Peneliti China kembangkan elastomer ‘printable’ 3D dengan ketangguhan tingkat tinggi

Seorang karyawan perusahaan instrumen presisi yang berbasis di Nanjing menunjukkan teknologi pencetakan tiga dimensi (3D) di China-Eurasia Expo kedelapan di Urumqi, Daerah Otonom Etnis Uighur Xinjiang, China barat laut, pada 28 Juni 2024. (Xinhua/Li Renzi)
Pencetakan 3D muncul sebagai teknik manufaktur yang menarik karena kebebasan tingkat tinggi yang dimilikinya dalam mengakses produk yang dapat dikustomisasi dan kompleks dari segi geometri. Namun, potensinya untuk produksi massal terhambat oleh kecepatan pencetakannya yang rendah dan sifat mekanisnya yang tidak memadai.
Beijing, China (Xinhua) – Tim peneliti dari Universitas Zhejiang berhasil mengembangkan elastomer yang dapat dicetak (printable) tiga dimensi (3D) dengan kekuatan dan ketangguhan tingkat tinggi, menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature.Pencetakan 3D muncul sebagai teknik manufaktur yang menarik karena kebebasan tingkat tinggi yang dimilikinya dalam mengakses produk yang dapat dikustomisasi dan kompleks dari segi geometri. Namun, potensinya untuk produksi massal terhambat oleh kecepatan pencetakannya yang rendah dan sifat mekanisnya yang tidak memadai.Kemajuan terkini dalam pencetakan fotopolimer 3D ultracepat telah mengatasi masalah efisiensi produksi. Meski demikian, performa mekanis dari polimer cetak pada umumnya masih jauh tertinggal dari apa yang dapat dicapai dengan teknik pemrosesan konvensional."Untuk membuat teknologi pencetakan 3D dapat beradaptasi dengan lebih banyak skenario, sifat dari materialnya perlu diubah," jelas Fang Zizheng, seorang peneliti dari universitas itu.Para peneliti mengembangkan kimia resin foto 3D printable yang dapat menghasilkan elastomer dengan kekuatan tarik 94,6 MPa dan ketangguhan 310,4 MJ m-3, yang keduanya jauh melebihi elastomer cetak 3D mana pun.Tim peneliti mencetak karet gelang menggunakan material baru ini dan melakukan uji ketahanan terhadap benda itu. Eksperimen itu menunjukkan bahwa karet gelang tersebut dapat diregangkan hingga sembilan kali panjang aslinya dan tahan terhadap kekuatan tarik sebesar 94 MPa tanpa mengalami kerusakan.Selain itu, para peneliti menggunakan material tersebut untuk membuat benda-benda seperti balon dengan ketahanan terhadap tusukan yang sangat baik.Penelitian ini menandai terobosan dalam mengatasi keterbatasan material dalam teknologi pencetakan 3D, membawa harapan baru untuk penerapan skala besar dalam manufaktur produk berkinerja tinggi, menurut Wu Jingjun, seorang profesor dari universitas tersebut.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Riset: Long COVID berkaitan dengan kadar oksigen otak yang lebih rendah
Indonesia
•
04 Mar 2023

Raksasa produk susu China Yili raih penghargaan berkat praktik inovasi
Indonesia
•
03 Nov 2024

Taiwan tambah 3 patahan aktif jadi 36
Indonesia
•
07 Jan 2022

Suhu di Rusia -21 derajat Celsius, pecahkan rekor tahun 1893
Indonesia
•
07 Dec 2021
Berita Terbaru

Kesendirian berlebihan bisa picu gangguan kecemasan
Indonesia
•
04 Feb 2026

Studi ungkap Jupiter ternyata lebih kecil dan lebih pipih dari perkiraan sebelumnya
Indonesia
•
03 Feb 2026

Pankreas buatan bantu pengidap diabetes akhiri injeksi insulin harian
Indonesia
•
03 Feb 2026

Vaksin personalisasi pertama di dunia untuk kanker otak anak yang mematikan dalam tahap uji klinis
Indonesia
•
03 Feb 2026
