
Model meteorologi berbasis AI hasilkan prakiraan cuaca global yang akurat

Para pengunjung mengamati model AI Pangu-Weather buatan Huawei dalam Konferensi Kecerdasan Buatan Dunia (World Artificial Intelligence Conference/WAIC) 2023 di Shanghai, China timur, pada 6 Juli 2023. (Xinhua/Wang Xiang)
Model meteorologi berbasis AI, Pangu-Weather, hanya membutuhkan waktu 1,4 detik untuk menyelesaikan prakiraan cuaca global 24 jam, termasuk kelembapan potensial, kecepatan angin, suhu dan tekanan permukaan laut, serta nilai-nilai lainnya.
Beijing, China (Xinhua) – Tim peneliti China mengembangkan sebuah model berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan jaringan neural tiga dimensi (3D) untuk prakiraan cuaca global yang akurat dan memiliki rentang sedang, ungkap sebuah artikel penelitian baru di jurnal Nature.Sistem prakiraan saat ini yang paling akurat adalah metode prediksi cuaca numerik (numerical weather prediction/NWP), meskipun secara komputasional terbilang mahal. Prakiraan cuaca harian, peringatan bencana ekstrem, dan prediksi perubahan iklim, semuanya diwujudkan dengan metode NWP yang mengandalkan komputasi performa tinggi dan model fisik yang kompleks.Metode NWP konvensional membutuhkan waktu empat hingga lima jam kalkulasi di klaster superkomputer dengan 3.000 server untuk meramalkan cuaca global 10 hari ke depan, kata Tian Qi, penulis koresponden artikel tersebut sekaligus ilmuwan kepala bidang AI di vendor layanan cloud China, Huawei Cloud.Baru-baru ini, metode-metode berbasis AI menunjukkan potensi dalam mempercepat prakiraan cuaca berdasarkan urutan skalanya. Namun, akurasi prakiraannya masih jauh lebih rendah dibandingkan metode NWP, menurut artikel tersebut.Tim penelitian dan pengembangan (litbang) model meteorologi besar dari Huawei Cloud mengusulkan jaringan neural tiga dimensi yang disesuaikan dengan sistem koordinat Bumi untuk memproses data meteorologi tiga dimensi yang kompleks dan heterogen.Dilatih menggunakan data global yang mencakup kurun hampir 40 tahun, model meteorologi berbasis AI Pangu-Weather yang cukup besar ini memperoleh parameter-parameter berlevel 100 juta dalam waktu dua bulan.Ini menunjukkan hasil prakiraan deterministik yang lebih baik pada analisis ulang data di semua variabel yang diuji bila dibandingkan dengan sistem NWP, sistem peramalan terintegrasi operasional dari Pusat Prakiraan Cuaca Rentang Sedang Eropa, sebut artikel itu.Pangu-Weather hanya membutuhkan waktu 1,4 detik untuk menyelesaikan prakiraan cuaca global 24 jam, termasuk kelembapan potensial, kecepatan angin, suhu dan tekanan permukaan laut, serta nilai-nilai lainnya. Kecepatan prediksinya 10.000 kali lebih cepat daripada metode numerik tradisional.Saat topan super Mawar melanda pada Mei lalu, Pangu-Weather berkinerja sangat baik dengan memprediksi jalur balik lima hari sebelumnya.Bi Kaifeng, penulis pertama artikel penelitian ini, mengakui kekurangan prakiraan cuaca berbasis AI ini. Dia mengatakan bahwa sistem prakiraan tersebut masih sangat bergantung pada analisis ulang data, dan kemampuannya dalam memperkirakan cuaca ekstrem pun masih perlu ditingkatkan."Kami percaya bahwa metode berbasis AI harus berdampingan dengan metode numerik konvensional untuk menyediakan layanan prakiraan cuaca yang lebih akurat dan andal," tutur Tian.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China dorong misi antariksa dengan Eropa di tengah agenda eksplorasi yang ambisius
Indonesia
•
17 Jun 2024

Studi baru ungkap manfaat molekuler dari olahraga untuk proses penuaan yang sehat
Indonesia
•
30 Jun 2025

Dzo hasil kloning sel somatik pertama di dunia lahir di Xizang, China
Indonesia
•
14 Jul 2025

Forum inovasi hijau APEC digelar untuk dorong dekarbonisasi perekonomian APEC
Indonesia
•
14 Nov 2023


Berita Terbaru

OpenAI akan tutup aplikasi video Sora
Indonesia
•
25 Mar 2026

Tes darah kini mampu deteksi kanker stadium dini menggunakan 4 protein utama
Indonesia
•
25 Mar 2026

Lab fisika partikel di Jenewa jadi yang pertama di dunia lakukan pemindahan antimateri
Indonesia
•
25 Mar 2026

Ilmuwan China ungkap alasan nyeri memburuk pada malam hari
Indonesia
•
21 Mar 2026
