
Cahaya langsung jadi token: Terobosan cip ini bikin AI lebih cepat dan hemat energi

Ilustrasi. (Brian Kostiuk on Unsplash)
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh peneliti China mengembangkan jenis cip penglihatan baru yang secara langsung mengubah cahaya menjadi token, memangkas beberapa tahap pemrosesan yang biasanya mengonsumsi daya dan memperlambat kinerja.
Studi yang dilakukan bersama oleh Universitas Nanjing dan Universitas Nasional Singapura tersebut telah diterbitkan pada Rabu (19/8) di jurnal Nature Sensors.
Berbeda dengan sensor konvensional, yang menangkap cahaya lalu mendigitalkannya, melakukan buffer, kemudian mentransfer data sebelum menghasilkan token, perangkat baru ini melakukan konversi tersebut di ranah fisik.
Cip ini dilengkapi dengan serangkaian piksel khusus yang masing-masing mampu mendeteksi cahaya secara serempak, menyimpan data secara lokal, dan melakukan komputasi. Sirkuit periferal pada cip tersebut dapat mengaktifkan wilayah piksel secara selektif untuk membagi sebuah citra menjadi beberapa blok.
Terhadap setiap blok yang dipilih, urutan tegangan tertentu diterapkan, sehingga informasi optik yang disimpan bisa melakukan operasi matematis secara langsung dalam ranah analog, dengan arus output berfungsi sebagai token.
"Cip ini secara fisik meniadakan proses perpindahan data, yang merupakan sumber utama pemborosan energi," ujar Liang Shijun, seorang profesor di Universitas Nanjing. "Begitu cahaya masuk, token dihasilkan," jelasnya.
Pendekatan ini, yang disebut sebagai "tokenisasi fisik," mengubah cip tersebut dari perekam gambar pasif menjadi penghasil visual-semantik yang aktif, ujar Liang.
Dalam pengujian, sistem yang menggunakan cip tersebut mencapai akurasi pengenalan gambar hingga 87,3 persen, mendekati tolok ukur perangkat lunak konvensional, serta meningkatkan efisiensi energi lebih dari 10 kali lipat selama tahap tokenisasi, tambahnya.
"Desain ini membalikkan urutan tradisional 'penginderaan-buffer-komputasi' dan membuka jalan baru untuk mengatasi hambatan daya dan komputasi pada Edge AI di era pasca-Moore," ujar Miao Feng, seorang profesor di Universitas Nanjing.
Dia menambahkan bahwa teknologi tersebut dapat menyediakan fondasi penglihatan yang sangat efisien dengan latensi hampir nol untuk kecerdasan berwujud (embodied intelligence), drone, serta keamanan pintar, sekaligus mempercepat penerapan AI fisik dalam skala besar.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Empat ilmuwan dunia dianugerahi penghargaan Shaw Prize pada 2024
Indonesia
•
23 May 2024

Survei garis salju tunjukkan gletser Selandia Baru terus susut
Indonesia
•
27 Mar 2024

Pusat peluncuran pesawat luar angkasa komersial pertama China siap beroperasi
Indonesia
•
02 Jul 2024

Wahana antariksa China Chang'e-6 dijadwalkan diluncurkan pada paruh pertama 2024
Indonesia
•
11 Jan 2024


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
