Pembangkit mesin gas uap pertama di Indonesia berkapasitas 136 MW

Pembangkit mesin gas uap pertama di Indonesia berkapasitas 136 MW
Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas Uap (PLTMGU) Lombok Peaker di Nusa Tenggara Barat berkapasitas 136 megawatt (MW) merupakan fasilitas yang pertama di Indonesia. (Kementerian ESDM)

Jakarta (Indonesia Window) – Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas Uap (PLTMGU) Lombok Peaker di Nusa Tenggara Barat berkapasitas 136 megawatt (MW) merupakan fasilitas yang pertama ada di tanah air.

Siaran pers dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dikutip di Jakarta, Rabu menyebutkan bahwa pembangunan PLTMGU yang akan menjadi pembangkit paling ramah lingkungan dan efisien tersebut akan selesai pada pertenghan 2020.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Agung Pribadi menjelaskan, proses pembangunan PLTMGU itu sudah dalam tahap akhir.

Pembangkit yang berlokasi di Tanjung Karang, Mataram itu menjadi pembangkit Combined Cycle pertama di Indonesia yang menggunakan gas engine untuk proses pembakaran.

“Proses pembakaran PLTMGU Lombok Peaker berbeda dengan yang lain. Pembangkit ini menggunakan gas engine, bukan menggunakan gas turbine,” jelas Agung.

Dia menambahkan, PLTMGU tersebut diharapkan dapat menghasilkan listrik secara cepat saat beban puncak dengan sistem komputerisasi. “Kurang lebih sekitar lima menit,” ujar Agung.

Proses

Sementara itu, Manager PLN Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara, Yuyun Mimbar Saputra, menjelaskan proses kerja PLTMGU Lombok Peaker tidak menggunakan batubara, tapi memanfaatkan uap panas hasil dari gas engine.

Proses kerja pembangkit ini, terang dia, mirip dengan yang digunakan pada sepeda motor atau mobil, yaitu jenis mesin pembakaran dalam (spark ignition combustion). Perbedaannya adalah gas engine pada pembangkit tidak memerlukan proses pengabutan karena bahan bakar yang digunakan sudah berbentuk gas.

Selanjutnya, energi panas dan uap dari gas buang hasil pembakaran di gas engine (PLTMG) digunakan untuk menghasilkan uap yang dipakai sebagai fluida kerja pada turbin (PLTU) dengan cara memanaskan air di HRSG (Heat Recovery Steam Generator).

Uap jenuh kering dari hasil HRSG tersebut yang akan digunakan untuk memutar sudu (baling baling) yang selanjutnya menggerakkan turbin, generator dan akhirnya menjadi energi listrik.

“Kolaborasi dari dua sistem dan proses pembakaran PLTMG dan PLTU inilah yang menghasilkan siklus gabungan yang dikenal dengan istilah ‘Combined Cycle’ agar lebih efisien,” jelas Yuyun.

PLTMGU Lombok Peaker juga merupakan pembangkit yang ramah lingkungan karena gas buang sisa pembakaran yang keluar dari cerobong dipantau secara online dengan CEMS (Continuous Emission Monitoring System).

Dengan sistem tersebut, emisi gas buang seperti sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), total partikulat dan kepekatan dapat dipantau secara berkelanjutan.

Tujuan adalah memastikan bahwa emisi yang dihasilkan masih dalam ambang batas yang telah ditetapkan.

Sistem pertukaran panas atau yang lebih dikenal dengan heat exchanger pada PLTMG Lombok Peaker ini pun juga menggunakan media air laut yang diolah terlebih dahulu dan bersirkulasi dalam siklus tertutup.

“Jadi, secara otomatis tidak ada kebisingan yang ditimbulkan oleh radiator yang berfungsi sebagai sistem pendingin dari PLTMG tersebut,” terang Yuyun.

Kapasitas

PLTMGU Lombok Peaker terdiri atas 13 unit pembangkit gas engine yang terbagi menjadi dua blok.

Masing masing unit memiliki kapasitas 9.76 MW. Sehingga total daya yang dihasilkan sebesar 126.88 MW. Sementara itu, 10 MW diperoleh dari pemanfaatan uap panas yang diolah oleh sistem PLTU.

“Jadi PLTU di sini tidak menggunakan batubara, namun memanfaatkan uap panas hasil dari gas engine,” ujar Yuyun.

Pemerintah berharap, PLTMGU Lombok Peaker bisa mendukung pertumbuhan sektor pariwisata, terutama di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here