Minyak reli, penarikan persediaan AS kurangi kekhawatiran atas Omicron

Minyak reli, penarikan persediaan AS kurangi kekhawatiran atas Omicron
Ilustrasi. (catmoz on Pixabay)
Advertiser Popin

Jakarta (Indonesia Window) – Harga minyak menguat pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, setelah penarikan persediaan AS yang lebih besar dari perkiraan, mengurangi kekhawatiran tentang kemungkinan pukulan terhadap aktivitas ekonomi dari penyebaran varian virus corona Omicron.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Februari berakhir dengan kenaikan 1,31 dolar AS atau 1,8 persen, menjadi 75,29 dolar AS per barel.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Januari menetap di 72,76 dolar AS per barel, melonjak 1,64 dolar AS atau 2,3 persen.

Persediaan AS turun lebih besar dari yang diperkirakan, dengan stok minyak mentah merosot 4,7 juta barel, meskipun ini sebagian karena pertimbangan pajak akhir tahun yang mendorong perusahaan agar tidak menyimpan barel minyak mentah.

“Kami melihat penurunan produksi, kami melihat persediaan dan minyak mentah turun, sehingga memberikan pasar prospek yang mendukung,” kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group di Chicago. “Karena persediaan di bawah rata-rata, tidak boleh ada kesalahan.”

Pembatasan mobilitas yang didorong oleh virus corona di seluruh dunia menambah kekhawatiran akan penurunan permintaan bahan bakar.

Jerman, Irlandia, Belanda, dan Korea Selatan termasuk di antara negara-negara yang telah menerapkan kembali penguncian (lockdown) sebagian atau penuh, serta langkah-langkah menjaga jarak sosial lainnya dalam beberapa hari terakhir.

Reli pasar minyak mungkin juga didukung sebagian oleh utilitas Eropa yang mengalihkan sumber listrik mereka ke minyak pemanas dari gas alam karena rekor harga tertinggi di benua itu.

“Apa yang kita lihat dalam gas alam di Eropa akan mengarah pada peralihan berkelanjutan dari gas alam ke minyak untuk menghasilkan tenaga listrik,” kata Andrew Lipow dari Lipow Oil Associates di Houston. “Itu permintaan tak terduga yang akan bertahan selama beberapa bulan ke depan.”

Masih belum jelas apakah varian Omicron lebih mematikan daripada Delta, varian yang dominan dalam beberapa bulan terakhir.

Sebuah penelitian dari Afrika Selatan menunjukkan bahwa virus itu lebih kecil kemungkinannya untuk membuat penderita dirawat di rumah sakit daripada Delta.

Kepala Eksekutif Moderna Stephane Bancel mengatakan pada Selasa (21/12) bahwa produsen vaksin tidak memperkirakan masalah dalam mengembangkan suntikan booster guna melindungi masyarakat dari varian Omicron.

Pfizer, salah satu produsen utama vaksin COVID-19 dari Amerika Serikat, mengatakan pil antivirus COVID-19 mereka telah disetujui untuk digunakan di dalam negeri.

Obat ini menargetkan orang-orang yang telah tertular virus dan efektif dalam mengurangi gejala dan rawat inap, kata perusahaan itu.

Laporan: Redaksi

Advertiser Popin

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here