
Minat sains dan matematika di Indonesia masih rendah, harus dimulai sejak usia dini

Ilustrasi. (Anoushka Puri on Unsplash)
Jakarta (Indonesia Window) – Lembaga pendidikan American College of Education menyebut, pendidikan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM) menekankan pemikiran kritis, pemecahan masalah, dan kolaborasi untuk mempersiapkan siswa menghadapi kompleksitas dunia modern.
Dengan memupuk kemampuan analitis dan pemikiran kreatif siswa, pendidikan STEM mempersiapkan generasi muda yang cerdas untuk berbagai karir yang mengatasi tantangan global dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Sayangnya, pendidikan STEM di Indonesia belum menjadi prioritas, dan mungkin ini menjadi alasan sepinya minat generasi muda di Tanah Air untuk menggeluti bidang ini.
Sebelum semunya terlambat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pentingnya penguatan pendidikan anak usia dini (PAUD) melalui pengembangan kompetensi sosial-emosional serta keterampilan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM).
Persoalan ini dibedah dalam EduResearch Webinar bertajuk ‘Bridging Early Childhood Perspectives: Sharing Insights on Social Emotional Learning (SEL) and STEM in Early Childhood Education between Indonesia and Vietnam’, Kamis (18/6).
Webinar yang mempertemukan peneliti dan pendidik dari Indonesia serta Vietnam ini menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai implementasi Social Emotional Learning (SEL) dan STEM dalam pendidikan anak usia dini.
Kepala Pusat Riset Pendidikan BRIN, Trinna Fizzanty, menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini tidak lagi cukup dipahami sebagai tahap pengenalan huruf dan angka semata.
Menurutnya, masa awal kehidupan merupakan periode paling menentukan dalam membangun fondasi pembelajaran sepanjang hayat, kemampuan sosial, kesehatan emosional, serta kesiapan menghadapi tantangan masa depan.
"Kualitas pendidikan anak usia dini bukan hanya tentang mengembangkan kemampuan kognitif, tetapi juga memelihara kesejahteraan emosional, kreativitas, keberagaman, kerja sama, dan inklusi," ujar Trinna.
Pada kesempatan tersebut, Wakil Rektor Fakultas Ilmu Perkembangan Anak Hanoi National University of Education (HNUE), Thao Do, menilai perubahan global dan transformasi digital telah mengubah cara berbagai negara memandang pendidikan anak usia dini.
Menurut Thao, pendidikan anak usia dini tidak lagi sekadar mempersiapkan anak memasuki sekolah dasar, tetapi juga menjadi ruang awal untuk membentuk generasi yang mampu berpikir kritis, berkolaborasi, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Sementara itu, peneliti Pusat Riset Pendidikan BRIN, Soeharto, mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menyiapkan sumber daya manusia di bidang STEM.
Berdasarkan data yang dipaparkannya, proporsi lulusan perguruan tinggi dari bidang STEM di Indonesia baru berkisar antara 4,47 hingga 8,47 persen.
"Angka tersebut masih jauh di bawah beberapa negara Asia seperti Malaysia yang mencapai lebih dari 30 persen, Singapura sekitar 34 persen, dan India yang melampaui 31 persen," jelasnya.
Menurut Soeharto, rendahnya jumlah lulusan STEM tidak dapat dilepaskan dari minimnya pengenalan sains dan teknologi sejak usia dini. Karena itu, STEM perlu dipahami bukan sekadar kumpulan mata pelajaran, melainkan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika untuk menyelesaikan masalah nyata.
"Kita perlu memperkenalkan STEM sebelum anak memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi agar minat dan motivasi terhadap bidang ini tumbuh sejak awal," ujarnya.
Dalam paparannya, Soeharto juga menjelaskan berbagai inovasi pembelajaran yang tengah dikembangkan oleh kelompok risetnya. Salah satunya adalah platform pembelajaran pengkodean (coding) berbasis kecerdasan artifisial (AI) yang dirancang untuk membantu siswa mempelajari pemrograman dengan hambatan yang lebih rendah.
Selain itu, tim peneliti BRIN juga mengembangkan aplikasi numerasi awal bernama AIdurino, yang memperkenalkan konsep angka melalui pendekatan visual dan permainan yang sesuai dengan karakteristik belajar anak usia dini.
Menurut Soeharto, teknologi bukanlah tujuan akhir dalam pendidikan STEM. Teknologi merupakan sarana untuk membangun rasa ingin tahu, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah.
Soeharto menekankan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran STEM yang kontekstual dan bermakna.
Dia mencontohkan tradisi sasi di Maluku, yaitu sistem adat yang mengatur pemanfaatan sumber daya alam secara berkala. Melalui praktik tersebut, anak-anak dapat belajar tentang ekologi, pengukuran, teknologi sederhana, serta prinsip keberlanjutan.
Contoh lainnya adalah proses pembuatan papeda, makanan berbahan dasar sagu yang populer di Indonesia timur. Proses pengolahannya dapat digunakan untuk mengenalkan konsep perubahan bentuk bahan, pemanasan, sifat zat, hingga transformasi fisika dan kimia secara sederhana kepada anak-anak.
"Budaya lokal dan pengetahuan adat dapat memperkaya pembelajaran STEM sehingga lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan anak," ujar Soeharto.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Pembunuhan dan bunuh diri dengan senjata api di AS melonjak selama pandemik
Indonesia
•
06 Apr 2023

Jutaan rumah di Australia terancam akibat naiknya ketinggian air laut
Indonesia
•
16 Sep 2025

IOC konfirmasi debut Olimpiade Esports di Arab Saudi pada 2025
Indonesia
•
26 Jul 2024

Jepang catat rekor penurunan populasi pada 2023
Indonesia
•
28 Feb 2024


Berita Terbaru

Beijing, Shanghai, atau Wuhan? Memilih kota studi di China
Indonesia
•
20 Jun 2026

Ribuan orang terjebak di pegunungan Jepang, ratusan dilaporkan tewas dan hilang
Indonesia
•
18 Jun 2026

Pekerja Singapura pengguna AI paling aktif dan bertanggung jawab di dunia
Indonesia
•
17 Jun 2026

Pacuan kuda tradisional Gayo kembali digelar, jadi simbol solidaritas pascabanjir
Indonesia
•
16 Jun 2026
