Opini – Direktur UKW: Wartawan di masa Orde Baru relatif lebih gigih, ketimbang jurnalis era Gen Z

Direktur Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aat Surya Safaat, sedang menyampaikan materi Pra-UKW di Kalimantan Barat belum lama berselang. (Foto: Dok. pribadi)

Persatuan Wartawan Indonesia sejauh ini belum menyiapkan wartawan second track diplomacy, dan untuk itu mengharapkan masukan dari pihak-pihak yang relevan.

 

 

Jakarta (Indonesia Window) – Wartawan di era Orde Baru relatif lebih gigih meski dalam keterbatasan karena kurangnya kebebasan pers yang saat itu seperti ‘diawasi’ pemerintah, kata Direktur Uji Kompetensi Wartawan (UKW), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), periode 2025-2030, Aat Surya Safaat.

“Sedangkan wartawan di era Gen Zet dimanjakan oleh kemajuan teknologi. Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia dalam berkomunikasi dan mengakses informasi,” ungkap Aat Surya Safaat kepada Indonesia Window dalam wawancara tertulis pada Jum’at (6/2).

Perubahan tersebut juga berdampak besar pada dunia jurnalistik, katanya seraya menambahkan, jurnalistik media baru hadir sebagai bentuk adaptasi terhadap kemajuan teknologi internet dan komunikasi digital.

Generasi Z hidup dalam lingkungan informasi yang serba cepat dan mudah diakses, tapi jika wartawan di era ini pandai memanfaatkan teknologi informasi, mereka bisa menjadi wartawan handal.

“Mereka bisa memanfaatkan teknologi digital dan internet dalam seluruh prosesnya, mulai dari pengumpulan, pengolahan, hingga distribusi berita secara cepat, bahkan real-time (seketika), kata direktur UKW tersebut.

Berita yang mereka buat bisa disiarkan melalui berbagai platform secara bersamaan, namun banyaknya informasi yang beredar di media digital menuntut Gen Z untuk memiliki kemampuan literasi media yang baik agar dapat memilah dan menilai kebenaran suatu berita.

“Kualitas wartawan Gen Z harus terus ditingkatkan, termasuk perlunya mereka mengikuti UKW. Dalam konteks ini, peran

jurnalis dan media baru menjadi semakin penting, terlebih dengan hadirnya AI (artificial intelligence/kecerdasan buatan),” dia menjelaskan.

Jurnalis tidak hanya dituntut untuk cepat dalam menyampaikan informasi, tetapi juga harus akurat dan bertanggung jawab. Bagi Generasi Z, jurnalistik media baru bukan hanya sarana memperoleh informasi, tetapi juga merupakan ruang belajar untuk memahami realitas sosial di era digital, tambahnya.

 

Direktur UKW PWI Aat Surya Safaat (tiga dari kanan) beserta sebagian peserta UKW di Kalimantan Barat belum lama berselang. (Foto: Dok. pribadi)

Kode Etik Jurnalistik

Dari pengalama menguji kompetensi wartawan di berbagai daerah, nampak bahwa pada umumnya mereka kurang paham tentang Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan kalaupun paham, umumya mereka kurang mematuhi kode etik tersebut, kata Aat.

“Maka, ketika digelar Pra-UKW yang biasanya dilakukan seminggu sebelum pelaksanaan UKW, mereka manyatakan bersyukur dan berterimakasih atas adanya penjelasan tentang KEJ dari para pemateri Pra-UKW, dan mereka makin menyadari bahwa kode etik adalah guidance (panduan) dari pelaksanaan suatu profesi, termasuk profesi sebagai jurnalis,” tuturnya.

 Wartawan Gen Z pada umumnya sudah memanfaatkan AI dalam pembuatan berita, dalam pengertian, baik sekedar sebagai rujukan maupun sebagai pembanding.

 Menurut Aat, PWI membutuhkan wartawan yang mahir dalam memanfaatkan media sosial seperti instagram, facebook dan lain-lain.

Pemanfaatan media sosial di era konvergensi media saat ini adalah sebuah keniscayaan agar berita yang mereka siarkan dalam berbagai platform itu dapat disebarluaskan secara massif dan efektif, jelasnya.

“Wartawan diharuskan memiliki kemampuan convergence dengan device seperti telepon genggam dengan teknologi yang mampu untuk mendukung pembuatan berita teks, foto dan video sekaligus,” ucapnya.

Caption...

 

Second track diplomacy

Lebih lanjut Aat, yang pernah menjadi kepala biro Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara di New York itu ((1993-1998), mengatakan, Indonesia membutuhkan wartawan yang dapat memperoleh informasi, tidak saja dari dalam negeri, tapi juga luar negeri sehingga memerlukan kemahiran bahasa asing agar mereka dapat menjadi wartawan di second track diplomacy (diplomasi lini kedua).

“Wartawan yang tidak mahir berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris, paling banter mereka nantinya hanya bisa menjadi jago kandang,” tegasnya.

Namun, Aat yang juga pernah menjadi direktur pemberitaan LKBN Antara (2016) itu, mengungkapkan, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sejauh ini belum menyiapkan wartawan second track diplomacy, dan untuk itu mengharapkan masukan dari pihak-pihak yang relevan.

“Kedepannya, PWI diharapkan memiliki pelatihan kompetensi wartawan second track diplomacy, karena hal ini dapat mengangkat citra PWI baik di dalam maupun luar negeri. Untuk itu kami mengharapkan masukan dari pihak-pihak yang relevan,” ucapnya.  

Laporan: Redaksi

 

Bagikan

Komentar

Berita Terkait