
Pemerintah Afghanistan tolak ancaman AS terkait Pangkalan Udara Bagram, desak patuhi Perjanjian Doha

Foto yang diabadikan pada 2 Juli 2021 ini menunjukkan Pangkalan Udara Bagram di Provinsi Parwan, Afghanistan timur, yang berfungsi sebagai pangkalan utama pasukan Amerika Serikat (AS) dan NATO, setelah semua pasukan AS dan NATO dievakuasi. (Xinhua/Sayed Mominzadah)
Pemerintah Afghanistan menolak tegas seruan terbaru Amerika Serikat untuk merebut kembali Pangkalan Udara Bagram, yang menjadi pusat operasi AS dan NATO dalam perang yang berlangsung selama dua dekade.
Kabul, Afghanistan (Xinhua/Indonesia Window) – Pemerintah Afghanistan menolak tegas seruan terbaru Amerika Serikat (AS) untuk merebut kembali Pangkalan Udara Bagram, menegaskan komitmen kuatnya terhadap kedaulatan nasional, dan mendesak Washington untuk menghormati kesepakatan dalam Perjanjian Doha 2020 untuk tidak melakukan campur tangan militer, menurut pernyataan yang dirilis pada Ahad (21/9)."Sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dan berlandaskan pada kebijakan luar negeri yang seimbang serta berorientasi pada ekonomi, Emirat Islam Afghanistan berupaya menjalin hubungan konstruktif dengan semua negara berdasarkan kepentingan bersama dan saling menguntungkan," papar Hamdullah Fitrat, wakil juru bicara pemerintah Afghanistan, dalam sebuah pernyataan yang diunggah di akun X resminya.Namun, pernyataan tersebut menyoroti bahwa kemerdekaan dan integritas teritorial Afghanistan tetap menjadi prioritas utama dalam semua hubungan bilateral, terutama dengan AS. "Perlu diingat bahwa, berdasarkan Perjanjian Doha, AS berjanji 'tidak akan menggunakan atau mengancam dengan kekuatan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik Afghanistan, serta tidak akan campur tangan dalam urusan dalam negerinya'."Pemerintah Afghanistan menyerukan agar Washington menepati komitmen-komitmen tersebut.Pernyataan itu disampaikan sebagai tanggapan atas pernyataan Presiden AS Donald Trump di London pada Kamis (18/9), saat dia menyatakan niat untuk "merebut kembali" Pangkalan Udara Bagram.Para pejabat Afghanistan langsung mengecam pernyataan tersebut. Mullah Tajmir Jawad, wakil pertama Direktorat Jenderal Intelijen Afghanistan, menanggapi seruan AS yang akan merebut kembali pangkalan udara strategis itu dengan mengatakan bahwa pemerintah Afghanistan akan mempertahankan sistem yang ada saat ini.Pangkalan Udara Bagram, yang terletak sekitar 50 kilometer di utara Kabul, menjadi pusat operasi AS dan NATO dalam perang yang berlangsung selama dua dekade.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ukraina akan minta FIFA untuk larang Iran dari Piala Dunia Qatar karena ‘pelanggaran HAM’
Indonesia
•
03 Nov 2022

Belarus dan Rusia memulai latihan angkatan udara gabungan
Indonesia
•
17 Jan 2023

Denmark: Investigasi awal tunjukkan kebocoran jalur pipa Nord Stream karena ledakan
Indonesia
•
19 Oct 2022

Penyelidikan pidana federal AS terhadap Ketua The Fed Jerome Powell terus bergulir
Indonesia
•
30 Jan 2026


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
