
Perancang program antariksa China uraikan cara kerja pendaratan di Bulan masa depan

Foto yang diabadikan di Pusat Kendali Antariksa Beijing di Beijing pada 3 Desember 2020 ini menunjukkan wahana pendaki (ascender) pesawat antariksa Chang'e-5 melayang di atas permukaan Bulan. (Xinhua/Jin Liwang)
Misi pendaratan di Bulan yang dirancang oleh China untuk tahun 2030 terdiri atas pesawat antariksa berawak dan wahana pendarat (lander) ke orbit Bulan yang diluncurkan dalam dua penerbangan terpisah.
Beijing, China (Xinhua) – China sedang membangun sebuah roket untuk menjalankan misi pendaratan di Bulan, yang akan mengirim pesawat antariksa berawak dan wahana pendarat (lander) ke orbit Bulan dalam dua penerbangan terpisah, demikian disampaikan Zhou Jianping, kepala perancang program luar angkasa berawak China.Pesawat luar angkasa tersebut akan mengirim para taikonaut ke orbit Bulan dan menambat ke wahana pendarat Bulan. Lander tersebut kemudian akan membawa para taikonaut ke permukaan Bulan. Setelah mereka menuntaskan tugas di sana, wahana pendaki (ascender) akan membawa para taikonaut kembali ke orbit Bulan untuk bergabung lagi dengan pesawat luar angkasa dan kemudian pulang ke Bumi, kata Zhou dalam sebuah wawancara media.Saat diminta untuk membandingkan dengan penerbangan stasiun luar angkasa berawak, Zhou mengatakan bahwa misi pendaratan di Bulan akan lebih sulit karena menuntut kapasitas angkut kendaraan peluncur yang lebih besar.Untuk mencapai pendaratan di Bulan, kapasitas angkut yang diperlukan, yakni kapasitas pengiriman yang ekuivalen untuk meluncurkan ke orbit Bumi rendah, akan berkisar antara 130 hingga 140 ton, atau 30 hingga 40 persen lebih besar dari yang dibutuhkan untuk meluncurkan keseluruhan kombinasi stasiun luar angkasa China (dengan enam komponen).Meski demikian, Zhou yakin mampu menunaikan tugas tersebut."Saya sangat yakin bahwa China akan mencapai targetnya untuk mendaratkan manusia di Bulan pada 2030 dan mengirim mereka kembali dengan selamat ke Bumi," imbuh Zhou.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim ilmuwan China ungkap rantai sinyal lengkap respons panas padi dan identifikasi gen kunci
Indonesia
•
05 Dec 2025

Saat ASEAN bersiap memasuki era AI, reformasi layanan publik jadi agenda bersama
Indonesia
•
05 Aug 2026

Studi: Kepunahan dinosaurus dimulai 2 juta tahun lebih awal dari yang diyakini sebelumnya
Indonesia
•
24 Sep 2022

Rusia kembangkan sistem navigasi bulan dengan 24 satelit
Indonesia
•
03 Sep 2020


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
