
Pemimpin UE waspada arus migrasi, serukan deeskalasi di Timur Tengah

Warga mengikuti pawai massal untuk memperingati Hari Quds Internasional di Teheran, ibu kota Iran, pada 13 Maret 2026. (Xinhua)
Krisis migrasi 2015, yang terjadi setelah perang di Suriah serta ketidakstabilan di Afghanistan dan Irak, menyebabkan lebih dari satu juta pengungsi dan migran memasuki Eropa. Hal ini membebani sistem perbatasan dan suaka, memicu keadaan darurat, serta memperdalam perpecahan politik di dalam Uni Eropa.
Brussel, Belgia (Xinhua/Indonesia Window) – Para pemimpin Uni Eropa (UE) pada Kamis (19/3) berkomitmen untuk terus waspada terhadap segala dampak limpahan dari konflik di Timur Tengah yang berpotensi memicu tekanan migrasi pada blok tersebut, seiring konflik itu menimbulkan risiko yang kian besar bagi Eropa.
Meskipun konflik tersebut "belum menciptakan arus migrasi langsung ke UE," para pemimpin dalam pertemuan Dewan Eropa menegaskan "pentingnya mempertahankan tingkat kewaspadaan yang tinggi dan memastikan tingkat kesiapan yang diperlukan," menurut kesimpulan yang diadopsi usai pertemuan puncak itu.
Dengan mengambil pelajaran dari krisis migrasi 2015, blok tersebut menyatakan siap untuk "memobilisasi sepenuhnya perangkat diplomatik, hukum, operasional, dan keuangan mereka" guna mencegah pergerakan migrasi ke Uni Eropa serta menjaga keamanan di Eropa. "Keamanan dan pengendalian perbatasan eksternal UE akan terus diperkuat," demikian bunyi kesimpulan tersebut.
Para pemimpin juga menyerukan deeskalasi dan menahan diri sepenuhnya dalam konflik di Timur Tengah, serta mendesak semua pihak untuk sepenuhnya menghormati hukum internasional dan mendukung moratorium serangan terhadap fasilitas energi dan air.
Sambil berupaya memperkuat posisi maritim Uni Eropa, para pemimpin menekankan bahwa aset tambahan perlu dikerahkan untuk memperkuat dua operasi keamanan maritim yang sudah ada, yaitu EUNAVFOR Aspides dan EUNAVFOR Atalanta.
EUNAVFOR Aspides dan EUNAVFOR Atalanta merupakan operasi militer Uni Eropa yang bertujuan menjaga keamanan maritim, dengan area operasi gabungan mencakup Laut Merah, Samudra Hindia, dan kawasan Teluk.
Krisis migrasi 2015, yang terjadi setelah perang di Suriah serta ketidakstabilan di Afghanistan dan Irak, menyebabkan lebih dari satu juta pengungsi dan migran memasuki Eropa. Hal ini membebani sistem perbatasan dan suaka, memicu keadaan darurat, serta memperdalam perpecahan politik di dalam Uni Eropa.
Dalam pertemuan Dewan Eropa pada Kamis tersebut, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mendesak Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk mengakhiri perang dengan Iran, serta mendesak untuk menggunakan diplomasi sebagai pengganti aksi militer.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

PM Kanada sebut negaranya akan akui Negara Palestina pada September
Indonesia
•
02 Aug 2025

Belum ada kesepakatan yang difinalisasi dengan AS, Iran tegaskan hak kelola Selat Hormuz
Indonesia
•
30 May 2026

Survei: Terorisme domestik dan kekerasan bermotif politik jadi ancaman terbesar di AS pada 2024
Indonesia
•
07 Jan 2024

Petani Prancis tetap gelar aksi unjuk rasa kendati sudah dijanjikan bantuan baru
Indonesia
•
01 Feb 2024


Berita Terbaru

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026

Kolombia diguncang gempa bermagnitudo 7,4, korban tembus 111 orang
Indonesia
•
11 Aug 2026
