
Peneliti peringatkan risiko kanker tersembunyi dalam strategi pengobatan perlemakan hati populer

Ilustrasi. (julien Tromeur on Unsplash)
Hilangnya enzim Caspase-2 memicu pertumbuhan abnormal pada sel hati, memicu peradangan, fibrosis, dan peningkatan risiko kanker hati yang signifikan.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Memblokir enzim seluler utama, pendekatan yang dianggap dapat memberikan perlindungan dari penyakit perlemakan hati, justru dapat meningkatkan risiko kerusakan hati kronis dan kanker seiring bertambahnya usia, demikian diperingatkan para peneliti Australia pada Selasa (13/1).
Diterbitkan dalam jurnal Science Advances, studi ini menemukan bahwa hilangnya enzim Caspase-2 memicu pertumbuhan abnormal pada sel hati, memicu peradangan, fibrosis, dan peningkatan risiko kanker hati yang signifikan, menurut pernyataan pers dari Universitas Adelaide, Australia.
Temuan ini menantang minat yang semakin besar terhadap inhibitor Caspase-2 sebagai strategi terapeutik potensial untuk mengobati dan/atau mencegah penyakit perlemakan hati serta menyoroti perlunya kehati-hatian saat menargetkan jalur ini, menurut pernyataan tersebut.
Caspase-2 memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas genetik sel hati sekaligus memiliki peran independen dalam mengontrol kadar lemak dalam hati, kata peneliti utama Loretta Dorstyn dari Pusat Biologi Kanker (Center for Cancer Biology).
"Sel-sel hati biasanya memiliki salinan materi genetik ekstra, yang dikenal sebagai poliploidi, dan meskipun elemen ini dapat membantu hati mengatasi stres, studi kami menunjukkan bahwa tanpa enzim Caspase-2, tingkat poliploidi yang tinggi secara tidak normal pada hati dapat memicu kerusakan," ujar Dorstyn.
Pada tikus yang kekurangan enzim ini, atau memiliki versi enzim yang tidak lagi berfungsi, sel-sel hati memiliki ukuran yang besar secara tidak normal dengan jumlah kerusakan genetik dan selular yang berlebihan, kata para peneliti.
"Seiring berjalannya waktu, tikus-tikus ini mengalami peradangan hati kronis dan karakteristik penyakit hati yang menyerupai hepatitis, termasuk jaringan parut, kerusakan oksidatif, dan jenis kematian sel yang dikaitkan dengan peradangan," ujar Dorstyn, seraya menambahkan bahwa hewan-hewan yang sudah menua lebih mungkin terkena kanker hati.
Penelitian itu juga menunjukkan bahwa tikus yang sudah menua dan kekurangan enzim Caspase-2 yang berfungsi mengalami tumor hati secara spontan pada tingkat yang jauh lebih tinggi dibandingkan tikus normal, dengan insidensi kanker hati hingga empat kali lipat, yang merupakan karakteristik karsinoma hepatoseluler.
Temuan ini membantah asumsi bahwa menghambat Caspase-2 bermanfaat secara universal, menunjukkan bahwa enzim ini penting untuk menghilangkan sel-sel hati yang rusak seiring bertambahnya usia, dan tanpa enzim ini, sel-sel tersebut akan menumpuk dan memicu kanker, kata Dorstyn.
Para penulis mengatakan bahwa penelitian ini memiliki implikasi penting bagi pengembangan obat.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

‘Remote control’ TV Samsung tak perlu baterai, isi daya sendiri dari sinyal Wi-Fi
Indonesia
•
05 Jan 2022

Sampel Chang'e-6 buktikan kawah tumbukan tertua di Bulan terbentuk 4,25 miliar tahun silam
Indonesia
•
23 Mar 2025

Indonesia terapkan pembelajaran jarak jauh nuklir
Indonesia
•
25 Sep 2019

Studi: Genangan air di lahan basah di lahan basah pengaruhi siklus karbon global
Indonesia
•
07 Oct 2025


Berita Terbaru

Setelah bertahun-tahun menyusut, massa es Antarktika mendadak bertambah 695 miliar ton, apa yang sebenarnya terjadi?
Indonesia
•
23 Aug 2026

Cahaya langsung jadi token: Terobosan cip ini bikin AI lebih cepat dan hemat energi
Indonesia
•
23 Aug 2026

Kanker payudara paling agresif punya titik lemah? Ilmuwan temukan petunjuknya
Indonesia
•
23 Aug 2026

Tesla pakai AI China Doubao, bisa diajak ‘ngobrol’ dan ‘nyanyi’
Indonesia
•
20 Aug 2026
