
NASA tetapkan uji terbang berawak Starliner milik Boeing sebagai kecelakaan level tertinggi

Astronaut NASA Butch Wilmore (kiri) dan Suni Williams terlihat sebelum menaiki wahana antariksa Starliner milik Boeing di Pangkalan Angkatan Antariksa Tanjung Canaveral di Florida, Amerika Serikat, pada 5 Juni 2024. (Xinhua/NASA/Joel Kowsky)
Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (National Aeronautics and Space Administration/NASA) Amerika Serikat (AS) pada Kamis (19/2) merilis laporan investigasi terkait uji terbang berawak CST-100 Starliner milik Boeing, dengan menyebutkan adanya kombinasi kegagalan perangkat keras, kesenjangan kualifikasi, kesalahan kepemimpinan, serta disfungsi budaya yang menciptakan kondisi berisiko yang tidak sesuai dengan standar keselamatan penerbangan antariksa berawak lembaga tersebut.
Akibat kemampuan manuver wahana antariksa itu yang sempat hilang saat awak mendekati Stasiun Luar Angkasa Internasional, serta kerugian finansial terkait, NASA mengklasifikasikan uji terbang tersebut sebagai "kecelakaan tipe A" (type A mishap), level tertinggi dalam sistem pelaporan kecelakaan lembaga itu.
"Wahana antariksa Boeing Starliner menghadapi berbagai tantangan sepanjang misi tanpa awak maupun misi berawak terbarunya," ujar Administrator NASA Jared Isaacman dalam konferensi pers. "Kesulitan teknis yang dialami saat proses penambatan (docking) dengan Stasiun Luar Angkasa Internasional sangatlah jelas."
"Hari ini, kami secara resmi menetapkan insiden ini sebagai kecelakaan tipe A dan memastikan adanya akuntabilitas kepemimpinan agar situasi seperti ini tidak terulang kembali," kata Isaacman, seraya menambahkan bahwa NASA akan bekerja sama dengan Boeing untuk menerapkan langkah-langkah perbaikan sebelum Starliner kembali terbang.
Starliner diluncurkan pada 5 Juni 2024 dalam misi uji berawak pertamanya menuju stasiun luar angkasa tersebut. Awalnya direncanakan sebagai misi yang berlangsung selama delapan hingga 14 hari, penerbangan itu diperpanjang menjadi 93 hari setelah anomali pada sistem propulsi teridentifikasi saat berada di orbit.
Setelah meninjau data penerbangan dan melakukan pengujian di darat, NASA memutuskan untuk mengembalikan wahana antariksa itu tanpa membawa astronaut Butch Wilmore dan Suni Williams. Kapsul tersebut mendarat di White Sands Space Harbor di New Mexico pada September 2024. Kedua astronaut kemudian kembali dengan selamat ke Bumi menggunakan misi SpaceX Crew-9 NASA pada Maret 2025.
NASA membentuk sebuah Tim Investigasi Program independen pada Februari 2025 untuk menelaah faktor teknis, organisasional, dan budaya yang berkontribusi terhadap permasalahan misi tersebut. Laporan investigasi itu diselesaikan pada November 2025.
NASA dan Boeing telah bekerja sama sejak kembalinya Starliner untuk mengidentifikasi dan mengatasi tantangan yang muncul selama misi tersebut, dan upaya pencarian akar permasalahan teknis terus berlanjut.
Para investigator menemukan bahwa kombinasi antara kegagalan perangkat keras dan kelemahan program menciptakan kondisi berisiko yang tidak memenuhi standar keselamatan NASA untuk penerbangan antariksa berawak.
NASA menyatakan pihaknya sedang menerapkan langkah-langkah korektif untuk menindaklanjuti temuan-temuan itu serta memastikan pelajaran yang diperoleh dapat meningkatkan keselamatan misi Starliner di masa mendatang dan program-program lainnya di lembaga tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

NASA dan SpaceX luncurkan misi rotasi kru baru ke ISS
Indonesia
•
03 Aug 2025

Teknologi digital dorong kerja sama perdagangan negara-negara peserta pembangunan bersama Sabuk dan Jalur Sutra
Indonesia
•
12 Oct 2023

COVID-19 – Vaksin Rusia Sputnik V tidak sebabkan efek samping pada 85 persen pasien
Indonesia
•
27 Oct 2020

COVID-19 – Ilmuwan: ‘herd immunity’ terbentuk setelah 3-10 persen populasi terinfeksi
Indonesia
•
06 Oct 2020


Berita Terbaru

Feature – Pabrik alat berat China pelopori upaya menuju produksi nol karbon
Indonesia
•
13 Apr 2026

Platform dokter digital berteknologi AI layani penyakit Parkinson
Indonesia
•
14 Apr 2026

Sayuran berdaun bantu ekstraksi logam beracun dari tanah, tawarkan masa depan pertambangan berkelanjutan
Indonesia
•
14 Apr 2026

Tim Ilmuwan temukan cara baru perkuat ketahanan padi terhadap penyakit mematikan
Indonesia
•
14 Apr 2026
