Dubes Sudan yakinkan negaranya aman untuk bisnis, undang investasi Indonesia

Duta Besar Sudan untuk Indonesia, Dr. Yasser Mohamed Ali Mohamed, menjawab pertanyaan wartawan usai acara 'press briefing' di kediaman resminya di Jakarta, Rabu (4/2/2026). (Indonesia Window/Ronald Rangkayo)

Sudan dikenal dengan hasil pertaniannya, berupa kacang-kacangan, kedelai, beras, dan lainnya, juga daging sapi yang dihasilkan dari peternakan sapi.

Jakarta (Indonesia Window) - Duta Besar Sudan untuk Indonesia, Dr. Yasser Mohamed Ali Mohamed, meyakinkan negaranya aman untuk berbisnis, meskipun tak menampik konflik yang masih berkecamuk di negara Afrika tersebut.

"Wilayah Sudan sangat luas. Sumber air kami melimpah, dan lahan pertanian juga luas. Sudan dikenal dengan hasil pertaniannya, berupa kacang-kacangan, kedelai, beras, dan lainnya, juga daging sapi yang dihasilkan dari peternakan sapi," ujar Dubes Sudan dalam acara press briefing di kediaman resminya di Jakarta, Rabu.

Indonesia, menurutnya, merupakan salah satu pengimpor terbesar kacang kedelai di dunia, dan di sisi lain memiliki pengalaman dan keahlian terbaik di bidang pertanian.

"Ini semua adalah peluang-peluang yang tersedia dalam membangun kemitraan strategis antara Indonesia dan Sudan di masa mendatang," imbuh Dubes Sudan.

Pada kesempatan tersebut Dubes Yasser Mohamed menguraikan situasi terakhir yang terjadi di Sudan.

"Situasi di wilayah Sudan bagian barat, bagian timur, dan bagian tengah damai. Konflik memang terjadi di beberapa wilayah, namun jaraknya jauh karena Sudan sangat luas, sama seperti wilayah Indonesia," katanya.

Dr. Yasser Mohamed yakin bahwa dengan kemitraan strategis kedua negara, Sudan yang berbatasan langsung dengan Laut Merah di sisi timur, dapat membantu Indonesia dalam mewujudkan tujuan-tujuan dan target pertumbuhan ekonominya.

"Sektor ekonomi halal Indonesia sangat besar. Sementara Sudan mempunyai sumber daya melimpah adalah akses masuk ke negara-negara Afrika. Sudan adalah gerbang untuk menjangkau wilayah Afrika secara keseluruhan,” tuturnya.

Dubes berharap media massa di Indonesia dapat membantu menyadarkan publik tentang Sudan yang banyak berbagai sejarah yang sama dengan Indonesia.

“Media-media massa besar di dunia kini dikuasai oleh Israel dan kekuatan Barat yang selalu memberitakan bahwa Sudan penuh dengan perang dan kelaparan. Faktanya tidaklah demikian. Sudan memiliki sumber daya yang melimpah,” jelas Dr. Yasser Mohamed.

Dia melanjutkan, salah satu fragmen sejarah yang menyambungkan antara negara Afrika tersebut dan Indonesia di kawasan Asia Tenggara adalah seorang tokoh besar bernama Syeikh Ahmad Surkati (1875-1943) yang lahir di Udfu, Dongola, Sudan. 

Pada Oktober 1911, Syekh Ahmad Surkati tiba di Batavia untuk memenuhi undangan Jamiat Kheir di Batavia (tepatnya di Pekojan, Jakarta) yang mengundang guru-guru dari tanah Hijaz guna mengajar agama Islam, khususnya Al-Qur’an.

“Sheikh Ahmad Surkati juga mendukung perjuangan rakyat Indonesia melawan kolonialisme Belanda,” ujar Dubes Sudan, seraya menambahkan, tokoh Islam asal Afrika tersebut wafat dan dimakamkan di Indonesia, menjadikannya “Duta besar pertama Sudan untuk Indonesia.”

Sejumlah media massa menyebutkan, konflik di Sudan pecah pada 15 April 2023, dengan bentrokan terjadi di ibu kota, Khartoum, antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) danparamiliter Pasukan Pendukung Cepat (RSF). Konflik ini meletus akibat perebutan kekuasaan antara pemimpin SAF Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan pemimpin RSF Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti) terkait restrukturisasi militer dan transisi menuju pemerintahan sipil.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait