di orbit untuk misi antariksa gabungan China-Eropa telah selesai, dan siap untuk diintegrasikan ke dalam platform satelit yang berlokasi di Eropa pada tahun ini.
Beijing, China (Xinhua) – Pengembangan detektor di orbit untuk misi antariksa gabungan China-Eropa telah selesai, dan siap untuk diintegrasikan ke dalam platform satelit yang berlokasi di Eropa pada tahun ini, menurut kepala ilmuwan misi tersebut.Solar Wind Magnetosphere Ionosphere Link Explorer (SMILE) merupakan misi antariksa gabungan antara Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) dan Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA) yang bertujuan memperdalam pemahaman mengenai hubungan Matahari-Bumi dengan mengamati interaksi dinamis antara angin surya dan magnetosfer Bumi.SMILE dijadwalkan akan diluncurkan pada 2025 dari pusat peluncuran antariksa Eropa di Kourou, Guyana Prancis, kata Wang Chi, Direktur Pusat Ilmu Pengetahuan Antariksa Nasional (National Space Science Center/NSSC) yang berada di bawah naungan CAS, pada Konferensi Internasional pertama mengenai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Antariksa, yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Beijing, pada Sabtu (15/6).Dalam pertemuan tersebut, Wang menyoroti agenda berwawasan ke depan China untuk eksplorasi luar angkasa, menekankan penelitian perintis tentang materi gelap dan gelombang gravitasi di luar angkasa, pencarian planet yang dapat dihuni dan tanda-tanda kehidupan alien, serta kemajuan ilmu biologi dan fisika berbasis luar angkasa.Wang mengumumkan proyek Hongmeng, yang juga dikenal sebagai Discovering the Sky at the Longest Wavelengths (DSL), yang merupakan upaya inovatif yang bertujuan untuk mengungkap misteri Zaman Kegelapan alam semesta dengan menggunakan gelombang radio tingkat megahertz. Misi tersebut dirancang untuk menyertakan satu satelit induk dan sembilan satelit anak yang beroperasi di orbit sirkular Bulan pada ketinggian 300 kilometer, ungkap Wang.Selain itu, dalam peta jalan eksplorasi luar angkasa jauh (deep-space) China, misi Earth 2.0 akan mengirim serangkaian teleskop ke orbit L2 Bumi-Matahari untuk mengeksplorasi planet-planet mirip Bumi yang dapat dihuni di luar tata surya.Wang juga menyebut proyek Enhanced X-ray Timing and Polarimetry (eXTP), yang akan meluncurkan muatan ke orbit sangat elips (highly elliptical orbit/HEO) untuk mengeksplorasi benda-benda angkasa yang masih misterius seperti lubang hitam dan bintang neutron.Proyek eXTP telah menjangkau para ilmuwan dari lebih dari 20 negara, termasuk Italia, Jerman, dan Prancis, dengan tawaran untuk bekerja sama.Menurut Wang, China juga diperkirakan akan meluncurkan sejumlah satelit seperti Taiji-2 ke orbit Matahari untuk membentuk konstelasi dengan Taiji-1, yang dikirim ke luar angkasa pada 2019, dan melakukan deteksi gelombang gravitasi di luar angkasa.Ilmuwan antariksa Prancis Pierre-Yves Meslin menguraikan kemajuan Detection of Outgassing RadoN (DORN), instrumen ilmiah yang dikembangkan oleh para ilmuwan Prancis dan dibawa oleh wahana pendarat (lander) Chang'e-6 milik China, serta memuji keberhasilan kerja sama antara Prancis dan China.Sebuah konsorsium ilmuwan dari China, Prancis, dan Rusia juga mempresentasikan temuan dan perspektif terbaru mereka di bidang ilmu pengetahuan antariksa pada pertemuan tersebut.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Operator tenaga nuklir China luncurkan ladang angin lepas pantai
Indonesia
•
01 Jan 2022

Ilmuwan China kembangkan serat aerogel yang terinspirasi bulu beruang kutub
Indonesia
•
23 Dec 2023

Studi: Dinosaurus punah karena hantaman komet
Indonesia
•
16 Feb 2021

Laporan ungkap buruknya kondisi kesehatan sungai di Inggris
Indonesia
•
15 Jun 2024
Berita Terbaru

Rusia luncurkan amunisi peledak jarak jauh 30 mm untuk cegat ‘drone’
Indonesia
•
07 Feb 2026

Satelit BeiDou sediakan layanan komunikasi darurat tanpa cakupan seluler
Indonesia
•
07 Feb 2026

24.000 kematian di AS terkait dengan polusi asap karhutla
Indonesia
•
07 Feb 2026

Jumlah warga Australia pengidap demensia ‘onset’ dini akan meningkat 40 persen pada 2054
Indonesia
•
06 Feb 2026
