
PBB: Pembangunan berkelanjutan cara menuju perdamaian bertahan lama

Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Amina Mohammed (tengah) berbicara pada pertemuan Dewan Keamanan tentang Haiti di Markas Besar PBB di New York pada 21 Desember 2022. (Xinhua/UN Photo/Manuel Elias)
Pembangunan inklusif dan berkelanjutan tanpa meninggalkan seorang pun sangatlah penting, dan merupakan satu-satunya alat yang dapat diandalkan yang dapat menembus siklus ketidakstabilan guna mengatasi penyebab utama dari kerapuhan dan kebutuhan kemanusiaan.
PBB (Xinhua) – Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Amina Mohammed pada Kamis (26/1) mengatakan bahwa pembangunan berkelanjutan adalah satu-satunya cara untuk menciptakan perdamaian yang dapat bertahan lama."Hanya ada satu jalan menuju perdamaian yang dapat bertahan lama, menuju perdamaian yang dapat bertahan dari berbagai krisis di zaman kita. (Jalan) itu adalah jalan pembangunan berkelanjutan," tuturnya dalam debat terbuka Dewan Keamanan PBB tentang investasi untuk masyarakat guna meningkatkan ketahanan melawan tantangan-tantangan yang kompleks."Pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan tanpa meninggalkan seorang pun itu sendiri sangatlah penting. Ini juga merupakan alat pencegahan utama bagi umat manusia. Ini adalah satu-satunya alat yang dapat diandalkan yang dapat menembus siklus ketidakstabilan guna mengatasi penyebab utama dari kerapuhan dan kebutuhan kemanusiaan," katanya.Investasi dalam pembangunan, rakyat, keamanan manusia, kemakmuran bersama, juga merupakan investasi dalam perdamaian. Namun, investasi pada beberapa tahun terakhir mengalami kemerosotan, kata wakil sekjen PBB itu memperingatkan.Sejak merebaknya pandemik COVID-19, berjuta-juta orang lagi, lebih dari 200 juta lagi, telah jatuh ke dalam kemiskinan. Tambahan 820 juta orang mengalami kelaparan. Lebih banyak lagi wanita dan anak-anak perempuan yang haknya diinjak-injak, dihapus dari kehidupan publik dan kehidupan pribadi mereka dibatasi, paparnya.Sistem keuangan global memperburuk situasi di negara-negara berkembang, dan banyak perekonomian yang gagal melayani sebagian besar warga negaranya, kecuali bagi segelintir elite saja, imbuhnya."Tantangan-tantangan itu bukan sekadar masalah pembangunan. Semua itu menjadi ancaman bagi koeksistensi perdamaian kita," katanya. "Defisit pembangunan menyebabkan rasa ketidakadilan, merusak institusi, membuat permusuhan dan intoleransi berkembang dengan cepat. Ketika kita gagal memenuhi kebutuhan pembangunan pada zaman kita ini, maka kita gagal mengamankan perdamaian untuk masa depan kita."Tiga krisis planet, yakni hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, dan polusi, tidak hanya mengancam lingkungan. Hal itu juga dapat menjadi ancaman karena dapat menimbulkan kekuatan destruktif yang mendorong konflik dalam masyarakat, mengikis kohesi sosial, dan memicu ketidakstabilan, ujarnya memperingatkan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Direktur LSPR: Mimpi merupakan kunci awal dalam memulai usaha
Indonesia
•
27 Dec 2019

Maskapai AS laporkan 1.400 lebih kasus penumpang berperilaku buruk sejak Januari 2024
Indonesia
•
31 Aug 2024

Feature – Program WFP hadirkan makanan bergizi bagi siswa-siswa TK di pedesaan China
Indonesia
•
05 Oct 2024

OKI: Kebebasan berekspresi tidak berarti menyerang agama
Indonesia
•
20 Nov 2020


Berita Terbaru

Sambut Hari Museum Internasional, museum-museum di China ramai dikunjungi
Indonesia
•
18 May 2026

Peringati Hari Keluarga Sedunia, Festival Kampung Dongeng digelar di Tangerang
Indonesia
•
18 May 2026

Opini – Transformasi layanan kesehatan berbasis digital: Babak baru pelayanan kesehatan holistik di Taiwan
Indonesia
•
19 May 2026

Menjelajahi kekayaan budaya dunia Arab pada Hari Museum Internasional
Indonesia
•
19 May 2026
