
PBB: Kebutuhan kemanusiaan di Gaza masih sangat besar

Sejumlah warga Palestina terlihat tinggal di antara puing-puing rumah yang hancur di Jabalia, Jalur Gaza utara, pada 16 Februari 2025. (Xinhua/Mahmoud Zaki)
Penggunaan taktik mematikan seperti dalam perang selama operasi militer Israel di Gaza menimbulkan kekhawatiran mengenai penggunaan kekuatan yang melebihi standar penegakan hukum.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Kebutuhan di Gaza di tengah pemberlakuan gencatan senjata masih sangat besar, ungkap badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (17/2), seraya menambahkan bahwa operasi Israel yang terus berlanjut di Tepi Barat masih menimbulkan korban jiwa."Seiring PBB dan para mitra kemanusiaannya terus menyalurkan bantuan penyelamat nyawa di seluruh Jalur Gaza, skala kebutuhan masih sangat besar, memerlukan bantuan mendesak dan berkelanjutan," ujar Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA).OCHA mengatakan Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa pasokan oksigen sangat dibutuhkan untuk menjaga layanan darurat, bedah, dan perawatan intensif tetap berjalan di rumah sakit di seluruh Gaza, termasuk Al Shifa dan Al Rantisi di Gaza City. Mitra-mitra kesehatan saat ini melakukan kerja sama dengan sejumlah otoritas untuk menyediakan generator, suku cadang, dan peralatan yang dibutuhkan guna memproduksi oksigen secara lokal.OCHA juga menyebutkan bahwa para mitra dalam hal tempat perlindungan telah mendistribusikan terpal kepada lebih dari 11.000 keluarga di Gaza utara selama akhir pekan. Di Khan Younis, sekitar 450 keluarga menerima perangkat isolasi (sealing-off kits), peralatan dapur, dan peralatan kebersihan di sebuah tempat pengungsian di Al Mawasi.OCHA mengatakan bahwa aktivitas pendidikan semakin berkembang, dengan para mitranya melaporkan bahwa lebih dari 250.000 orang telah terdaftar dalam program pembelajaran jarak jauh yang dibentuk oleh badan bantuan PBB untuk para pengungsi Palestina. Sejumlah mitra kemanusiaan juga melaporkan bahwa 95 persen bangunan sekolah rusak selama konflik berlangsung, memaksa banyak pelajar untuk belajar di tenda-tenda darurat dan ruang terbuka di tengah musim dingin.
Warga Palestina melewati sebuah jalan yang hancur akibat operasi militer Israel di kamp pengungsi Al-Fara'a di Kota Tubas, Tepi Barat, pada 14 Februari 2025. (Xinhua/Ayman Nobani)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

PBB alokasikan bantuan kemanusiaan darurat 100 juta dolar AS untuk tujuh negara
Indonesia
•
22 Feb 2024

Arsitektur kastil Spanyol terinspirasi dari karavanserai pelancong Iran
Indonesia
•
17 Jun 2022

Mongolia Dalam di China utara berhasil atasi penggurunan
Indonesia
•
13 Jan 2023

COVID-19 – Kehidupan di China kembali normal setelah puncak infeksi
Indonesia
•
10 Jan 2023


Berita Terbaru

Feature – Rumah prefabrikasi bantu korban gempa Xizang di China punya hunian nyaman dalam 3 hari
Indonesia
•
27 Oct 2026

Untuk pertama kalinya, demensia jadi penyebab lebih dari 10 persen kematian di Australia
Indonesia
•
27 Oct 2026

Kampung Silat Betawi Rawa Belong diresmikan sebagai Kampung Budaya 2026
Indonesia
•
25 Oct 2026

7 orang hilang usai gedung bertingkat runtuh di Kenya, pencarian berlanjut
Indonesia
•
25 Oct 2026
