
Studi sebut penderita Long COVID alami perubahan pada fungsi otak

Seorang pria yang mengenakan masker terlihat di sebuah jalan di Washington DC, Amerika Serikat, pada 16 Desember 2022. (Xinhua/Ting Shen)
Penderita Long COVID yang mengalami kabut otak (brain fog), masalah memori, atau gejala neuropsikiatri lainnya selama berbulan-bulan setelah didiagnosis tertular COVID-19 ternyata diketahui memiliki aktivitas otak yang tidak normal saat tes memori dalam pencitraan resonansi magnetik (magnetic resonance imaging/MRI) fungsional.
Los Angeles, AS (Xinhua) – Penderita Long COVID ditemukan memiliki aktivitas otak yang tidak normal, demikian menurut sebuah studi baru yang dilakukan oleh para peneliti di University of Maryland School of Medicine (UMSOM).Penderita Long COVID yang mengalami kabut otak (brain fog), masalah memori, atau gejala neuropsikiatri lainnya selama berbulan-bulan setelah didiagnosis tertular COVID-19 ternyata diketahui memiliki aktivitas otak yang tidak normal saat tes memori dalam pencitraan resonansi magnetik (magnetic resonance imaging/MRI) fungsional, menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neurology.Long COVID yang disertai dengan gejala neurologis dikaitkan dengan aktivitas yang lebih sedikit di area otak tertentu yang biasanya digunakan untuk tugas memori, namun ditemukan lebih banyak aktivitas di area otak lainnya, menurut para peneliti."Aktivitas yang lebih besar terjadi di luar jaringan otak memori kerja normal. Kami sering melihat perubahan seperti ini pada pasien yang mengalami cedera otak. Defisit dalam default mode network (DMN) otak menyebabkan peningkatan aktivitas di daerah lain untuk membantu mempertahankan fungsi otak," kata pemimpin studi Linda Chang, profesor radiologi diagnostik dan kedokteran nuklir di UMSOM."Meski penelitian kami tidak membuktikan bahwa COVID menyebabkan perubahan otak ini, tampaknya ada hubungan yang kuat antara perubahan ini dan gejala neuropsikiatri yang bertahan lama," katanya.Tim peneliti melakukan pemindaian MRI fungsional pada 29 pasien yang sebelumnya mengidap COVID-19 selama rata-rata tujuh bulan. Sembilan dari mereka dirawat di rumah sakit karena penyakit mereka.Setiap pasien memiliki setidaknya satu gejala neuropsikiatri yang terus berlanjut seperti kehilangan ingatan, depresi, atau kecemasan.Kelompok studi tersebut dipasangkan dengan kelompok kontrol yang terdiri dari 21 orang yang tidak memiliki riwayat infeksi COVID yang diketahui.Kelompok orang yang menderita Long COVID memang memiliki skor yang lebih buruk pada tes ketangkasan dan daya tahan motorik dibandingkan kelompok non-COVID. Mereka juga melaporkan lebih banyak perasaan negatif, seperti amarah dan kesedihan, serta tingkat stres yang lebih tinggi, dan memiliki skor kepuasan hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah terkena COVID.Selain itu, mereka memiliki skor yang lebih tinggi untuk depresi, kecemasan, kelelahan, dan nyeri dibandingkan kelompok kontrol, menurut penelitian tersebut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Sampel eksperimen ilmiah baru dari stasiun luar angkasa China tiba di Bumi
Indonesia
•
02 Nov 2023

China perkenalkan pakaian luar angkasa untuk pendaratan Bulan pertama
Indonesia
•
29 Sep 2024

Ilmuwan Australia kembangkan biosensor ‘microneedle’ untuk pantau kesegaran ikan secara waktu nyata
Indonesia
•
05 Dec 2025

China tingkatkan fasilitas Shanghai Synchrotron Radiation Facility
Indonesia
•
17 May 2024


Berita Terbaru

China bantah AI-nya “meniru” AS: Kami membangunnya dengan kekuatan sendiri
Indonesia
•
10 Sep 2026

XPeng mulai produksi massal robot humanoid, IRON siap dijual ke dunia pada 2027
Indonesia
•
09 Sep 2026

Makam berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir
Indonesia
•
09 Sep 2026

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026
