
Indeks massa tubuh kanak-kanak berkaitan dengan risiko diabetes dan jantung saat dewasa

Ilustrasi. (Joshua Hoehne di Unsplash)
Tingkat BMI di sekitar usia 10 tahun, serta laju pertumbuhan secara keseluruhan dari usia satu hingga 18 tahun, lebih kuat kaitannya dengan risiko diabetes, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung di kemudian waktu.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti di Australia memodelkan cara gen dapat memengaruhi indeks massa tubuh (body mass index/BMI) seorang anak dari waktu ke waktu, yang berpotensi membentuk risiko penyakit jantung atau diabetes tipe 2 di kemudian waktu seiring anak tersebut dewasa.
Para peneliti menggunakan data dari studi jangka panjang bertajuk ‘Children of the 90s’ yang berbasis di Universitas Bristol, Inggris, untuk memahami kontribusi genetik terhadap pola BMI pada 6.291 anak berusia antara satu hingga 18 tahun, ungkap pernyataan Universitas Queensland (UQ), Australia, pada Jumat (20/2).
Dengan menganalisis pertumbuhan anak dari waktu ke waktu, alih-alih pada satu usia tertentu, para peneliti dapat melihat bagaimana faktor genetik memengaruhi laju pertumbuhan anak, kata Wang Geng dari Institut Biosains Molekuler di bawah naungan UQ.
"Orangtua sering khawatir ketika anak mengalami kenaikan berat badan lebih awal atau tumbuh berbeda dari anak lain, namun temuan kami menunjukkan bahwa variasi genetik dapat memengaruhi perubahan tersebut," ujar Wang, penulis utama studi yang telah dipublikasikan di jurnal Nature Communications tersebut.
Wang mengatakan faktor genetik tampaknya memengaruhi pertumbuhan secara berbeda pada setiap tahap kehidupan, dengan seperangkat gen yang berbeda memengaruhi BMI pada masa bayi dan remaja.
"Ketika menggunakan hasil ini untuk mempertimbangkan aspek kesehatan, temuan kami menunjukkan bahwa perbedaan ukuran tubuh pada anak usia dini tidak serta-merta mencerminkan risiko obesitas sepanjang hidup si anak," papar Wang.
Namun, para peneliti menemukan bahwa tingkat BMI di sekitar usia 10 tahun, serta laju pertumbuhan secara keseluruhan dari usia satu hingga 18 tahun, lebih kuat kaitannya dengan risiko diabetes, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung di kemudian waktu.
Nicole Warrington, seorang senior research fellow di UQ, mengatakan bahwa faktor genetik menyumbang sekitar seperempat perbedaan dalam perubahan berat badan anak-anak. Hal ini menekankan perlunya pendekatan yang spesifik berdasarkan usia untuk mencegah obesitas atau memantau pertumbuhan yang sehat.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Studi China tentang biosintesis kitin beri petunjuk pengembangan pestisida hijau
Indonesia
•
23 Sep 2022

Produsen baterai China Gotion luncurkan produk baterai pertama di Thailand
Indonesia
•
08 Dec 2023

Total area budi daya padi hibrida di China bertambah jadi 600 juta hektare
Indonesia
•
13 Oct 2023

Studi: Emisi pembakaran biomassa tingkatkan konsentrasi CO2 global
Indonesia
•
22 Mar 2023


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
