Pemerintah kembangkan “green fuel” di sentra kelapa sawit

Pemerintah kembangkan “green fuel” di sentra kelapa sawit
Petani sawit. Pemerintah tengah menggandeng Pertamina untuk mengembangkan green fuel (bahan bakar berbahan nabati) secara "co-processing" di kilang-kilang minyak perusahan negara tersebut yang berada di sentra kelapa sawit. (Kementerian ESDM)

Jakarta (Indonesia Window) – Pemerintah tengah menggandeng Pertamina untuk mengembangkan green fuel (bahan bakar berbahan nabati) secara co-processing di kilang-kilang minyak perusahan negara tersebut yang berada di sentra kelapa sawit.

Co-processing merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk memproduksi green fuel melalui proses pengolahan bahan baku minyak nabati dengan minyak bumi secara bersamaan.

Pengembangan green fuel juga akan dilakukan dengan membangun kilang baru (stand-alone) yang khusus memproduksi bahan bakar ramah lingkungan itu, ujar Direktur Bioenergi pada Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Andriah Feby Misna, di Jakarta pada Sabtu (18/7) dalam pernyataan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Produk green fuel mempunyai karakterisitik yang mirip dengan bahan bakar berbasis fosil, bahkan untuk beberapa parameter kualitasnya jauh lebih baik dari fossil fuel,” jelas Feby.

Dia menambahkan, saat ini pemerintah terus mendorong pemanfatatan bahan bakar nabati dengan melakukan uji coba untuk produk B40 dan mengembangkan Green Diesel (D100), Green Gasoline (G100) dan Green Jet Avtur (J100) yang berbasis Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah.

Green Diesel atau Diesel Biohydrocarbon memliliki keunggulan dibandingkan minyak solar berbasis fosil dan biodiesel berbasis FAME (Fatty Acid Methyl Ester).

Green Diesel memiliki angka setana (cetane number) relatif lebih tinggi, kandungan sulfur lebih rendah, stabilitas oksidasi juga lebih baik, serta warna yang lebih jernih.

“Pertamina telah berhasil menginjeksikan Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) pada unit Distillate Hydrotreating Refinery Unit (DHDT) di beberapa kilang dengan menggunakan katalis Merah-Putih hasil karya tim dari ITB (Institut Teknologi Bandung),” terang Feby.

Untuk Refinery Unit (RU) II di Dumai, Provinsi Riau, lanjut Feby, Pertamina juga melakukan uji coba secara bertahap yang dimulai dengan campuran 7,5 persen, 12,5 persen hingga 100 persen CPO.

“Kita patut memberikan apresiasi atas keberhasilan Pertamina memproduksi green diesel dengan bahan baku 100 persen CPO. Harapannya uji coba ini bisa dilanjutkan di kilang-kilang lainnya dan diterapkan secara terus menerus sehingga kita benar-benar bisa mandiri dalam menghasilkan bahan bakar minyak yang ramah lingkungan dengan bahan baku dari dalam negeri,” ujar Feby.

Dalam rangka menyamakan persepsi tentang produk-produk bahan bakar nabati, saat ini pemerintah sedang menyusun usulan nomenklatur untuk bahan bakar nabati, yaitu Biodiesel dengan kode B100, Bioetanol (E100), Bensin Biohidrokarbon (G100), Diesel Biohidrokarbon (D100), Avtur Biohidrokarbon (J100).

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here